Episode 67 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 67 Perjodohan Membawa Bahagia
Hal itu bisa Kania lihat dari tatapan mata Brian yang sedang berusaha Brian tutupi. Rasa sedih itu berusaha ia singkirkan. Tapi bagaimanapun, Kania yang punya sedikit sifat peka, tetap bisa merasakan dan memahami rasa yang Brian coba sembunyikan itu.
“Brian. Sudah
bicaranya. Ayo berangkat sekarang karena hari akan semakin malam. Lagipula,
mereka sedang menunggumu untuk menyelesaikan semuanya,” ucap Kania sambil
menyentuh lengan Brian dengan lembut.
Sentuhan lembut itu
menyadarkan Brian. Ia segera menarik senyum di sudut bibirnya. Senyum hambar
yang ia coba perlihatkan pada Kania agar Kania tidak ikut merasakan apa yang ia
rasakan.
“Baiklah. Aku
berangkat sekarang. Ayo antar kan aku sampai depan pintu! Aku janji, tidak akan
pulang larut.”
“Iya. Aku tunggu kamu
pulang nantinya.”
Mereka pun beranjak
meninggalkan kamar menuju lantai dasar. Vila Camar pun gempar akibat kabar duka
yang Brian sampaikan.
______
Sampai di rumah sakit,
Brian langsung di sambut oleh Johan dan Rian. Mereka menjelaskan semua yang
terjadi.
Tidak banyak komentar
yang Brian berikan. Kemudian, ia langsung melihat jasat Sintya yang masih
berada di ruang otopsi untuk di selidiki lebih lanjut oleh pihak berwajib.
Di sela-sela kesibukan
Brian, seorang suster datang menghampiri Brian dengan membawa kertas di
tangannya. Suster itu adalah suster yang sama dengan suster yang menyerahkan
kertas tersebut pada Sintya sebelumnya.
“Maaf tuan muda,
Brian. Saya ingin menyerahkan sebuah pesan yang saya temukan di kamar pasien
sebelumnya. Ini dia,” kata suster tersebut langsung menyerahkan kertas yang ia
bawa tanpa menunggu Brian mengangkat mulut untuk bicara.
Brian menerima kertas
tersebut dengan rasa canggung akibat penasaran. Johan dan Rian melihat kertas
tersebut dengan seksama. Mereka juga ikut merasakan rasa penasaran sama seperti
yang Brian rasakan.
“Tugas saya sudah
selesai. Saya permisi dulu, tuan muda,” ucap suster tersebut dengan sopan.
“Terima kasih banyak
telah menyampaikannya padaku,” ucap Brian saat suster itu sudah membalikkan
badan dan berniat untuk pergi.
“Sama-sama tuan muda.
Saya menemukannya dan saya pikir itu sebuah amanah. Karena ada pesan di depan
kertas tersebut untuk siapapun yang menemukan kertas itu. Jadi, saya pikir,
siapapun yang menemukan kertas itu pasti akan melakukan hal yang sama.”
“Yah.” Brian berucap
singkat.
Suster itupun beranjak
dari tempatnya sambil melirik Brian. Kemudian, ia melirik Johan yang sedari
tadi menatapnya dengan tatapan yang tidak ia pahami.
Saat Brian membuka
kertas tersebut, ia langsung mengenali tulisan itu. Tulisan tangan Sintya sejak
dulu sampai sekarang, masih sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun.
Brian lalu membaca tulisan tersebut dengan seksama.
~Kak Brian tersayang.
Jika kamu temukan surat ini, aku yakin, saat itu aku sudah tidak ada lagi di
dunia ini. Aku sudah pergi jauh, sejauh mungkin meninggalkan kamu. Aku doakan,
agar kamu bahagia selamanya dengan pilihan hatimu. Tapi tunggu! Surat ini
sebenarnya aku tulis bukan untuk menyampaikan apa yang ada dalam hatiku,
melainkan, aku ingin mengungkapkan sebuah rahasia yang selama ini tersimpan
rapat, terkubur dengan sangat baik.
~Pertama. Kak Brian.
