Episode 7 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 7 Perjodohan Membawa Bahagia
Ibu dan anak itupun saling tatap untuk sesaat kemudian sama-sama menarik senyum atas keberhasilan mereka dalam memancing emosi Kania. Kemudian, mereka bergegas masuk mengikuti langkah kaki Kania.
“Bicaralah apa yang
ingin kalian bicarakan!” kata Kania setelah mereka berada di dalam kamar.
“Kami akan membuat
sebuah penawaran untuk kamu Kania.”
“Penawaran apa?”
“Papamu ingin
menjodohkan salah satu anaknya dengan anak pewaris Aditama grup. Aku yakin,
kamu pasti pernah mendengar tentang anak dari pewaris perusahaan terkenal itu
bukan?”
“Lalu, kenapa kamu
bicarakan soal ini padaku? Papa pasti tidak ingin menjodohkan aku dengan anak
orang kaya itu, bukan? Papa pasti ingin anak kesayangannya yang menikah dengan
pewaris Aditama grup itu. Iya kan?”
“Kak Kania benar. Papa
memang ingin aku yang menikah dengan Brian. Tapi, aku tidak bisa menikah
dengannya. Karena aku tidak mencintai laki-laki itu. Aku ingin menikah dengan
orang yang aku cintai, bukan laki-laki yang tidak aku kenali.”
“Kamu tidak ingin
menikah dengan laki-laki yang tidak kamu kenali, atau … karena laki-laki itu
lumpuh?”
"Kak Kania …
"
“Cukup. Kami ke sini
bukan untuk mendengarkan celotehan kamu yang tidak penting ini Kania. Tapi,
kami datang ingin membuat kesepakatan dengan kamu. Kamu yang menikah dengan laki-laki
itu, atau kamu kehilangan taman bunga milik nenekmu.”
“Kamu tinggal pilih
saja mana yang kamu inginkan. Menikah dan pergi dari rumah ini, atau kehilangan
taman bunga yang telah nenekmu persiapkan sebagai kado ulang tahun terindah
untuk cucunya. Semua pilihan ada di tangan kamu, Kania.”
Kania terdiam. Ia
memikirkan setiap detail kata-kata yang Salma ucapkan.
‘Ya Allah, mungkin ini jalan terbaik yang telah engkau sediakan. Dengan
menikah, aku bisa keluar dari rumah ini dan terbebas dari siksaan rumah yang
sama sekali tidak mirip dengan rumah, melainkan, lebih mirip neraka dunia
bagiku. Semoga ini takdir hidup terbaik buat aku,’ ucap Kania dalam hati.
‘Lagipula, aku tidak
ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Tidak masalah aku menikah dengan siapa.
Asalkan, aku bisa bebas dari sini itu sudah cukup. Tidak penting ia lumpuh atau
jelek sekalipun. Yang penting, ia mampu membawa aku pergi jauh dari rumah ini.
Semoga saja dia tidak kasar, itu adalah harapan terbesarnya. Karena jika kasar,
itu akan sama saja dengan lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya.’
‘Persetan dengan
cinta. Karena aku tidak akan percaya lagi dengan yang namanya cinta. Cih,
persetan dengan cinta. Karena itu semua hanyalah dusta belaka. Kata-kata manis
dari laki-laki yang di katakan cinta, setan! Tidak ada gunanya,’ kata Kania
terus bicara dalam hati.
“Kania, apa jawabanmu?
Sampai kapan kami harus berdiam diri di kamar pengap mu ini, hah?” tanya Salma
mendadak kesal karena Kania terus diam sejak lebih dari lima menit yang lalu.
“Baiklah, aku akan
terima tawaran kalian. Tapi dengan satu syarat.”
“Lho, siapa kamu yang
bisa mengajukan syarat pada kami, hah?” tanya Zara dengan nada kesal.
“Ya sudah kalau tidak
mau. Aku tidak akan bersedia menggantikan kamu menikah dengan laki-laki lumpuh
itu.”
“Mama.”
“Jangan banyak bicara,
Kania. Katakan apa syarat yang kamu inginkan. Jika bisa melakukan, maka akan
kami lakukan. Tapi jika tidak, maka kamu sendiri yang akan tanggung akibatnya
jika tidak ingin menikah dengan Brian.”
