Episode71 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode71 Perjodohan Membawa Bahagia
“Tuan muda tenang saja. Serahkan semua padaku, maka aku akan menjalankan semua perintah dengan sangat baik. Asalkan … bonus bulanan milikku tuan muda lipat gandakan.”
“Dasar gila.
Bisa-bisanya kamu berpikir soal bonus bulanan sekarang.”
“Itu hal wajar tuan
muda. Hal yang masih tergolong manusiawi.” Johan bicara sambil senyum dengan
menaikkan sedikit alisnya.
“Terserah kamu saja.
Aku akan gandakan bonus bulanan bukan hanya dua kali lipat jika kamu berhasil,
melainkan, tiga kali lipat.”
“Benarkah?” tanya
Johan dengan tatapan mata bahagia.
“Tentu saja. Aku tidak
pernah bohong sebelumnya, bukan?”
“Tapi ingat, jika kamu gagal, bukan hanya bonus bulanan mu yang tidak kamu
dapatkan. Tapi gaji mu juga akan melayang.”
"Apa! Ya Tuhan …
"
“Terserah kamu. Jadi,
kamu harus berhasil jika ingin uang bulan ini,” ucap Brian dengan nada penuh
penekanan.
“Tuan muda, kamu kejam
sekali.”
“Biarkan saja,” ucap
Brian sambil beranjak meninggalkan ruang kerja di mana Johan masih duduk diam
di tempatnya.
Sementara itu, di
rumah Burhan, Zara dan Salma sedang tertawa bahagia di kamar Zara.
“Ha ha ha … ya ampun mama, aku gak nyangka lho, kalau kita akan mendapatkan
keberuntungan berkali-kali lipat seperti ini sekarang. Mama hebat.
Sangat-sangat hebat,” ucap Zara sambil mengangkat jempol kanan miliknya.
“Mama. Siapa bisa
lawan jalan pemikiran mama ini sih sayang,” ucap Salma membanggakan dirinya
sendiri.
“Ya Tuhan, Ma. Aku gak
nyangka banget lho, Ma. Kania itu gampang banget kita bodohi. Ini itu
sebenarnya, entah Kania yang emang bodoh banget, atau mama yang pinter banget.
Gampang banget kita kibuli. Lagipula, tanah itu juga gampang banget kita jual.
Benar-benar keberuntungan yang luar biasa buat kita.”
“Aku pikir, jadi orang
jahat itu bakalan susah karena banyak halangan. Taunya, senang dan selalu
bahagia karena semua keberuntungan itu kayaknya selalu ada mengikuti kita ya,
Ma,” ucap Zara lagi sambil terus tersenyum bahagia.
“Tentu saja, sayang.
Mama pikir, kita itu memang selalu diikuti dewi keberuntungan. Buktinya saja,
apa yang ingin kita lakukan, selalu gampang dan selalu di restui.”
“Iya, Ma.” Zara
berucap sambil terus-terus tersenyum.
“Zara. Satu persatu
rencana kita sudah selesai kita jalani. Sekarang, tinggal kamu menikah dengan
Dafa saja lagi. Lalu, kamu bisa hidup bahagia bersama orang yang kamu cintai,”
kata Salma sambil menatap lurus ke depan.
“Iya, Ma. Tinggal
menunggu satu minggu saja lagi untuk aku dan kak Dafa bersatu. Setelah itu,
mama bisa menikmati kebahagiaan mama. Dan aku juga bisa menikmati kebahagiaan
aku. Karena sekarang, dendam kita sudah selesai, bukan?”
“Iya sayang. Kita
sudah berhasil sekarang,” kata Salma dengan nada lega.
_____
Dua hari sebelum hari
pernikahan Zara, seorang kurir datang ke vila Camar untuk mengantarkan undangan
pada Kania. Tepat saat itu, Kania sedang duduk ngobrol menemani Brian di ruang
keluarga.
Bu Ninik yang membuka
pintu, tapi kurir itu bersikeras ingin bertemu dengan Kania. Katanya,
menjalankan amanah dari sang pengirim undangan untuk langsung menyerahkan
undangan tersebut pada perempuan yang bernama Kania.
Mau tidak mau, karena
tidak ingin mempersulit sang kurir, Kania pun terpaksa menemui kurir itu
langsung. Dengan di temani Brian yang ikut bersamanya karena rasa penasaran.
“Mbak ini, mbak
Kania?” tanya kurir itu penuh selidik.
