Episode 68 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 68 Perjodohan Membawa Bahagia
Setelah menerima perintah itu, Johan langsung menjalankan tugas sesuai yang Brian perintahkan. Malam itu juga, polisi menerima dan memproses permohonan yang Johan ajukan.
Setelah kabar duka itu
sampai ke telinga Davidson, malam itu juga, Davidson memutuskan untuk berangkat
pulang ke tanah air dengan jet pribadi miliknya. Tentunya, dengan mama Sintya
yang juga ikut bersama dia pulang untuk melihat jasad sang anak.
Tangis sedih menghiasi
perjalan mereka pulang ke tanah air. Hal yang tidak mereka sangka-sangka, kini
telah terjadi dan menimpa mereka saat ini.
Sementara itu, Brian
pulang ke rumah bersama Rian. Sedangkan Johan, terpaksa tinggal di rumah sakit
karena beberapa alasan.
Saat Brian sampai ke
rumah, ia menemukan Kania sudah terlelap di kamar tamu dengan di temani bu
Ninik. Melihat Kania yang sudah terlelap dengan nyenyak bersama bu Ninik di
sampingnya, Brian tidak ingin mengganggu. Ia membiarkan Kania tetap terlelap,
bermain di alam mimpi.
Brian memilih kamar
sebelah untuk ia berbaring mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Ia ingin segera
tertidur agar apa yang ada dalam pikirannya saat ini bisa ia lupakan walau
hanya sejenak saja. Tapi sayangnya, ia tidak bisa memaksa mata untuk tidur.
Yang ada, mata itu enggan untuk terpejam karena beban pikiran yang sedang
memberatkan benaknya.
Berjam-jam sudah
berlalu. Matanya masih tidak mau tidur. Ia mencoba menghubungi Johan yang
berada di rumah sakit untuk menanyakan keadaan di sana. Panggilan itu tidak
Johan jawab, walau Brian sudah mencoba beberapa kali.
“Ya Tuhan … apakah dia
tidur di sana? Atau … apa mungkin terjadi masalah yang sedang ia usaha
selesaikan?” tanya Brian mencoba menebak.
Jam menunjukkan pukul
tiga pagi saat Johan menghubungi Brian kembali. Dengan cepat, Brian menjawab
panggilan tersebut karena sekarang, dia memang sedang sibuk mengutak-atik
ponselnya.
“Ya Jo, ada apa?”
tanya Brian dengan dada sedikit berdebar-debar.
"Maaf kan saya
tuan muda, karena menghubungi tuan muda jam segini. Saya cuma mau bilang …
"
“Anak kurang ajar!
Tidak punya perasaan sama sekali kamu! Ke rumah sakit sekarang!”
Suara keras
menggelengar membuat Brian kaget bukan kepalang. Ia sangat mengenali suara yang
sedang berteriak melalui ponselnya barusan.
“Ya Ampun, ternyata
sudah sampai.” Brian berucap sambil mengusap kasar wajahnya.
“Tidak bisakah ia
menunggu besok pagi saja datangnya?” Brian bertanya pada dirinya sendiri.
Ia lalu bangun dari
duduknya, kemudian menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Brian menatap
wajahnya beberapa saat.
Bunyi ponsel kembali terdengar, membuat Brian bergegas menyelesaikan apa yang
ingin ia kerjakan.
Panggilan dari Johan
kembali masuk ke ponsel Brian. Dengan rasa malas, Brian menjawab panggilan
tersebut.
“Ya Jo, ada apa lagi?”
“Kenapa kamu belum
datang, hah!” Itu bukan suara Johan melainkan suara papanya.
Brian menarik panas
panjang sebelum menjawab. Kemudian melepas napas itu perlahan. “Baiklah, aku ke
sana sekarang.”
Panggilan langsung
terputus secara sepihak tanpa ada kata penutup sama sekali. Brian pun beranjak
meninggalkan kamar tersebut. Sebelum pergi, ia sempatkan dirinya untuk melihat
Kania yang sedang berada di kamar tamu.
Kania masih tertidur
nyenyak di sana sekarang. Brian tersenyum melihat wajah polos tanpa beban itu
sedang menikmati tidurnya indahnya.
Setelah mengecup pelan kening Kania, Brian langsung meninggalkan kamar
tersebut.
