Episode 66 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 66 Perjodohan Membawa Bahagia
“Nona Sintya!” Johan berteriak memanggil nama Sintya dengan cemas.
“Apa yang akan kamu
lakukan, Nona! Tolong turun sekarang!” ucap Rian berusaha membujuk.
“Kalian. Untuk apa
kalian datang ke kamarku? Apa karena perintah dari kak Brian, ham?” tanya
Sintya sambil tersenyum.
“Tidak. Kami datang
bukan karena perintah dari tuan muda. Tapi, kami datang atas keinginan kami
sendiri. Karena kami merasa cemas dengan keadaan nona Sintya. Kami ingin
melihat bagaimana keadaan nona Sintya tadinya.”
“Nona, tolong turun. Kita bicarakan baik-baik,” kata Johan lagi dengan nada
memohon penuh harap.
Bukannya mendengarkan
apa yang Johan katakan, Sintya malah tersenyum ke arah Johan yang sedang
memasang wajah cemas.
“Sudah ku duga, kalau kak Brian sama sekali tidak memikirkan bagaimana
perasaanku sekarang. Jangankan perasaan, keadaanku saja dia tidak perduli,”
kata Sintya dengan nada pilu.
“Sampaikan pada kak
Brian ucapan maaf dariku. Aku tidak bisa bertahan di sini lagi.”
“Nona jangan gegabah.
Ayo turun dan bicara baik-baik,” kata Johan berusaha membujuk.
“He … bicara
baik-baik. Dengan siapa? Dengan kamu? Atau … dengan kak Brian?”
“Tidak. Aku rasa tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. Aku sudah hancur seperti
ini, maka tidak ada alasan lagi untuk aku tetap bertahan. Sampaikan saja maaf
ku pada kak Brian. Semoga dia bahagia bersama pilihan hatinya.”
“Nona Sintya. Saya
yakin kalau tuan muda masih bisa diajak bicara baik-baik. Karena dia punya hati
yang lembut, kok nona. Nona tenang saja. Saya akan bantu nona bicara nantinya,”
ucap Rian berusaha membujuk.
Sintya tertawa
mendengarkan kata-kata yang Rian ucapkan barusan. “Kamu hanya seorang kacung.
Mana kamu tahu bagaimana sifat keras kepala kak Brian. Jangankan kamu yang
bicara, papanya saja tidak mau ia dengarkan. Cih! Percuma!”
Rian kesal. Tapi tidak
bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia terpaksa menahan rasa kesal itu dengan
menggenggam tangannya erat-erat.
‘Ya sudah kalo gitu,
mati saja kamu sana. Hidup juga bikin susah,’ ucap Rian dalam hati.
"Nona, saya mohon
nona turun. Masih banyak yang bisa nona lakukan untuk menebus kesalahan nona
dan mengembalikan kepercayaan tuan muda pada nona. Juga, masih banyak orang
yang sayang pada nona. Nona tidak sendiri. Pikirkan bagaimana mama nona jika
nona tiba-tiba mengakhiri hidup. Nona … "
Perkataan Johan
tiba-tiba tertahan akibat kedatangan beberapa polisi dengan menodongkan senjata
mereka masuk ke dalam kamar tersebut. “Jangan bergerak! Angkat tangan kalian!”
kata polisi itu dengan nada tegas.
Melihat ke datangan
polisi, Sintya kaget dan tergelincir dari pijakannya. Tangannya yang tidak bisa
menggapai sanding jendela itu pun tidak bisa menahan tubuh untuk tidak jatuh ke
bawah.
"Aaaaaaaaa …
" Sintya terjatuh dengan jeritan yang memilukan.
“Nona Sintya!” Teriak
Johan dan Rian serentak sambil berlari menuju jendela.
Sayang, saat mereka
melihat ke bawah, tubuh Sintya sudah tergeletak di bawah sana dengan darah
segar yang mengalir. Meskipun ia jatuh di atas tumpukan rumput, tapi jatuh dari
lantai tiga, bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main.
Mereka pun bergegas
meninggalkan kamar tersebut untuk melihat tubuh Sintya yang jatuh di belakang
rumah sakit. Seketika, rumah sakit itu gempar akibat kejadian itu. Semuanya
panik, semuanya yang bisa melihat, pergi melihat. Keadaan sangat sibuk
gara-gara Sintya.
