Episode70 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode70 Perjodohan Membawa Bahagia
Davidson memahami nada bicara Brian. Karena sekarang, hatinya ikut tersenggol akibat nada kesal itu.
“Maafkan papa, Kania.
Papa tidak tahu hal itu.”
“Mana papa tahu.
Karena yang ada dalam pikiran papa kemarin cuma Sintya. Sekarang, setelah
tiada, baru sadar.”
“Brian. Papa tahu kamu
kesal pada papa. Tapi tolong, jangan ungkit sesuatu yang telah tiada. Papa
minta kita pulang satu mobil, karena papa ingin bicara dengan kalian berdua.
Papa ingin kenal dekat dengan menantu papa masih belum papa tahu semua tentang
dia.”
Brian terdiam. Kania
mencubit tangan Brian. Meminta Brian bicara sedikit lebih sopan lagi pada
papanya.
“Kania. Papa minta
maaf padamu karena tidak tahu bagaimana kehidupan kamu sebelumnya.”
'Gak papa, Pa. Tidak
perlu minta maaf. Soalnya, itu wajar karena kita juga baru dua kali
bertemu," ucap Kania sambil senyum.
Mereka berdua pun
terus melanjutkan obrolan mereka. Sedangkan Brian, ia hanya diam menjadi
pendengar saja.
“Oh ya Kania, papa
mungkin akan kembali ke luar negeri secepatnya. Papa titip Brian padamu. Tolong
awasi dia. Jangan biarkan dia macam-macam.”
“Aku bukan anak kecil
yang bisa papa titipkan pada siapapun,” ucap Brian merasa tidak enak hati.
“Brian.” Kania menoleh
dengan tatapan kesal.
“Iya, Pa. Sebisa mungkin aku akan jalankan amanah papa. Tapi, seperti yang
Brian katakan barusan, dia bukan anak kecil yang bisa aku jaga.”
“Kalau kamu yang jaga,
itu lain cerita.” Brian kembali angkat bicara.
“Aku gak ngomong sama
kamu, Brian.” Kania berucap kesal.
“Ih.” Brian berdecak
kesal.
Davidson hanya bisa
tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya. Ia merasa bahagia sekarang.
Karena sepertinya, Brian telah menemukan jodoh yang tepat untuk menjadi
pendamping hidup dia selamanya.
Hati Davidson tenang sekarang.
“Kalian adalah
pasangan serasi.”
“Oh ya, Kania. Jika butuh bantuan apapun, hubungi papa. Papa akan siap membantu
kamu kapan pun kami butuhkan.”
“Iy–iya, Pa.”
“Papa akan kembali
sore nanti.”
“Lho, kok cepat
banget, Pa?” tanya Kania agak kaget.
“Ada banyak hal yang
harus papa selesaikan di luar negeri. Karena itu, papa harus kembali secepat
mungkin.”
____
Seperti yang telah
Davidson katakan, ia kembali ke luar negeri pada sore itu juga. Kania dan Brian
mengantar Davidson sampai ke bandara, di mana jet pribadi miliknya berada.
“Kania. Apa kamu ingin
liburan?” tanya Brian tiba-tiba saat mereka menyaksikan jet pribadi itu terbang
meninggalkan mereka.
Kania menoleh dengan
tatapan tak mengerti.
“Apa maksud kamu?”
“Yah, aku rasa,
setelah apa yang kita lewati beberapa hari ini, kita sepertinya butuh liburan
ke luar negeri. Katakan! Tempat mana yang ingin kamu kunjungi sekarang.”
“Kamu ada-ada saja,
Brian. Ini bukan saat yang tepat untuk liburan. Ingat! Kita baru saja berdua
dan tante mu sekarang berada di rumah sakit jiwa.”
“Aku rasa tidak ada
masalahnya semua itu dengan kita yang ingin liburan. Bahkan, liburan lah sesuatu
yang paling bagus untuk menenangkan hati kita yang sedih seperti saat ini.”
“Ah, sudahlah.
Sepertinya kamu tidak akan mengerti apa yang aku katakan barusan. Percuma saja
aku bicara kalau gitu,” ucap Kania sambil beranjak meninggalkan Brian.
“Hei! Mau ke mana
sih?” tanya Brian sambil menarik tangan Kania cepat.
