Episode 87 Perjodohan Membawa Bahagia (Eks Part1)
Episode 87 Perjodohan Membawa Bahagia (Eks Part1)
Tiga bulan setelah lamaran itu, Johan langsung menikah dengan Saras. Tepatnya, satu minggu setelah kepulangan Brian dan Kania dari bulan madu ke beberapa negara yang ingin Kania kunjungi.
Pernikahan itu
diadakan cukup meriah dengan nuansa pantai yang sama dengan pernikahan Brian
dan Kania. Hanya saja, pernikahan Brian tergolong sangat mewah karena ia adalah
orang terkaya. Johan sebagai asisten, tidak mungkin mampu menyaingi sang bos
yang terkenal tajir luar biasa.
_____
Meskipun sudah menikah
dan punya keluarga, Johan tetap bekerja dengan Brian. Ia masih menduduki posisi
yang sama seperti sebelumnya, yaitu asisten pribadi Brian.
Tapi sekarang, bedanya
adalah, Brian tidak diam di belakang Johan. Melainkan, ikut serta turun tangan
sebagai ceo terkenal yang sangat disegani oleh para pembisnis kelas atas.
Sementara itu, Kania
menyibukkan diri dengan mengurus toko emas yang terkenal milik suaminya dengan
sebaik mungkin. Karena toko itu sekarang dia yang ambil alih, hubungannya
dengan Jio dan Ana pun semakin erat lagi karena kerja sama mereka.
Kedekatan Itu terlihat
ketika Ana melahirkan anak pertama mereka. Kania menemani Ana selama Ana berada
di rumah sakit. Ia bersikap seolah-olah bagian keluarga dari Ana dan Jio.
Kebetulan, Jio dan Ana sama-sama tidak punya keluarga. Mereka sama-sama
kehilangan orang tua saat bencana alam waktu masih remaja.
Tidak hanya itu, Kania
juga sering berkunjung ke rumah Ana dan Jio untuk sekedar menjenguk putra Ana.
Atau malah, sering bermain dengan bayi tersebut. Bayi tampan yang diberi nama
Dewa itu mampu membuat Kania selalu merasakan rasa bahagia ketika bersama.
_______
Empat tahun kemudian.
Kania baru mendapatkan kabar bahagia dari dokter. Ternyata, penantiannya selama
empat tahun untuk memiliki buah hati akhirnya tercapai juga.
Ya, Kania hamil. Dia
baru hamil setelah penantian hampir lima tahun usia pernikahan mereka. Kehamilan
Kania membuat gempar dan mendatangkan bahagia bagi semua teman terdekat, tak
terkecuali Jio dan Ana. Mereka ikut merasakan kebahagiaan itu.
“Mbak Kania, jika anak
yang ada dalam kandungan mbak ini perempuan, bagaimana kalau kita jodohkan saja
anak mbak Kania dengan Dewa putraku?” tanya Ana tanpa berpikir panjang lagi.
Sontak, semua mata
yang ada di ruangan tamu vila camar tertuju pada Ana yang berada di samping
Kania. Jio mencubit tangan istrinya pelan. Ia tidak percaya kalau istrinya
berani mengucapkan hal itu. Secara, kedudukan mereka sudah pasti berbeda.
Berbeda dengan Jio dan
para pekerja yang ada di ruang tamu tersebut, Kania dan Brian malah tersenyum
bahagia. “Wah, mbak Ana benar. Jika anak ini perempuan, mungkin kita bisa
menyatukan mereka agar hubungan persahabatan kita semakin erat,” ucap Kania
dengan wajah bahagia.
“Bagaimana menurut
kamu sayang?” tanya Kania pada Brian yang duduk sambil memegang tangannya.
“Tentu saja, sayang.
Aku setuju untuk menjodohkan anak kita dengan Dewa. Lagipula, jika aku lihat,
Dewa itu anak yang pintar dan punya bakat yang agak mirip dengan papanya.”
"Tu–tuan muda.
Tapi … "
“Tapi apa, Jio?” tanya
Brian melirik Jio yang sedang memasang wajah tidak enak.
“Apa kamu tidak setuju?” tanya Brian lagi.
"Bukan aku tidak
setuju tyan muda. Hanya saja, jika ingat status kita terlalu jauh berbeda. Tuan
muda adalah … "
“Tahan Jio!” Brian
mengangkat satu tangannya ke arah Jio. “Apakah pernikahan harus melihat status?
Jika status yang jadi pertimbangan, maka kehidupan tidak akan bahagia, Jio.”