“Syaratnya gampang
kok. Aku yakin kalian bisa melakukan syarat yang aku berikan.”
“Apa? Cepat katakan!
Jangan buang-buang waktu kami berdiri di sini terlalu lama.”
“Aku ingin kalian
mengembalikan sertifikat milik almarhumah nenekku. Dengan begitu, aku akan
menikah dengan Brian sesuai yang kalian inginkan.”
“Baiklah. Aku akan
berikan sertifikat harta yang tidak berharga itu. Tapi, kamu juga harus
mengikuti apa yang kami katakan.”
“Apa yang kalian
inginkan lagi dariku?”
“Berlakulah
seolah-olah kamu yang menginginkan sendiri pernikahan ini. Bukan kami yang
meminta kamu menerimanya. Dengan begitu, setelah ijab kabul selesai, maka aku
akan berikan sertifikat yang kamu mau.”
“Baik. Aku setuju.”
“Kita sepakat.”
“Zara, ayo pergi! Pembicaraan sudah selesai,” kata Salma sambil menarik tangan
Zara untuk ia bawa keluar.
"Tapi, Ma …
" Zara terlihat sedikit enggan untuk meninggalkan kamar itu karena ada
sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
“Ayo! Untuk apa kita
berada di kamar pengap ini, sedangkan pembicaraan sudah selesai,” kata Salma
sambil memberikan tatapan tajam pada anaknya.
Zara yang merasa
sedikit merinding dengan tatapan itu segera mengikuti apa yang mamanya katakan.
Mereka segera meninggalkan kamar Kania.
Kania hanya bisa
melihat pertunjukan itu dengan tatapan santai tanpa ingin ambil pusing dengan
semua itu. Ia kembali membaringkan tubuhnya setelah pintu kamar tertutup rapat.
“Tidak ada salahnya
aku menerima apa yang mereka tawarkan. Lagipula, pura-pura kalau aku yang ingin
sendiri menikah dengan laki-laki lumpuh itu demi mendapatkan sertifikat, itu
adalah hal yang tidak sebanding. Karena selama ini, orang yang aku sebut papa
itu juga tidak pernah menganggap aku anak.” Kania berucap sambil menatap
langit-langit kamarnya.
“Heh, menyedihkan,”
ucap Kania sambil tersenyum pilu menertawakan nasib dirinya.
Sementara itu, di luar
sana, Zara dan mamanya sedang berdiri di depan kamar milik Zara.
“Ikut aku ke kamar, Ma. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mama,” kata Zara
dengan nada kesal.
“Mau bicara apalagi
dih, Zar? Mama harus cepat turun ke bawah ini. Papamu sedang menunggu mama di
kamar sekarang.”
“Ikut saja, Ma. Karena
kita memang butuh bicara berdua sekarang juga.”
“Ya sudah. Mama ikut
kamu, tapi jangan lama-lama bicaranya.”
“Gak akan lama jika
mama menjawab apa yang aku tanyakan dengan cepat,” kata Zara sambil masuk ke
kamar diikuti mamanya dari belakang.
Sampai di kamar, Zara
langsung menatap mamanya dengan tatapan tak percaya.
“Aku ingin bertanya sama mama. Apa mama benar-benar ingin menyerahkan
sertifikat yang Kania miliki, Ma?”
“Apa mama tidak mikir
dulu apa? Kalau kita serahkan sertifikat itu pada Kania, maka kita akan
kehilangan senjata untuk mengancam Kania nantinya. Apa mama tidak takut, kita
kehilangan senjata?”
“Mama jangan lupa, Ma.
Tujuan besar kita yang sesungguhnya masih belum tercapai. Mama tidak takut
kalau Kania tidak bisa kita ancam lagi jika mama serahkan sertifikat itu. Lalu,
kita tidak akan mendapatkan sepeser pun harta keluarga ini. Apa mama mau
begitu?”
Salma tersenyum
mendengar semua keluh kesah yang putrinya sampaikan. Sejak awal, ia sudah
menebak apa yang sedang mengganjal pikiran anaknya. Namun, ia biarkan sampai
anaknya selesai mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hati.
“Kenapa mama malah
tersenyum sih, Ma? Jawab apa yang aku tanyakan! Jangan malah senyum aja. Mama
gak tahu apa, aku sedang cemas sekarang. Aku serius lho, Ma.”
Komentar
Posting Komentar