Episode 88 Perjodohan Membawa Bahagia (Eks Part2)
Episode 88 Perjodohan Membawa Bahagia (Eks Part2)
“Johan tunggu!”
Brian menahan niat
Johan untuk mengakhiri obrolan mereka dengan cepat. Mendengar ucapan Brian
barusan, Johan membatalkan niatnya untuk menutup panggilan.
“Ya tuan muda. Ada
apa?”
“Sebenarnya, aku juga
punya kabar bahagia yang ingin aku bagikan padamu.”
“Benarkah? Apa tuan
muda?”
“Kania … Kania juga
hamil sekarang.”
“Apa! Benarkah apa
yang aku dengar ini, tuan muda? Nona Kania juga hamil sekarang?”
“Tentu saja, iya.”
“Wah. Ini kebetulan
yang luar biasa. Apa yang dokter katakan? Sudah berapa bulan nona Kania hamil,
tuan muda?” tanya Johan penuh semangat.
“Lho, kenapa jadi kamu
yang begitu bersemangat sekarang, Johan? Saat kamu tahu istriku sedang hamil.”
“Tuan muda, aku ikut
bahagia. Apakah itu tidak wajar?”
“Sebenarnya, itu
terdengar wajar-wajar saja. Kania baru hamil lima minggu. Lalu, bagaimana
dengan istrimu?”
“Saras sudah memasuki
kehamilan minggu kesebelas tuan muda. Ia sebenarnya sudah lama tahu kalau
dirinya sedang hamil. Hanya saja, ia merahasiakan kehamilan itu dari aku.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu apa
alasannya tuan muda. Mungkin, dia sengaja tidak bicara padaku, karena dia ingin
aku tahu sendiri kalau dia sedang hamil. Dia itukan seorang suster.”
“Terserah padamu saja,
Johan. Apa yang ingin kamu simpulkan dari apa yang telah terjadi. Tapi satu hal
yang ingin aku katakan, sebaiknya, kamu perhatikan baik-baik istrimu itu. Aku
tidak ingin melihat kamu yang kejam ini semakin kejam lagi jika ada apa-apa
dengan calon anakmu. Aku tidak suka sikap itu.”
“Tuan muda tenang
saja. Aku akan dengarkan kata-kata tuan muda dengan sangat baik. Karena tuan
muda adalah sahabatku.”
“Terserah kamu. Ya
sudah, aku ingin kembali ngobrol bersama istriku.”
“Tunggu tuan muda.”
“Ada apa lagi?”
“Apakah kita bisa
bicara serius?”
“Apa maksud kamu?
Bicara serius bagaimana?” tanya Brian dibuat bingung dengan pertanyaan yang
Johan ucapkan barusan.
“Aku ingin bicara
serius dengan tuan muda. Aku mohon minta waktu tuan muda sedikit saja lagi.”
“Mau bicara serius
soal apa? Di mana?”
“Lewat telepon saja
karena aku tidak sabar lagi untuk bicara.”
“Kamu kelihatannya
semakin tidak waras saja, Johan. Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan
padaku sekarang!”
“Tuan muda, bagaimana
jika anak kita nanti kita jodohkan saja setelah mereka sama-sama dewasa? Bukan
… kita akan bisa semkin mempererat hubungan persahabatan kita ini?”
Brian kaget ketika
mendengar pertanyaan itu. Tapi, dia tidak ingin menunjukkan rasa kaget itu pada
Johan. Ia takut, Johan salah tanggap dengan reaksi yang ia tunjukkan. Seperti
yang baru saja terjadi di ruang tamu vila nya tadi.
“Tuan muda.” Johan
memanggil Brian saat Brian tidak menjawab apa yang ia katakan barusan.
“Ya.”
"Apa yang tuan
muda pikirkan? Apa yang aku katakan itu … "
“Johan. Apa kamu yakin
untuk menjodohkan anak kita? Bagaimana jika anak kita lahir nanti sama-sama
perempuan atau malah sebaliknya, sama-sama laki-laki? Bagaimana kita bisa
menjodohkan anak kita jika jenis kelaminnya sama?”
“Tuan muda ada
benarnya juga. Baiklah, kita bicarakan nanti setelah anak kita lahir saja tuan
muda.”
“Itu lebih baik,” ucap
Brian dengan sedikit perasaan lega.
Panggilan pun diakhir
oleh keduanya. Setelah panggilan terputus, Brian menarik napas panjang, lalu
melepasnya secara perlahan.
