Episode 86 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 86 Perjodohan Membawa Bahagia
Baru saja Dafa mencapai halaman rumah setelah turun dari kendaraan umum, ia sudah mendengarkan suara keras yang berasal dari dalam rumahnya. Itu suara papanya yang sedang memarahi Zara.
Sebenarnya, itu tidak
layak untuk di sebut rumah, tapi lebih pantas di sebut gudang. Karena letaknya
yang sedikit terpencil, dan ukurannya yang terlihat sangat kecil bagi keluarga
Dafa dan Zara. Tapi, itu juga tempat tinggal ngontrak, bukan milik mereka
pribadi.
Setelah hari
pernikahan Dafa dengan Zara. Kehidupan mereka semua berputar jauh ke bawah.
Keluarga Dafa kehilangan semua aset kekayaan. Semua harta yang mereka miliki di
sita oleh pihak bank. Rumah, kendaraan, juga perhiasan habis semua.
Sampai-sampai, tidak ada harta satupun yang tersisa dari mereka.
Sementara Zara, ia
didepak dari rumah oleh Burhan. Karena dia bukan anak kandung Burhan, dan
karena dia, Burhan kehilangan anak kandungnya. Oleh sebab itu, ia tidak diakui
lagi sebagai keluarga oleh Burhan.
Sedangkan Salma sebagai satu-satunya keluarga yang Zara miliki, tidak bisa
berbuat apa-apa untuk anaknya. Karena dia sedang menunggu persidangan di balik
jeruji besi.
Tidak ada pilihan
lain, mereka terpaksa mencari tempat tinggal seadanya saja. Karena tidak
memiliki uang yang cukup, mereka terpaksa tinggal di tempat kumuh yang lebih
tepat di sebut gudang dari pada rumah.
Karena semua itu
terjadi setelah Dafa menikah dengan Zara, maka Zara dianggap sebagai pembawa
sial oleh kedua orang tua Dafa. Bukan hanya orang tua Dafa, Dafa juga
menganggap Zara itu si pembawa sial.
Hasilnya, keberadaan
Zara sama sekali tidak dianggap oleh Dafa dan keluarganya. Ia bahkan di benci
oleh mereka semua.
Setiap hari, akan ada
perdebatan, juga pertengkaran di rumah itu. Yang membuat semua penghuni rumah
tidak merasa nyaman berada di rumah. Makanya, Dafa sering keluyuran tak jelas.
Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk melihat Kania dari jarak jauh. Jika
dari jarak dekat, tentunya tidak akan pernah bisa. Karena Brian tentu akan
menjadi penghalang.
Dafa berjalan dengan
malas menuju pintu rumah. Hatinya yang sudah kesal, kini semakin dibuat kesal
dengan ocehan papanya itu.
“Ada apa sih ini?”
tanya Dafa dengan tatapan tajam ke arah Zara.
"Kak Dafa …
"
“Ini, istri pembawa
sial kamu ini benar-benar bikin susah saja. Di suruh bikin minum aja gak bisa,”
ucap papanya dengan nada marah.
Dafa menatap Zara yang
sedang duduk di kursi roda dengan tatapan marah. “Kamu itu bisa gak sih? Gak
bikin susah lain sebentar saja, hah!”
“Aku tidak akan menanyakan soal kamu bisa bikin aku bahagia sedikit saja.
Karena kamu memang tidak akan pernah bisa bikin orang yang berada di sekitarmu
bahagia, Zara.”
“Kak Dafa. Ini bukan
salah aku, kak. Jika aku masih normal, aku tidak akan merepotkan kalian,” ucap
Zara dengan perasaan sangat sedih. Air mata juga tidak bisa ia bendung lagi.
Tidak terhitung
jumlahnya. Entah berapa banyak air mata yang sudah ia tumpahkan sejak ia
menikah dengan Dafa. Ia juga tidak tahu. Hanya satu hal yang ia ingat, sejak ia
datang ke dalam keluarga ini, ia hampir setiap hari menangis karena perlakuan
kasar dari keluarga ini, termasuk Dafa. Orang yang ia anggap akan memberikan
bahagia buatnya.
