Episode73 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode73 Perjodohan Membawa Bahagia
“Ceritanya panjang. Jadi, aku tidak bisa menceritakannya padamu, istriku sayang.”
Brian berucap sambil menyentuh dagu Kania pelan.
“Brian. Jangan buat
aku mati penasaran. Ayo katakan sekarang! Dari mana kamu mendapatkan sertifikat
berharga ini?”
“Jika ingin tahu, maka
kamu harus menebusnya dengan sebuah ciuman.”
Kania melotot karena
kata-kata yang Brian ucapkan barusan. Ia merasa, Brian sedang berusaha mencari
kesempatan dalam kesempitan. Tapi … hatinya sangat amat penasaran.
"Jika kamu tidak
menjawab, aku artikan dengan kata setuju. Dan … "
Brian langsung menarik
Kania dan mencium bibir Kania dengan lembut. Kania kaget bukan kepalang. Namun,
ia menikmati ciuman yang Brian berikan.
Mereka melakukan
ciuman tersebut selama beberapa saat lamanya. Hingga bunyi ponsel milik Kania
mengalihkan perhatian keduanya dan mengakhiri ciuman tersebut dengan berat
hati, terutama Brian.
Kania tidak mengangkat
panggilan tersebut. Karena Brian tidak melepaskan tangannya dari pinggang
ramping milik Kania. Meskipun ciuman berakhir, tapi pelukan tidak.
“Brian. Kamu apa-apaan
sih.”
“Aku mohon. Abaikan
saja untuk kali ini. Jangan biarkan mereka mengganggu kehangatan ini.”
“Brian.”
“Kania. Aku mohon.
Biarkan aku merasakan kehangatan ini sebentar saja lagi.”
“Kamu
kekanak-kanakan,” ucap Kania dengan wajah bersemu malu.
“Biarkan saja. Yang
penting hati ini bahagia. Dan juga … orang yang aku sayangi bahagia.”
Kania semakin
berbunga-bunga saja sekarang saat mendengarkan ucapan Brian barusan. Hatinya
yang bahagia, sekarang semakin bertambah bahagia saja.
“Oh ya, seperti yang
sudah sama-sama kita sepakati, aku akan katakan dari mana aku dapat sertifikat
berharga milikmu itu.”
“Hmm … ayo katakan!”
ucap Kania penuh semangat.
“Aku dapat sertifikat
itu dari Johan.”
“Johan?” tanya Kania
tak mengerti.
Brian pun menceritakan
apa yang telah terjadi. Bagaimana sampai Johan bisa mendapatkan sertifikat itu
dan bagaimana kejahatan mama serta adik tiri Kania.
“Apa! Mereka jual?”
“Hehem.” Brian berucap
sambil menganggukkan kepalanya.
“Tega sekali mereka
padaku. Padahal, apa yang mereka inginkan telah aku berikan pada mereka. Aku
pikir, mereka tidak akan mengganggu aku lagi setelah mereka dapatkan harta yang
mereka incar selama ini. Tapi … mereka kelihatannya tidak pernah puas.” Kania
berucap dengan nada geram dengan tangan yang di genggam.
“Mereka tidak akan
pernah puas, Kania. Karena manusia seperti mereka, tidak ada kata cukup selama
napas masih ada.”
“Tapi Brian, kenapa
mbak penjaga taman tidak menghubungi aku untuk mengabari apa yang terjadi?”
tanya Kania penasaran saat ingat dengan penjaga taman yang selama ini ia gaji
untuk menjaga taman peninggalan almarhumah neneknya.
“Itulah kejamnya adik
dan mama tiri mu, Kania. Sampai penjaga taman pun dia ancam agar tidak
mengatakan semua yang terjadi padamu. Karena mungkin, niat mereka ingin
menyakiti kamu dan melihat kamu menderita karena kehilangan apa yang berharga
bagi hidupmu.”
“Mereka benar-benar
sudah mengikis kesabaran yang ada dalam hatiku. Selama ini, aku sudah berusaha
sabar dan diam dengan apa yang mereka lakukan padaku. Karena aku pikir, dengan
diamnya aku, mereka akan puas. Tapi ternyata, mereka semakin besar kepala dan
malah, semakin menjadi-jadi.”
“Brian, apakah kamu
mau menolong aku?” tanya Kania sambil menatap mata Brian dengan tatapan penuh
harap.
