Episode 84 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 84 Perjodohan Membawa Bahagia
Brian memahami apa yang Kania rasakan. Dengan rasa bahagia, ia mengikuti apa yang Kania katakan. Merekapun beranjak meninggalkan toko tersebut untuk pulang ke rumah.
Sampai di gerbang
masuk vila Camar, Kania dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang tentunya
sangat ia kenali sosok itu dengan dangat baik. “Papa,” ucap Kania dengan rasa
tak percaya ketika melihat sosok papanya berada di gerbang vila.
Awalnya, Brian tidak
mengizinkan Kania turun. Tapi, ketika Burhan memaksa dengan cara memohon-mohon
dengan segenap jiwa dan raganya. Akhirnya, Kania luluh juga.
Tidak ingin melihat
Kania kecewa, Brian terpaksa menuruti apa yang Burhan inginkan. Ia pun
mengizinkan Kania untuk turun dan bicara empat mata dengan Burhan.
Ketika melihat Kania
turun dari mobil, Burhan langsung menghampiri dan memeluk tubuh Kania dengan
erat. Tidak lupa, air mata mengucur deras membasahi pipi, tanda penyesalan
sudah menyelimuti hatinya saat ini.
"Anak ku … "
Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan sebagai tanda penyesalan yang mungkin
sudah tidak ada artinya lagi.
“Aku orang tua paling
buruk yang pernah hidup di atas muka bumi ini. Aku tidak pantas mendapat maaf
dari kamu, Nak. Untuk itu, aku tidak akan mengucapkan kata maaf padamu, karena
aku tahu, aku tidak berhak menerima kata maaf itu.”
Kania hanya terdiam
mematung saat papanya merangkul tubuhnya dengan deraian air mata. Tidak berniat
membalas, atau menolak pelukan itu. Karena hatinya saat ini, terdapat dua
bagian yang saling berlawanan.
Satu sisi hatinya
merasa sangat bahagia karena diakui sebagai anak dan mendapat pelukan hangat
dari sang papa yang selama ini tidak pernah melakukan hal itu sekalipun selama
ia hidup di atas muka bumi ini. Sedangkan sisi yang lain, ia benci dan merasa
marah dengan sang papa. Sayangnya, hati lembut itu lebih banyak merasakan
kebahagiaan dari pada rasa benci.
Brian menghampiri
Burhan yang masih memeluk Kania. Ia tersenyum mengejek ke arah Burhan.
“Cih, sudah seperti
ini, baru sadar dan mengharap maaf. Benar-benar kasihan sekali anda tuan
Burhan.”
“Benar apa yang orang
katakan, penyesalan itu datangnya belakangan. Jadi, seharusnya anda bijak
sedari kemarin-kemarin. Bukan sekarang, setelah nasi menjadi bubur.”
“Aku akan makan bubur
itu, tuan muda. Meskipun itu sudah bubur, aku akan tetap makan dengan senang
hati.” Burhan berucap sambil melepaskan Kania dari pelukannya.
Burhan mengambil
tangan Kania untuk ia genggam. “Kania, aku adalah papa paling bodoh yang ada di
atas dunia ini. Aku telah menyia-nyiakan anak kandungku sendiri. Aku tidak
pantas untuk kamu maafkan, Nak. Tapi … izinkan papamu menebus kesalahan ini,
meskipun kesalahan yang telah aku buat tidak bisa ditebus dengan cara apapun.
Tapi setidaknya, aku sedikit merasa lega.”
“Kania, izinkan papa
tinggal dan merawat kebun peninggalan mendiang nenekmu yang ada di desa. Dengan
begitu, papa bisa merasakan sedikit rasa tenang dengan mengabdikan diri di
sana.”
Kania masih diam
membisu. Ia tidak menjawab perkataan papanya sepatah katapun sejak tadi.
Membuat hati Burhan yang sedih, semakin sedih.
“Aku tahu kamu tidak
akan mau bicara padaku, Kania. Karena kesalahan yang aku buat, kamu pasti
sangat membenci aku. Kamu pasti memberikan semua kebencian itu untukku. Tapi
anakku, aku mohon. Bicaralah! Bicaralah walau hanya satu kata, iya. Dengan
begitu aku tahu, kalau kamu mengizinkan aku ke sana.”
