Episode 60 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 60 Perjodohan Membawa Bahagia
“Aku sudah menyerahkan harta yang memang tidak seharunya menjadi milikku pada yang berhak. Dengan begitu, aku harap, tidak ada masalah lagi sekarang,” ucap Kania sambil bangun dari duduknya.
“Tentu saja. Kamu bisa
kembali ke rumah suamimu sekarang juga,” ucap Burhan sambil melihat surat
tersebut dengan perasaan lega.
“Baiklah, papa. Terima
kasih untuk semuanya. Aku permisi. Semoga tidak ada kata menyesal pada papa
dikemudian hari kelak,” ucap Kania sebelum beranjak.
“Mama antar kamu
sampai depan pintu ya, Nak.” Salma bicara dengan nada sedih.
“Tidak perlu. Aku bisa
sendiri keluar dari rumah ini tanpa kamu antar.”
“Kania! Jaga bicaramu.
Jangan lupa, dia mama mu,” kata Burhan dengan nada tinggi.
“Maaf, Pa. Kita tidak
ada hubungan lagi mulai dari beberapa menit yang lalu. Jadi tolong, jaga bicara
papa padaku. Oh maaf, bukan papa, tapi tuan Burhan Hermansyah.”
“Kania!” Burhan
benar-benar kesal.
“Sudah, Pa. Jangan
emosi.” Salma bertidak seperti biasa.
“Kalian bisa
melanjutkan kemesraan kalian. Aku harus pergi sekarang. Permisi,” ucap Kania
dengan cepat beranjak meninggalkan ruang tamu rumah ini sambil menyeret koper
yang ada di sampingnya.
Salma tersenyum penuh
kemenangan sambil melihat kepergian Kania meninggalkan ruang tamu tersebut.
‘Cih. Kamu pikir kamu sudah menang sekarang, anak ingusan? Kamu salah Kania.
Salah besar jika berpikir kamu menang melawan aku,’ kata Salma dalam hati.
‘Kamu bisa bahagia
sekarang. Karena nanti, aku pastikan kamu akan menangis,’ kata Salma lagi.
Baru saja Kania keluar
dari pintu rumah itu, ia sudah di tarik oleh Zara. Kania yang kaget tidak bisa
melawan selain mengikuti apa yang Zara lakukan padanya.
“Kamu apa-apaan sih,
Zara? Ngapain malah narik tanganku, hah!”
“Ikut saja ke mana aku
akan membawa kamu! Karena ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
“Apa kamu tidak bisa
mengajak aku dengan cara baik-baik?”
“Kamu tidak pantas di
perlakukan dengan cara baik-baik, Kania. Kakak tiri ku tersayang.”
Mereka berhenti
berjalan saat sampai ke taman samping rumah. Zara melepaskan tangan Kania
dengan kasar.
“Aku ingin bicara,”
kata Zara sambil menatap Kania.
“Bicaralah selagi kamu
bisa.”
“Uh, jawaban yang
sedikit kasar menurut aku. Tapi … itu wajar sih kalau yang bicara itu kamu.
Karena kamu kan anak yang tak terdidik. Terus, menikah dengan orang yang
sama-sama tak terdidik pula.”
“Sudah cukup, jangan
terlalu banyak basa-basi, Zara. Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan
padaku. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini karena aku harus segera
pulang.”
“Ups, maafkan aku jika
nanti, aku menjadi penyebab kamu dimarahi di rumah suamimu. Aku sama sekali
tidak berniat kok, kakak Kania ku yang malang.”
“Kamu pasti harus cepat pulang untuk merawat suami cacat mu itu. Iya kan?”
“Bukan urusan kamu.
Yang jelas, aku tidak ingin membuang waktuku untuk bicara yang tidak penting
bersama kamu di sini.”
“Jangan ngomong gitu,
Kania. Aku hanya ingin sedikit bicara dan bertanya tentang kehidupan kamu di
rumah keluarga Aditama. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran ini, aku selalu
ingin tahu, apakah kamu sudah melihat wajah menakutkan dari suamimu atau
belum?” tanya Zara sambil tertawa.
“Ups, maaf lagi. Aku
tidak bermaksud mengejek. Hanya ingin bertanya saja. Aku harus kamu tidak marah
dan tidak menyesali semua yang telah terjadi,” kata Zara dengan nada mengejek
Kania sambil terus menahan tawa.
