Episode 59 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 59 Perjodohan Membawa Bahagia
Setelah beberapa lama membelah jalan raya. Akhirnya, mobil yang Kania tumpangi sampai juga ke rumah papanya.
Seperti sebelumnya,
tidak ada sambutan untuk kedatangan Kania kembali ke rumah ini. Kania tidak
ingin memikirkan hal itu. Baginya, ada atau tidak sambutan, itu akan sama saja.
Sama-sama menyakitkan pada akhirnya nanti.
Ia berjalan cepat
menuju pintu rumah setelah pak Dayat membuka pintu mobil. Sebelum ia turun, ia
meminta pak Dayat untuk menunggu di mobil saja. Karena Kania tidak ingin pak
Dayat ikut dan membantunya nanti. Kania sudah bertekad akan menyelesaikan
masalahnya sendiri sampai tuntas hari ini.
Belum sempat Kania
mengetuk pintu rumah itu, pintu tersebut malah sudah dibuka oleh mama tirinya.
Dengan tatapan jijik, Salma melihat ke arah Kania yang berdiri di hadapannya.
“Akhirnya, kamu datang
juga.” Salma bicara dengan nada pelan dengan tatapan benci.
Namun, beberapa detik
kemudian, tatapan benci itu tiba-tiba saja berubah bahagia.
“Sayang, Kania, kamu datang ke sini lagi, Nak?”
Kali ini, kata-kata
yang Salma ucapkan terdengar begitu bahagia dengan suara lantang yang hampir
bisa di dengar oleh satu rumah. Kania tidak ingin berbasa-basi lagi kali ini.
Karena ia tahu, itu hanya sandiwara yang akan membuat ia terkena masalah lagi
nantinya.
“Mana papa? Aku ingin
bertemu dengannya sekarang.”
“Aku di sini,” ucap
Burhan yang baru muncul dari arah belakang.
“Oh, yasudah kalo
gitu, kita langsung bicara saja.”
“Ya.” Burhan menjawab
singkat sambil beranjak menuju ruang tamu.
Kania mengikuti
langkah Burhan dari belakang. Terlihat wajah kecewa dari Salma. Ia kecewa
karena tidak berhasil memerankan akting untuk menyudutkan Kania lagi.
Samapi di sofa ruang
tamu, Burhan langsung angkat bicara tanpa ada basa-basi untuk mempersilahkan
Kania duduk terlebih dahulu.
“Kita langsung saja bicara pada pokok pembahasan alasan aku meminta kamu datang
ke rumahku. Aku yakin, kamu pasti sudah tahu apa alasannya, bukan?”
Kania tersenyum miris.
Karena perlakuan papanya yang terlihat begitu tidak suka berada satu ruangan
bersamanya padahal sedang ada perlu dengan dia. Ia menarik napas panjang untuk
menetralisir rasa perih dalam hati. Meskipun perlakuan itu sudah sering ia
terima, tapi tetap saja terasa sakit.
“Apakah tidak
mengizinkan aku duduk terlebih dahulu?” tanya Kania setelah rasa sakit berhasil
ia kuasai.
“Silahkan.” Papanya
berucap dengan nada enggan. Terlihat sekali kalau ia mempersilahkan karena
terpaksa.
Kania duduk perlahan.
“Terima kasih.”
“Baiklah, kita
langsung bicara pada pokok pembahasan saja. Alasan aku meminta kamu datang,
tentunya kamu sudah tahu.”
Kania terdiam saja.
Karena ia enggan untuk menjawab. Toh Kania tahu, menjawab atau tidak, jatuhnya
akan sama saja.
“Karena kamu sudah
menjadi menantu keluarga terkaya di kota ini, maka aku yakin, kamu tidak akan
keberatan menyerahkan harta keluarga padaku, bukan?” Burhan bicara terus terang
karena tidak ingin terlalu lama membuang waktu dengan Kania.
“Seperti yang papa
inginkan. Aku akan menyerahkan harta itu pada papa sekarang. Tapi dengan
syarat, serahkan barang-barang milik mama padaku.”
“Tentu saja. Kamu bisa
membawa barang bekas itu dari rumah ini setelah kamu menyerahkan harta keluarga
padaku.”
Sakit tapi tak
berdarah. Itulah yang Kania rasakan saat ini. Barang bekas? Harta keluarga?
Kata-kata yang tak seharusnya ia terima, mengingat status dirinya saat ini.