“Benarkah tuan muda
tidak keberatan jika anak kami dijodohkan dengan anak tuan muda kelak?”
“Tentu saja tidak. Aku
malahan bahagia jika suatu hari nanti, anak kita bisa bersama. Maka kita akan
menjadi satu keluarga.”
Kebahagiaan kini
kembali terlihat di ruangan tersebut. Bu Ninik dan pak Hadi yang sedari tadi
berdiri berdekatan, tanpa terasa kini malah berpelukan. Hal itu menambah riuh
suasana bahagia yang ada di ruang tamu vila camar itu.
Namun, suasana
tiba-tiba terganggu saat ponsel Brian berdering. Semua perhatian teralihkan
pada Brian yang sedang melihat layar ponselnya.
“Siapa, Brian?” tanya
Kania.
“Johan.”
“Angkat saja. Mungkin
dia ingin bicara sesuatu yang penting.”
“Baiklah. Aku akan
angkat panggilan dari Johan sebentar ya. Kalian lanjutkan saja obrolannya,”
ucap Brian sambil bagun dari duduknya. Kemudian, berjalan sedikit menjauh dari
ruangan tersebut.
“Halo Jo. Ada apa?”
tanya Brian langsung dengan nada kesal.
“Tuan muda. Aku punya
kabar bahagia untuk aku bagikan dengan tuan muda. Karena tuan muda adalah teman
ku satu-satunya, maka aku hanya bisa membagikan kabar bahagia ini dengan tuan
muda.”
Terdengar suara paling
bahagia di seberang sana. Brian yang awalnya kesal, dan berniat untuk memarahi
Johan karena merusak suasana bahagia yang ia punya. Terpaksa membatalkan niat
itu ketika mendengar suara bahagia dari Johan.
“Kabar bahagia apa
yang ingin kamu bagikan denganku, Johan? Cepat katakan! Karena aku sedang sibuk
sekarang.”
“Tuan muda. Istriku
sudah hamil sekarang. Ya Tuhan … aku bahagia sekali. Itu tandanya, sebentar
lagi, aku akan menjadi seorang papa, tuan muda.”
“Istrimu hamil?
Benarkah?” tanya Brian seakan tak percaya.
“Tentu saja, iya tuan
muda. Jika tidak, bagaimana aku bisa sebahagia ini?”
“Selamat buat kamu
yang sebentar lagi akan menjadi seorang papa, Johan. Mulai sekarang, kamu tidak
perlu bertengkar dan marah-marah lagi pada Saras, bukan?”
Johan tidak menjawab.
Ia hanya tertawa menangapi apa yang Brian katakan padanya barusan. Ya, dia
selalu menyalahkan istrinya, ketika pernikahan mereka berusia tahunan. Ia marah
pada Saras yang tidak kunjung hamil padahal, pernikahan mereka sudah berjalan beberapa
tahun.
Berbeda jauh dengan
sikap Brian yang tak pernah menyalahkan Kania saat Kania masih belum hamil
meskipun pernikahan mereka sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Brian malah
selalu memberikan semangat buat Kania. Ia juga berusaha memberikan perasaan
tenang pada Kania. Selalu membuat Kania bahagia walau mereka masih belum
diberikan buah hati dalam rumah tangga.
Sebenarnya, bukan
Brian tidak ingin punya anak. Hanya saja, ia berusaha tidak memperlihatkan
keinginannya itu pada Kania. Karena Brian tahu, yang lebih tersiksa, sudah
pasti istrinya. Karena seorang istri, tentu ingin merasakan menjadi seorang ibu
dan tentunya sangat ingin memberikan kebahagiaan pada suaminya dengan
melahirkan anak.
Brian yang pengertian,
dan selalu berusaha menciptakan kehangatan juga keharmonisan dalam rumah
tangga, akhirnya, sekarang bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya tanpa
harus menyakiti hati istrinya. Dan kebahagiaan itu terasa sangat manis untuk ia
nikmati sekarang.
Karena Brian terdiam
untuk beberapa saat lamanya. Johan pun langsung memanggil Brian. “Tuan muda.
Apakah tuan muda masih berada di sana?”
“Oh, iya. Tentu saja
ada.”
“Oh, aku pikir sudah
tidak ada. Ya sudah, aku tutup dulu panggilannya tuan muda. Aku ingin membawa
Saras pulang ke rumah sekarang.”
“Johan tunggu!”
Komentar
Posting Komentar