“Kamu tenang saja. Aku
tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah aku dapatkan sekarang.
Sebaliknya, kamu yang jangan menyesal kelak. Karena aku yakin, kamu pasti akan
menyesal.”
Zara berhenti tertawa.
Ia menatap tajam Kania sambil berjalan pelan mengelilingi Kania.
“Aku tidak akan menyesal kelak, Kania. Malahan, aku akan sangat berbahagia di
masa depan. Kamu lihat, aku dan kak Dafa sudah bertunangan sekarang,” kata Zara
sambil memperlihatkan cincin yang tersemat indah di jari manisnya.
“Kamu tahu, kak Dafa
bilang, dia jatuh cinta padaku setelah ia melewati hati-hari bersamaku kemarin.
Dia juga bilang, dia akan menyatukan kedua perusahaan dan berjanji akan
memperbesar perusahaan untuk menyaingi perusahaan keluarga Aditama.”
“Aku tidak bisa
membayangkan jika semua itu terjadi. Aku pasti akan menjadi nyonya Dafa yang
paling bahagia di masa depan, Kania. Aku punya suami yang tampan, tentunya yang
tidak cacat fisik sama sekali. Aku punya anak-anak yang lucu karena papanya
orang tampan. Dan yang paling penting, aku punya kehidupan mewah dengan
keluarga bahagiaku bersama kak Dafa.”
“Terserah kamu saja,
Zara. Kamu mungkin harus terus membayangkan apa yang kamu bayangkan sekarang.
Agar kamu tidak lupa bagaimana rasa bahagia itu ketika kamu benar-benar
menjalani hidup bersama kak Dafa mu itu nantinya.”
“Maaf, aku harus
pergi.” Kania berucap santai seperti tidak ada luka yang pernah tergores di
hatinya. Ia berjalan pelan meninggalkan Zara dengan wajah kesal.
Meskipun merasa sangat
kesal dengan ekspresi Kania, Zara tetap membiarkan Kania pergi meninggalkannya.
Ia tersenyum sambil melihat punggung Kania yang berjalan semakin menjauh.
“Kamu pikir aku
percaya dengan ekspresi santai yang kamu perlihatkan, Kania? Tidak. Aku tidak
percaya. Aku yakin, seyakin yakinnya, kalau kamu hanya pura-pura santai saja.
Kamu pasti terluka sekarang. Aku yakin itu,” kata Zara bicara pada dirinya
sendiri sambil terus tersenyum.
“Aku dapatkan apapun
yang kamu punya. Karena kamu tidak pantas bahagia, Kania. Tidak pantas.”
Apa yang Zara katakan
itu ada benarnya. Kania memang sedang pura-pura santai saja di depan Zara.
Buktinya, setelah berada di dalam mobil, Kania menangis karena ia tidak kuat
lagi membendung air matanya.
Bukan karena ia tidak
merelakan apa yang akan terjadi. Hanya saja, ia merasa sakit akibat
pengkhianatan yang Dafa berikan padanya. Dafa bilang cinta pada Zara, lalu,
mengajak Zara menikah. Bukankah itu sangat menyakitkan bagi Kania.
Kania menangis dalam
diam. Meskipun begitu, pak Dayat tetap saja mengetahui kalau Kania sedang
menangis saat ini. Dengan perasaan kasihan sekaligus tidak enak hati, pak Dayat
memberanikan diri bertanya pada Kania.
“Apa yang terjadi, Nona Kania? Apa ada masalah?”
“Ti–tidak ada apa-apa,
pak Dayat. Hanya sedikit terluka saja.”
“Apa nona ingin segera
pulang untuk menenangkan hati nona yang luka itu?”
“Sepertinya tidak.
Bisakah pak Dayat membawa aku jalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang?”
“Tentu saja bisa, Nona
Kania. Katakan saja ke mana yang nona ingin kunjungi, maka bapak akan antar
nona ke tempat tujuan dengan senang hati,” ucap pak Dayat dengan nada bahagia
sambil tersenyum manis.
“Aku tidak tahu mau ke
mana pak Dayat. Aku tidak punya tempat tujuan saat ini.”
“Baiklah kalau begitu,
biar bapak saja yang pilih tempat tujuan untuk nona. Bagaimana?”
“Terserah pak Dayat
saja. Janji tempat itu bisa membuat semangat ku kembali lagi.”
“Tentu saja.
Percayakan semuanya pada bapak.”
Komentar
Posting Komentar