“Tentu saja aku mau,
sayang. Kenapa harus kamu tanyakan kesanggupan yang aku miliki untuk memenuhi
semua keinginanmu. Katakan saja, apa yang kamu ingin aku lakukan. Aku pasti akan
lakukan apapun itu selagi aku mampu.”
“Tolong aku, putuskan
kerja sama dengan perusahaan papaku dan perusahaan keluarga Dafa. Kalau perlu,
ambil perusahaan mereka. Apa kamu bisa?” tanya Kania dengan nada sedikit
tegang.
Brian tersenyum manis.
Ia menyentuh pipi Kania dengan lembut. “Itu soal kecil, Kania ku sayang. Aku
bisa melakukan hal itu dengan mudah, meskipun aku tidak bolak-balik ke
perusahaan seperti pemilik perusahaan pada umumnya. Tapi jangan lupa, aku
adalah pewaris tunggal perusahaan ternama. Kalau soal membeli sebuah perusahaan
kecil, itu hal gampang yang tidak perlu memakan waktu lama.”
“Benarkah?” tanya
Kania penuh semangat.
“Tentu saja,” ucap
Brian sambil mencolek hidung Kania dengan lembut.
Kania yang masih
berada dalam pelukan Brian, kini semakin mempererat pelukannya saat mendengar
kata-kata yang Brian ucapkan barusan. “Terima kasih banyak Brian.” Kania
berucap lirih.
“Tidak perlu berterima
kasih padaku. Karena kamu adalah istri belahan jiwaku. Aku melakukan semua ini
dengan senang hati. Satu tujuan dan harapan, yaitu, untuk membahagiakan kamu.”
‘Aku janji Kania, aku
akan berusaha membuat kamu bahagia selama aku masih bernapas dan masih bisa
melihat dunia ini. Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu bahagia selagi
aku mampu,’ ucap Brian dalam hati sambil membelai lembut rambut Kania.
‘Meskipun aku belum
bisa mengakui rasa cintai ini secara langsung di hadapanmu, Brian. Tapi, hati
ini sudah pasti tidak ingin meragukan cinta tulus yang kamu miliki. Aku memang
sudah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama waktu itu,’ ucap Kania pula
dalam hatinya sambil terus membenamkan wajah dalam pelukan Brian.
________
Dua hari kemudian,
tepatnya, di hari pernikahan Zara dan Dafa. Kania tersadar saat adzan subuh
berkumandang. Ia rencananya ingin langsung bangun, tapi sayangnya, niat itu
terhalang oleh tangan Brian yang ternyata memeluk tubuhnya saat tidur.
Mereka masih berbagi
ranjang. Masih menciptakan batas di atara mereka dengan satu guling di
tengah-tengah tempat tidur. Namun seperti biasa, batas itu hilang saat mereka
sudah sama-sama terlelap. Entah itu Kania ataupun Brian yang menyingkirkan
batasan tersebut. Yang jelas, batas itu pasti hilang saat mereka bangun pada
pagi harinya.
“Ya Allah, kenapa dia
harus menjadikan aku sebagai guling nya?” tanya Kania dengan rasa kesal sambil
berusaha melepaskan diri dari pelukan Brian.
“Hmm … jangan pergi.
Hari masih malam,” ucap Brian dengan mata yang masih terpejam.
Bukannya melonggarkan pelukan, ia malah semakin mempererat pelukan tersebut.
“Brian. Kamu apa-apaan
sih? Ini itu udah subuh tau. Udah adzan,” ucap Kania kesal. Namun, sebenarnya
ia sangat menikmati pelukan itu.
“Sebentar lagi.”
“Brian. Tidak boleh
menunda waktu. Jika kamu tidak ingin bangun, maka aku akan bangun sendiri.”
Mendengar ucapan itu,
Brian segera membuka mata dengan perasaan malas. Ia juga melonggarkan
pelukannya, mengizinkan Kania lepas dari pelukan tersebut.
Setelah melaksanakan
perintah wajib bagi agama, Kania dan Brian sama-sama duduk di atas sofa yang
ada di kamar tersebut.
“Kania, kamu yakin ingin datang ke pernikahan saudara tiri mu hari ini?” tanya
Brian memastikan.
“Tentu saja aku yakin.
Bukankah sebelumnya, kita sudah membicarakan hal ini?”
“Iya, aku hanya ingin
memastikan lagi saja. Oh ya, aku sudah pesan gaun terindah untukmu. Gaun seri
terbaru, lengkap dengan perhiasan. Aku yakin, kamu pasti akan terlihat paling
cantik nantinya.”
Komentar
Posting Komentar