______
Mobil yang Brian
kendarai bersama pak Hadi akhirnya sampai di rumah sakit. Brian langsung keluar
dari mobil tersebut dan bergegas menuju kamar di mana jasad Sintya berada.
Baru juga melihat
wajah Brian, papanya langsung saja menghadiahkan sebuah pukulan pada Brain
tanpa bicara terlebih dahulu. Brian yang tidak tahu akan mendapatkan pukulan
tersebut, terhuyung akibat kerasnya dari pukulan itu.
“Tuan muda!” Johan
kaget bukan kepalang. Ia segera menghampiri Brian dan membantu Brian untuk
terap tegak.
“Anak kurang ajar kamu
Brian! Bagaimana bisa adik sepupumu bunuh diri, hah!” Papanya terlihat sangat
sedih, marah, dan kesal.
Brian tidak menjawab.
Ia hanya diam sambil memegang sudut bibirnya yang terasa sangat perih.
Tantenya segera datang
dengan wajah penuh air mata. “Apa yang terjadi pada adikmu Brian? Kenapa bisa
seperti ini?”
Brian menatap tajam
wajah tantenya. Ia menepis tangan Estri yang ingin menyentuh dirinya. “Ini
semua karena kamu! Kamu yang telah menyebabkan semua ini terjadi!” Brian
berucap dengan nada tinggi karena saat ini, ia begitu emosi ketika melihat
wajah tersiksa yang tantenya perlihatkan.
“Brian! Apa kamu sudah
gila! Di mana sopan santun mu sebagai keponakan, hah!” Davidson yang kesal
semakin dibuat emosi dengan sikap Brian barusan.
“Johan. Berikan
salinan surat itu pada tuan Davidson. Biar dia baca dengan seksama dan dia
pahami apa yang sebenarnya terjadi selama ini,” ucap Brian pada Johan tanpa
menjawab perkataan papanya.
“Baik tuan muda,” ucap
Johan sambil merogoh saku celananya.
“Surat apa? Ada apa
sebenarnya?” tanya Estri penasaran.
Johan langsung
menyerahkan salinan surat yang Sintya tulis pada Davidson tanpa memperdulikan
Estri sedikitpun.
“Ini surat yang nona Sintya tulis dan tanda tangani sendiri sebelum nona Sintya
bunuh diri, tuan besar.”
Davidson menerima
dengan perasaan penasaran. Lalu, ia buka surat itu, dan baca isi surat itu
secara seksama. Mata Davidson melebar ketika ia membaca kata demi kata yang
tertulis di atas kertas putih tanpa garis tersebut.
Davidson menggenggam
erat tangannya ketika ia selesai membaca semua kata yang ada di kertas
tersebut. Ia kesal dan sangat menyesali apa yang telah terjadi selama belasan
tahun ini.
"Estri! Kamu …
"
"Ada apa sih,
Mas? Kenapa kamu berteriak padaku hah! Apa … "
“Lihat dan baca ini!”
kata Davidson sambil menyerah kertas tersebut dengan kasar.
Estri menerima surat
itu dengan perasaan campur aduk. Ia pun segera mencari tahu apa yang sebenarnya
ada dalam surat itu. Mata Estri melotot ketika melihat pesan-pesan yang
tertulis di atas kertas tersebut.
“Tidak! Ini tidak
benar! Kalian pasti sedang mengarang cerita, bukan? Aku yakin, kalau kalian
pasti sedang mengarang cerita untuk membuat aku menjadi bersalah,” ucap Estri
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mas David. Mereka
bohong, masa kamu percaya dengan kebohongan yang mereka buat. Aku yakin, kalau
mereka sudah mengarang tulisan ini untuk melindungi diri mereka,” ucap Estri
berusaha meyakinkan Davidson.
“He … tante-tante.
Kamu terlihat sedang sangat ketakutan sekarang. Kenapa? Apa kamu merasa kalau
kami memang sedang mengarang cerita?”
“Tante Estri. Tante
tiri ku. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh ke bawah juga.
Jadi, untuk apa kami mengarang cerita?”
“Selama belasan tahun
kamu menyembunyikan sebuah kebenaran. Menutup rapar-rapat kebohongan dari kami
semua. Menjadi duri dalam daging buat keluarga kami. Kau sungguh kejam. Tapi …
bukan itu kekejaman kamu yang sesungguhnya, tante.”
Komentar
Posting Komentar