Saat dokter memeriksa
keadaan Sintya, denyut nadinya masih ada. Namun sayang, jatuh dari ketinggian
lantai tiga, tidak bisa membuat Sintya bertahan lama. Beberapa saat kemudian,
Sintya dinyatakan meninggal oleh tim medis.
Kabar itu sampai pada
Brian, saat Brian sedang berada di kamar bersama Kania. Senja menjelang malam,
ia sedang duduk di atas ranjang sambil mendengarkan Kania bercerita tentang apa
yang terjadi hari ini.
“Apa! Sintya
meninggal?” tanya Brian ketika Johan mengabarinya soal Sintya.
Kania yang
mendengarkan apa yang Brian ucapkan, ikut terlonjak kaget. Ia membulatkan
matanya lebar-lebar sambil menutup mulut.
“Baiklah. Saya ke sana
sekarang juga,” ucap Brian pada Johan.
Sambungan telpon
terputus. Kania segera bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Sintya.
“Sintya meninggal
akibat loncat dari lantai tiga rumah sakit. Aku akan ke sana sekarang.”
“Aku ikut,” ucap Kania
sambil bangun dari duduknya.
“Jangan Kania. Kamu
tunggu di rumah saja bersama bu Ninik dan pak Hadi.”
“Tapi Brian. Aku ingin
ikut.”
“Kania, kamu sudah
kecapean seharian ini. Sebaiknya, kamu tunggu di rumah saja. Aku akan ceritakan
padamu setelah aku pulang nanti. Lagipula, hari sudah malam. Aku mungkin akan pulang
larut. Kasihan kamu nantinya.”
"Tapi Brian …
"
“Dengarkan aku ya …”
Brian berucap sambil memegang pipi Kania dengan lembut.
“Aku tidak akan tenang jika kamu ikut aku. Soalnya, hari akan semakin malam
sedangkan kamu baru saja melewati hari yang sangat melelahkan. Kamu harus
istirahat sekarang agar aku tenang. Atau … aku tidak akan pergi ke rumah sakit
sama sekali.”
“Baiklah-baiklah. Aku
akan tinggal di rumah saja. Aku minta kamu hati-hati di luar sana. Jangan buat
aku cemas. Cepat pulang setelah kamu menyelesaikan semuanya.”
“Tentu saja.”
“Baik-baik di rumah. Aku akan minta bu Ninik menemani kamu di kamar nanti
sampai aku pulang.”
“Terserah kamu saja.
Aku juga masih butuh teman sebenarnya.”
“Kamu butuh teman, apa
butuh aku?” tanya Brian dengan nada menggoda.
"Brian. Kamu
apa-apaan sih? Apa tidak ada rasa bersalah sedikitpun atas kabar yang kita
dapatkan barusan. Kamu sepertinya tidak merasa berduka sedikitpun atas kabar
itu. Kamu ini bagaimana sih? Dia itukan … "
“Ssttt. Jangan
teruskan lagi,” ucap Brian sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Kania.
“Jika kamu tanya aku merasa bersalah atau tidak, jawabannya sudah pasti tidak.
Karena aku merasa tidak punya salah pada dia. Tapi, jika kamu tanya aku sedih
atau nggak, jujur, aku merasa sedih. Karena bagaimanapun, dia adalah adik
sepupuku. Walau cuma adik sepupu tiri.”
“Tapi … jika aku ingat
lagi bagaimana sikap dan prilakunya padamu, juga pada orang-orang yang aku
sayangi. Rasa sedih itu tiba-tiba hilang. Karena aku pikir, mungkin dia pantas
mendapatkan semua ini. Karena ini adalah karma buat dia. Karma karena telah
melukai orang-orang yang tidak punya salah padanya.”
“Akibat keserakahan
dan ambisi yang ada dalam hatinya, ia tiba-tiba menjadi sangat tega dan jahat.
Mungkin, inilah hukuman yang Tuhan berikan untuk dia. Untuk orang jahat,” kata
Brian sambil menatap nanar lurus ke depan.
Kania diam saja. Ia
tidak ingin menyela atau membantah apa yang Brian ucapkan. Karena sesungguhnya,
ia tahu betul apa yang Brian rasakan sekarang. Jauh di lubuk hati Brian yang
paling dalam. Ia pasti merasa sedih, terluka, dan kehilangan. Karena walau
bagaimanapun, Sintya juga adalah saudaranya.
Komentar
Posting Komentar