Tapi tidak, itulah yang sebenarnya terjadi. Ia bukan manusia yang terlahir
karena diinginkan oleh sang papa. Melainkan, kesalahan yang sangat papanya
sesali.
Papanya meminta Salma
mengambil surat pernyataan pengalihan harta warisan untuk Kania tanda tangani,
juga meminta Salma membawa barang-barang bekas milik mama Kania keluar. Selama
menunggu Salma menjalankan tugas yang ia berikan, Kania menatap tajam papanya
dengan perasaan pilu.
“Pa, apakah papa
benar-benar tidak mengharapkan aku lagi sekarang?”
Satu pertanyaan yang
Kania yakini tidak perlu ia tanyakan, tapi malah keluar begitu saja karena
dalam hati Kania masih tersimpan setitik harapan. Harapan akan sedikit saja
rasa sayang sebagai papa yang papanya simpan untuk dia.
“Apakah kamu perlu
menanyakan hal itu padaku? Aku yakin kamu tahu jawabannya. Karena sampai
kapanpun, kamu adalah kesalahan yang tidak pernah bisa aku terima kehadirannya.
Bukan aku yang menginginkan membenci kamu, tapi setiap ingat kamu, maka aku
ingat wajah mama mu yang licik itu.”
Sakit, perih, dan pada
akhirnya mati rasa. Itulah yang Kania rasakan saat ini. Sangking sakitnya
kata-kata itu, sampai ia mati tidak bisa merasakan rasa sakit lagi karena
hatinya sudah mati rasa.
Tidak ada air mata
yang tumpah karena sudah sering tersakiti. Yang ada hanya senyum miris sebagai
perwakilan hati yang sakit.
“Baiklah kalau begitu, mulai dari detik ini, kita tidak akan pernah berhubungan
lagi,” ucap Kania sambil tersenyum.
“Itu lebih baik,” kata
Burhan santai tanpa beban.
Salma yang mendengar
kata-kata itu tersenyum bahagia. Hatinya tertawa penuh kemenangan karena ia
sudah berhasil menghancurkan hubungan anak dan ayah.
Salma berjalan dengan
langkah pelan, seolah-olah ia tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Ia
membawa koper dan surat di tangannya. “Ini yang papa minta,” ucap Salma sambil
menyerahkan apa yang ia bawa.
“Makasih banyak, Ma.”
Burhan berucap dengan sangat lembut. Tontonan yang sering menyiksa batin Kania
selama tinggal di rumah ini. Perlakuan keluarga harmonis yang menggores hati.
Karena tidak ingin
berlama-lama berada di rumah ini lagi, Kania langsung menyela dengan cepat. “Mana
surat yang harus aku tanda tangani? Aku masih ada acara penting untuk aku
hadiri soalnya.”
“Ya ampun sayang, kamu
terlihat begitu sibuk sekarang. Apa tidak sebaiknya, kamu istirahat dulu di
rumah ini? Nanti sore baru pulang,” kata Salma seperti biasa menjalankan
aktingnya.
“Maaf mama, gak bisa.”
Kania berucap santai tidak seperti biasanya. Hal itu membuat Salma kaget bukan
kepalang. Wajah santainya berubah gugup.
‘A–apa? Apa yang
terjadi barusan? Apa aku tidak salah dengar?’ tanya Salma dalam hati sambil
menatap tajam Kania.
Kania pura-pura tidak
melihat tatapan tajam yang Salma berikan. Ia sibuk melihat surat yang papanya
sodorkan barusan.
Setelah membaca
seluruh isi dari surat pemindahan harta warisan, Kania segera menjatuhkan tanda
tangannya. Tentunya, setelah ia memastikan isi dari koper yang Salma bawa
terlebih dahulu. Karena ia tidak ingin tertipu lagi kali ini.
Untuk nama si penerima
warisan yang ia tanda tangani barusan, ia tidak ingin ambil pusing lagi.
Siapapun penerima harta warisan ini, tidaklah penting lagi bagi Kania. Yang
terpenting, barang-barang milik mamanya sudah ia dapatkan.
“Aku sudah menyerahkan
harta yang memang tidak seharunya menjadi milikku pada yang berhak. Dengan
begitu, aku harap, tidak ada masalah lagi sekarang,” ucap Kania sambil bangun
dari duduknya.
Komentar
Posting Komentar