Tubuh Kania yang tidak
siapa dengan tarikan itu, sontak terhuyung hingga menabrak tubuh Brian. Dengan
cepat, Brian memeluk tubuh Kania untuk menahan agar tubuh itu tidak jatuh.
Beberapa saat lamanya,
mereka saling tatap. Hingga akhirnya kesadaran Kania pulih. Ia segera
melepaskan diri dari pelukan itu.
“Kamu apa-apaan sih,
Brian. Inikan tempat umum. Ada banyak mata yang melihat kita. Kamu yang benar
saja.”
“Biarkan saja. Kamu
itu istriku.”
“Iya. Istri
pura-pura.”
“Eh, siapa bilang
istri pura-pura. Kamu itu istri beneran aku lho Kania. Kita ini sah menjadi
suami istri. Sah menurut agama, juga sah menurut negara. Apanya yang pura-pura,
coba?”
“Hati. Yang pura-pura
itu hati kita, Brian.”
“Kamu tidak perlu bersandiwara lagi sekarang. Karena sekarang, papamu sudah
tidak akan menghukum kamu lagi jika ia tahu, kita ini menikah hanya sebatas
status,” ucap Kania dengan nada kecewa.
“Apa maksud kamu
bicara seperti itu? Tunggu! Apa kamu pikir soal apa yang Sintya katakan waktu
itu?”
“Tidak. Lupakan saja.
Aku ingin kembali sekarang.” Kania kembali beranjak. Namun sekali lagi, Brian
menahan tangannya.
“Aku mencintai kamu
setulus hatiku Kania. Bukan karena ada apanya. Tolong, percaya padaku.”
“Jika kamu ingin bukti, maka aku akan tunjukkan bukti itu dengan berteriak di
depan orang banyak. Aku akan katakan, kalau aku ini sangat mencintai kamu.”
“Jangan bersikap
kekanak-kanakan Brian. Aku tidak suka hal itu. Jangan bertingkah yang
aneh-aneh. Cinta itu tidak bisa dibuktikan hanya dengan ucapan saja. Cinta itu
adalah sebuah perasaan yang sangat halus dan lembut. Hadirnya tidak bisa
dicegah dan juga tidak bisa dipaksa.”
“Kalau begitu, aku
akan buktikan padamu kalau aku memang sangat mencintai kamu. Aku juga akan
yakinkan padamu kalau cinta yang aku miliki ini memang cinta yang tulus dari
hati.”
“Jangan tanya kapan cinta itu tumbuh, tapi yang jelas, aku sangat sadar
sekarang, kalau aku benar-benar mencintai kamu.”
Kania tersenyum dalam
hati. Ia merasa sangat amat bahagia sekarang. Tapi, ia masih merasakan sebuah
keraguan ketika ingat, apa yang telah Dafa lakukan padanya.
“Aku ingin pulang.
Jika kamu ingin terap berada di sini, maka biarkan aku pulang sendiri.”
“Tidak akan. Aku akan
berusaha selalu berada di sisi kamu, Kania.”
“Ayo pulang sayangku,” ucap Brian sambil merangkul pundak Kania dengan lembut
dan manja.
“Brian.” Kania
berteriak dengan pipi yang merona akibat malu dengan sikap Brian barusan. Malu
bercampur bahagia sekarang sedang menguasai hati Kania. Mereka pun berjalan
meninggalkan tempat tersebut dengan bergandengan tangan.
_______
Johan menemui Brian di
ruang kerja. Mereka membahas sesuatu dengan serius.
“Apa? Tanah
peninggalan nenek Kania sudah di jual?” tanya Brian kaget.
“Ya tuan muda. Tanah
beserta rumah peninggalan nenek nona Kania sudah berpindah tangan sekarang. Dan
kabar yang paling parahnya lagi adalah, pemilik baru ingin membongkar rumah dan
taman bunga itu untuk mereka buat ruko dan rumah baru.”
“Apa! Tidak! Kania pasti
akan sedih jika dia tahu hal ini.” Brian bicara dengan nada panik sambil
munda-mandir untuk berpikir.
“Tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Jo. Kamu harus bantu
aku untuk mendapatkan tanah itu bagaimanapun caranya. Jika perlu, bantuan dari
papa juga aku tidak akan keberatan.”
“Tuan muda tenang
saja. Serahkan semua padaku, maka aku akan menjalankan semua perintah dengan
sangat baik. Asalkan … bonus bulanan milikku tuan muda lipat gandakan.”
Komentar
Posting Komentar