“Ya, mas. Ini saya,
Kania. Ada apa ya? Kelihatannya ngotot banget ingin langsung bertemu dengan
saya,” ucap Kania dengan nada tenang.
“Maaf mbak Kania,
bukan saya keras kepala. Hanya saja, saya harus menjalankan amanah dengan
sebaik-baik mungkin. Karena pesan itu adalah amanah, mbak. Sekali lagi maaf,”
ucap kurir itu dengan sangat sopan.
“Sudah. Tidak perlu
berbasa-basi lagi. Ada apa ingin bertemu langsung dengan istriku. Cepat! Karena
istriku tidak punya banyak waktu untuk melayani kamu,” ucap Brian kesal.
“Brian. Apa yang ia
katakan itu benar. Dia cuma menjalankan amanah saja kok.”
"Maaf mas …
"
“Tuan muda.” Brian
berucap cepat dengan nada semakin kesal. “Panggil saya tuan muda. Mas-mas.
Emangnya saya ini mas-mas jual gorengan apa?”
“Ma–maaf, maaf tuan
muda,” ucap kurir itu semakin merasa takut.
“Brian-Brian.” Kania
berucap sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum geli.
“Maafkan tuan muda ini
ya mas kurir. Dia emang seperti itu.”
"Kania … kamu …
"
“Ya aku minta maaf mas
Brian,” ucap Kania memotong ucapan Brian dengan cepat.
“Kamu semakin berani
sekarang, ya nona Kania. Awas saja kamu nanti.” Brian berucap sambil mendekat.
“Brian jangan
macam-macam. Kamu gak lihat ada orang di sini.”
“Aku gak peduli.”
“Brian ih, jangan
macam-macam kamu. Kasihan mas kurirnya nunggu kelamaan.” Kania berucap sambil
menghindar dari Brian dengan cepat.
“Ayo mas, apa yang
membuat mas ingin langsung bertemu saya?” Kania bicara dengan kurir agar Brian
tidak semakin menjadi-jadi.
“Oh ini mbak. Saya di
minta menyerahkan undangan pernikahan khusus untuk mbak Kania. Kata si
pengirim, minta saya langsung serahkan pada mbak.”
Kurir itu langsung
menyerahkan surat undangan pada Kania, tanpa menunggu Kania menjawab
perkataanya terlebih dahulu. Kania langsung menerima surat undangan tersebut.
Karena rasa penasaran,
ia langsung membuka dan melihat isi dari surat undangan itu. Ketika ia melihat
nama yang tertera di dalam surat undangan itu, hatinya terasa sangat perih.
Sekuat tenaga, ia menyembunyikan rasa sakit itu.
Brian yang melihat
perubahan wajah yang Kania tunjukkan, segera merebut surat undangan itu dari
Kania. Ia lalu melihat surat tersebut untuk mencari tahu perubahan wajah dari
sang istri.
“Kamu sakit hati
karena dia ingin menikah dengan adik tiri mu, Kania? Apa kamu masih menyimpan
rasa cinta untuk dia?” tanya Brian dengan nada kesal.
“Entahlah. Perasaan
ini sulit untuk aku jelaskan. Karena di dua sisi hatiku, selalu berlawanan.”
“Apa karena itu kamu
menolak cinta tulus yang aku berikan?”
“Tidak! Aku tidak
menolak cinta yang kamu berikan, Brian. Hanya saja, aku merasa, kalau cinta
yang kamu berikan masih butuh bukti untuk membuat aku yakin dengan rasa yang
cinta itu,” ucap Kania sambil beranjak masuk ke dalam.
“Lalu, apakah kamu
juga masih butuh bukti untuk melupakan rasa cintamu pada si pengkhianat yang
akan menikah sebentar lagi?” tanya Brian semakin kesal saja.
Kania menghentikan
langkahnya. Perlahan, benak dan hatinya secara bersamaan membenarkan apa yang
Brian ucapkan barusan. Dia tidak butuh bukti lagi untuk melupakan Dafa. Karena
Dafa dan Zara memang pantas bersama. Sama-sama penjahat memang seharusnya
menjadi satu keluarga. Dan dirinya memang sudah seharusnya mengakui dan
membenarkan, kalau jauh di lubuk hati yang paling dalam, dia memang menyukai
bahkan mencintai Brian sejak pertama kali melihat tatapan mata yang tersembunyi
di balik topeng hitam.
Komentar
Posting Komentar