Aku ingin kamu menyampaikan permintaan maaf ku pada om David papamu. Katakan
padanya, kalau aku, Sintya yang ia sayangi ini, bukanlah gadis kecil yang
pernah menemani dia saat dia sakit belasan tahun yang lalu. Gadis kecil yang
menemani dia tak lain adalah kak Ratna, kakak angkat ku yang telah tiada. Aku
minta maaf karena telah membohongi dia selama belasan tahun dengan menyamar
sebagai kak Ratna. Padahal, yang berjasa bukan aku melainkan kak Ratna. Untuk
itu, aku mohon agar om David memaafkan aku.
~Kedua, aku ingin
katakan, kalau kecelakaan kak Ratna itu adalah ulah aku. Aku merasa dia tidak
pantas hidup di atas muka bumi ini lagi, karena dia anak angkat, tapi berhasil
merebut hati kakak sepupuku. Aku kesal dan marah padanya. Tapi … rencana
sabotase mobil kak Ratna itu adalah ide dari mamaku. Dan mama jugalah yang
menyewa orang untuk merusak mobil kakak angkat ku itu. Yang paling parahnya
lagi, mama meminta adik tirinya ikut bersama kak Ratna dalam perjalanan itu.
Belakangan, aku baru tahu, kalau mama sebenarnya sangat membenci adik tirinya
yang telah ia yakini menjadi perebut orang terkaya yang seharusnya menjadi
suami dia. Ia semakin benci dengan mamamu kak Brian, setelah ia melihat kalian
hidup bahagia sedangkan dia merasa, dirinya menderita. Apalagi setelah
meninggalnya papaku, mama menjadi semakin merasa tersiksa. Saat itulah, ambisi
lama mamaku untuk merusak keluarga kalian yang sudah terkubur kembali bangun.
Perlahan, mamaku menjadi duri dalam daging yang menciptakan keretakan dalam
keluarga kalian secara perlahan namun pasti keberadaannya. Hal itu memicu
perselisihan kita semua. Dan, keberadaan ku di sini hanyalah sebagai pion catur
yang mamaku sediakan untuk menjadi senjata perusak yang bisa ia jalankan sesuka
hati. Aku menyesali hal itu sebenarnya, namun aku sayang mamaku.
~Ketiga. Kak Brian,
aku tahu kalau mama ku pasti akan menyalahkan kamu atas kepergian mendadak aku
ini. Aku mohon, sampaikan padanya permintaan maaf ku. Karena aku tidak sanggup
untuk melihat mama berbuat jahat lagi, dan katakan juga, kalau ini bukan salah
kamu. Ini murni keinginan hatiku yang sudah tidak kuat berada di dunia kejam
ini lagi. Mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan padamu. Aku tidak akan
merasa keberatan jika kamu ingin menegakkan keadilan untuk yang bersalah.
Salam manis dari adikmu ....
Sintya
Kesedihan perlahan
menyelimuti hati Brian saat membaca pesan yang Sintya tulis. Ketika pesan itu
berakhir, air matanya pun jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia sudah berusaha kuat
sejak tadi, tapi sekarang, usahanya itu harus gagal karena kesedihan tidak bisa
ia tahan.
Brian pun melipat
kembali kertas persegi panjang itu menjadi empat bagian, seperti sebelumnya.
Lalu, ia serahkan kertas tersebut pada Johan.
“Tuan muda.” Johan
terlihat ikut merasakan suasana sedih.
“Serahkan kertas ini
pada polisi! Aku ingin polisi membuka kembali kasus kecelakaan mama dan Ratna
yang sebelumnya telah dianggap selesai. Dan … hubungi papaku, katakan kabar
duka ini padanya.”
“Baik tuan muda. Akan
saya laksanakan segera,” ucap Johan sambil menerima kertas yang Brian ulurkan.
“Lalu, bagaimana
dengan nyonya Estri tuan muda? Apa kita tidak akan menghubungi dia?”
“Tidak perlu.”
“Tidak perlu?” tanya
Johan agak bingung.
“Ya. Kita tidak perlu
menghubungi tanteku. Karena aku yakin kalau papa akan menghubungi dia. Oh ya,
jangan katakan soal surat ini pada papa, atau tanteku tidak akan datang karena
ia takut akan kesalahan yang ia buat.”
“Baik tuan muda. Saya
memahami maksud dari kata-kata yang tuan muda ucapkan.”
Komentar
Posting Komentar