“Selalu saja begitu!
Selalu saja cacat mu yang kamu jadikan alasan untuk bermalas-malasan!” ucap
Dafa membentaknya.
“Zara! Kamu tahu apa?
Aku sangat menyesal menikah dengan kamu, tau! Kesalahan terbesar dalam hidupku
yang tidak pernah bisa aku maafkan adalah, menikah dengan istri pembawa sial
seperti kamu!”
Bentakan, cacian, ia
terima setiap hari tanpa ia bisa melawan dengan ucapan, apa lagi dengan
pukulan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima. Menerima setiap cacian dan
bentakan dengan air mata yang tidak bisa ia tahan.
Saat itulah Zara
sadar. Kalau apa yang ia terima sekarang adalah hukum karma. Karma atas apa
yang telah ia lakukan pada kakak tirinya waktu itu. Ia sangat menyesali hal
itu. Tapi, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan menikmati karma yang
ia rasakan sekarang.
‘Tuhan … aku terima
rasa sakit ini. Aku tahu ini karma yang telah engkau berikan padaku atas apa
yang telah aku lakukan pada kakak tiri ku selama bersama dengannya. Tapi … aku
mohon satu hal Tuhan. Izinkan aku bertemu dengan kak Kania untuk minta maaf.
Karena setelah aku merasakan perasaan dibenci, aku menjadi merasa sangat
bersalah padanya,’ ucap Zara dalam hati sambil terus menangis.
Dafa melempar jaket
yang sedari tadi ia pegang ke arah Zara yang sedang tertunduk dengan air mata
membasahi pipinya.
“Nangis aja bisanya kamu ini! Bikin kesal saja!” Dafa lagi-lagi membentak Zara.
Tidak ada kata lembut
yang Dafa ucapkan setelah hari itu. Hari di mana ia dinikahi dan ia kehilangan
kedua kakinya. Sebenarnya, kaki Zara masih ada, hanya saja, tidak bisa ia
gunakan karena tulang-tulangnya remuk.
“Aku menyesal menikahi
kamu perempuan pembawa sial,” ucap Dafa sebelum ia beranjak meninggalkan Zara
di sana sendirian.
Penyesalan menang
tidak akan datang di awal, melainkan, diakhir. Jika di awal, itu bukan
penyesalan melainkan, keberuntungan. Itulah yang Zara rasakan saat ini. Ia
menyesal, tapi tidak bisa merubah apa yang telah terjadi. Ingin mengulangi masa
yang telah lalu, tapi sayangnya tidak bisa. Apa yang ia bisa hanyalah, meratapi
semua yang telah terjadi. Hidup dalam kesedihan dan penyesalan.
Sementara itu, Kania
hidup dengan kebahagiaan. Masa sedih dan masa sulit sudah ia lewati. Sekarang,
ia hanya tinggal menuai kebahagiaan, buah dari kesabaran yang selama ini ia
tanam dan rawat dengan baik.
Hidup itu ibarat roda.
Yang kadang di atas, kadang pula di bawah. Sesuatu yang ada di atas dunia ini,
tidaklah kekal. Semuanya pasti akan berubah. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
_____________________________________________
Catatan: "Mohon
maaf untuk komen yang belum sempat aku balas. Karena aku sedang berada dalam
tingkat kesibukan yang terlalu sibuk. Wkwkwkwk …
Mohon pengertiannya ya teman-teman. Insyaallah, jika aku punya waktu luang
nanti, aku pasti akan balas komen kalian satu-satu.
Tapi, meskipun belum sempat aku balas satu persatu sekarang, aku tetap lihat
dan baca kok komen kalian. Jangan bosan untuk memberikan aku semangat ya
teman-teman. Terima kasih banyak …
Komentar
Posting Komentar