Tawaran perjodohan itu sebenarnya membuat ia pusing. Karena apa yang mereka
bicarakan, itu seharusnya tidak mereka bicarakan sekarang. Karena hal itu
terlalu dini untuk di bahas.
______
Lima bulan kemudian,
kabar duka sekaligus bahagia terdengar dari Johan. Istrinya harus melahirkan
anak mereka dengan jalan operasi. Karena kandungan Saras bermasalah dan baru
menginjak usia tujuh bulan. Anak prematur itu terpaksa harus di rawat di rumah
sakit sampai waktunya tiba.
Johan merasa sedikit
kecewa ketika anak itu lahir. Karena anak yang ia harapkan laki-laki, ternyata
seorang perempuan. Meskipun begitu, ia tetap bahagia dan menerima kehadiran
sang putri dengan lapang dada. Putri kecil itu ia beri nama Hanas.
_____
Dua setengah bulan
kemudian. Kebahagiaan kembali terdengar di rumah sakit yang sama. Kali ini,
kehadiran putri penguasa terkaya pula yang menggemparkan rumah sakit tersebut.
Rumah sakit itu gempar karena kedatangan orang-orang terkenal hanya untuk
mengucapkan selamat pada Brian dan Kania.
Kebahagiaan Brian dan
Kania kini terlihat sangat sempurna dengan kehadiran bayi kecil yang cantik
jelita itu. Bayi itu tentunya mewarisi kesempurnaan fisik dari kedua orang
tuanya. Bayi kecil itu Brian beri nama Yolanda, yang mereka panggil dengan
nama, Yola.
Beberapa hari setelah
ia melahirkan anaknya, Kania dirundung pertanyaan akan keberadaan orang paling
dekat dengannya selama ini. Semua telah ia lihat dan telah memberikan selamat
padanya. Tapi … Ana dan Jio, yang selama beberapa tahun terakhir sangat amat
dekat, sampai saat ini belum juga ia lihat keberadaannya.
“Brian, di mana mbak
Ana dan mas Jio? Kenapa mereka sama sekali belum terlihat sampai sekarang?
Bukankah seharusnya, mereka sudah ada di sini untuk melihat putri kita?”
Kania menghujani Brian
dengan banyak pertanyaan. Pertanyaan yang tidak tahu bagaimana Brian harus
menjawabnya.
Brian terdiam, matanya
melirik papanya yang ada di samping dia. Berharap sang papa bisa membantu
mengalihkan pertanyaan itu walau tidak untuk selamanya.
“Brian. Kenapa kamu
diam saja? Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Kania dengan tatapan tajam ke arah
Brian.
“Itu … aku tidak tahu
sayang. Mungkin, mereka sedang berada di luar negeri barangkali.” Brian berucap
sambil membelai rambut Kania dengan lembut.
“Berada di luar
negeri? Tidak mungkin.”
"Lho, kenapa
tidak mungkin, Kania sayang? Bukankah … "
“Kapan mereka
berangkat?” tanya Kania memotong perkataan Brian dengan cepat.
“Itu … ke–kemarin. Ya,
kemarin.”
Brian terlihat sangat
gugup saat menjawab pertanyaan Kania barusan. Hal itu membuat Kania yang
sebelumnya tidak yakin, semakin tidak yakin lagi. Kania menatap Brian dengan
tatapan tajam.
“Brian, apa yang kamu
sembunyikan dari aku? Cepat katakan!”
“Augh. Perut papa
sakit. Brian, bisakah papa minta kamu bantu papa belikan obat sebentar?” tanya
David berusaha mengalihkan perhatian Kania.
“Iya, Pa. Aku akan
belikan.”
“Tunggu! Brian, jangan
pergi dulu.”
“Sayang, sebentar ya.
Biar aku belikan obat papa dulu.”
"Tapi Brian …
Di saat yang sama
pula, Johan tiba-tiba masuk ke kamar tersebut dengan senyum di bibirnya.
Namun sayang, senyum itu tiba-tiba lenyap ketika Brian dan Davidson memberikan
tatapan tajam padanya yang baru datang.
“Tu–tuan muda, tuan
David. Apa … apa yang …”
“Kebetulan kamu
datang, Johan. Papa sakit perut, dia ingin obat. Kamu bisa tolong antar kan
papa berobat?” tanya Kania dengan suara pelan namun terdengar kesal.
Komentar
Posting Komentar