Kania menarik napas
panjang. Burhan yang masih tidak mendapatkan jawaban dari anaknya, kini tidak
bisa menahan diri lagi. Tubuhnya merosot jatuh ke bawah. Burhan ingin berlutut
pada Kania.
Melihat papanya yang
turun untuk berlutut, Kania dengan cepat mencegah niat papanya itu. “Jangan,
Pa! Apa yang papa lakukan? Jangan!”
“Papa tahu kamu tidak
akan memaafkan papa walau papa sudah berlutut padamu, Kania. Tapi setidaknya,
papa merasa senang sekarang. Karena kamu mau bicara pada papa.”
“Papa tidak perlu
minta maaf padaku, Pa. Karena yang sama-sama kita ketahui adalah, aku ini bukan
anak papa. Jadi, untuk apa papa minta maaf padaku?”
“Kania … papa salah,
Nak.”
“Tidak, papa tidak
salah. Aku memang bukan anak papa. Jadi sebaiknya, papa tidak perlu menemui aku
lagi. Apa papa lupa? Bukankah kita sekarang tidak ada hubungan lagi?”
Burhan tertunduk
dengan air mata yang tak bisa ia tahan. “Aku tahu kamu benci aku atas apa yang
telah aku lakukan padamu selama hidupmu, Kania. Untuk itu, aku tidak akan minta
maaf. Tapi, aku mohon, izinkan aku mengabdi di desa untuk mencari sedikit saja
rasa lega untuk hati yang dipenuhi rasa bersalah ini.”
“Terserah!” ucap Kania
dengan nada tak perduli.
“Terima kasih, Kania.
Papa pergi dulu,” kata Burhan sambil beranjak meninggalkan gerbang vila Camar.
Kania menatap punggung
itu. Punggung yang berjalan semakin menjauh menghilang di balik mobil yang tak
lama juga lenyap dari pandangan. Kania yang berusaha kuat beberapa saat yang
lalu, kini terjatuh ke dalam pelukan Brian yang sedari tadi sudah berada di
sampingnya.
“Brian. Aku adalah
anak yang paking jahat di muka bumi ini,” ucap Kania sambil menangis di dalam
pelukan Brian.
"Kania … "
"Aku adalah
manusia paling kejam, Brian. Aku anak durhaka yang memberikan pelajaran pada
papaku sendiri. Aku … "
“Sssttt. Sayang,
tenang. Kamu tidak jahat. Aku tahu kalau kamu sebenarnya sangat tidak
menginginkan semua ini, bukan? Hanya saja, papamu mungkin pantas mendapatkan
perlakuan ini untuk menghukum dia agar sadar, apa yang ia lakukan kemarin,
adalah salah.”
"Tapi, Brian …
"
“Sayang, gini aja.
Kita akan datang ke rumah papamu nanti untuk minta maaf. Tapi sekarang,
sebaiknya, kamu istirahat dulu agar pikiranmu menjadi tenang. Bagaimana?”
Kania setuju dengan
apa yang Brian tawarkan. Merekapun masuk ke dalam untuk menenangkan hati Kania.
_____
Malam harinya, Kania
dan Brian mendatangi rumah sang papa. Tidak ada siapa-siapa di sana. Rumah itu
sekarang kosong tanpa penghuni.
Beberapa ibu-ibu yang
baru pulang dari surau melewati depan rumah papa Kania. Untuk mencari tahu ke
mana sang papa, Kania segera menghampiri ibu-ibu itu untuk bertanya.
“Maaf ibu, apa kalian
ada yang tahu di mana papaku?” tanya Kania dengan sopan.
“Mbak Kania?” tanya
salah satu dari tiga ibu rumah tangga yang sedang membawa mukena di tangan
mereka.
“Iya. Saya Kania.”
“Walah. Cantiknya mbak
Kania sekarang.” Puji ibu itu dengan rasa kagum. Kania hanya tersenyum saja
mendapatkan pujian hangat itu.
“Oh ya, hampir lupa
menjawab apa yang mbak Kania tanyakan. Papa mbak Kania tadi sore berangkat,
mbak,” kata ibu itu lagi.
“Berangkat? Ke mana,
Bu?”
“Katanya … ke desa,
mbak. Kalau gak salah dengar sih,” ucap ibu yang lain pula.
“Ke desa?”
“Iya.”
Komentar
Posting Komentar