Episode 58 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 58 Perjodohan Membawa Bahagia
“Aku ingin lihat. Bagaimana kak Brian menjalani hidup saat kak Brian tidak punya apa-apa.”
“Sedangkan kamu,
wanita bayaran.” Sintya beralih menghadap Kania. “Kamu tidak akan dapat bayaran
sepeserpun karena kak Brian ku tidak punya apa-apa lagi.”
“Untuk itu, sebaiknya
kamu mengakui dan meninggalkan kak Brian sekarang juga. Karena jika kamu mengalah
sekarang, maka kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan bayaran mu.”
Kania tersenyum. Lalu,
dengan cepat ia merebut surat perjanjian yang ada di tangan Sintya. Sintya
kaget bukan kepalang. Wajah bahagia tiba-tiba berubah cemas dan takut.
“Hei! Apa yang kamu
lakukan? Kembalikan kertas itu padaku!” Sintya berusaha merebut kertas itu
kembali. Tapi sayang, Kania yang sudah mendapatkan surat itu, langsung
merobek-robek surat tersebut menjadi pecahan-pecahan kertas kecil.
“Up. Aku tidak sengaja
melakukannya. Maafkan aku nona Sintya. Aku telah membuat kecewa hatimu,” kata
Kania sambil tersenyum manis. Lalu menebarkan sobekan-sobekan kertas tersebut
ke udara.
“Dasar ****** kurang
ajar! Berani sekali kamu padaku.”
Sintya benar-benar
tidak bisa menutupi rasa kesalnya lagi. Ia berniat untuk melampiaskan rasa
kesal itu dengan menampar wajah Kania.
Tapi sayang, niatnya harus terhalang tangan Brian yang begitu cekatan untuk
melindungi Kania.
“Jangan berani kurang
ajar pada istriku, Sintya. Karena aku tidak akan tinggal diam.”
“Kenapa kalian masih
ingin bersandiwara setelah sandiwara kalian terbongkar, hah! Apa kalian pikir
aku bodoh?” Sintya bicara dengan nada tinggi sambil menatap tajam Brian.
“Karena kamu
sepertinya memang perempuan bodoh, nona Sintya,” ucap Kania sambil memeluk
lengan Brian dengan manja.
“Mau-maunya kamu kami bodohi dengan selembar kertas perjanjian yang tidak ada
apa-apanya.”
“Apa … apa maksud
kalian?” tanya Sintya mulai terpancing.
“Ya kamu seharusnya
bisa merasakan dan memahami. Adakah kami berdua terlihat seperti pasangan
sandiwara? Apakah kami terlihat sedang pura-pura?” tanya Kania semakin
bergelayut manja di lengan Brian.
Anehnya, Brian bukan
bantuin Kania yang sedang berpura-pura. Malahan, ia menikmati suana yang Kania
ciptakan dan merasa sangat amat bahagia.
Hal itu membuat Kania
mendadak merasa kesal. Ia cubit lengan Brian tempat di mana ia bergelayut manja
dengan keras sehingga Brian meringis kesakitan.
“Auh … sayang, jangan
begitu. Jangan keluarkan jurus manja mu di depan orang lain. Jangan coba-coba
menggoda aku,” ucap Brian setelah mendapat cubitan dari Kania.
Ingin rasanya Kania
tertawa lepas melihat ekspresi yang Brian perlihatkan sekarang. Tapi, sekuat
tenaga ia tahan. Karena jika ia tertawa, sandiwara yang baru saja ia jalani
akan musnah.
‘Dasar kurang ajar.
Kamu berani merusak suasana bahagia aku, Kania. Kamu lihat bagaimana aku
membalas kamu ya,’ ucap Brian dalam hati dengan perasaan senang saat melihat
ekspresi wajah bahagia Kania.
Brian menggeser
tubuhnya dari menyamping menjadi berhadapan dengan Kania. Kania yang sedang
bersandiwara, tiba-tiba merasa sedikit kaget dengan perubahan Brian sekarang.
“Sayang, bukankah kamu
ingin berangkat ke rumah papamu? Apa kamu tidak ingin pergi sekarang?” tanya
Brian sambil meletakkan tangannya di pipi Kania.
Kania tidak bisa
menjawab perkataan Brian karena saat ini, dadanya sedang berdetak kencang
dengan apa yang Brian lakukan. Wajah merona pun terlihat dengan sangat jelas
sekarang.
“Ya ampun … apa kamu
tidak rela meninggalkan aku?” tanya Brian sambil menarik Kania ke dalam
pelukannya.
“Brian, apa yang kamu
lakukan?” tanya Kania dengan suara pelan sambil mencubit manja dada Brian.
“Ikuti saja sandiwara
yang aku mainkan. Karena jika kamu berontak, maka sandiwara yang sudah susah
payah kamu mainkan barusan akan musnah,” ucap Brian dengan suara yang sama.
‘Sial. Aku tahu kalau
Brian pasti ingin membalas perlakuanku padanya. Aku harus segera meninggalkan
tempat ini, agar Brian tidak semakin meraja lela padaku,’ kata Kania dalam
hati.
“Aduh, aku sampai lupa
kalau aku harus segera ke rumah papa. Terima kasih banyak, Brian, sudah
mengingatkan aku.”
“Kalau begitu, aku berangkat sekarang saja.” Kania berucap sambil berusaha
melepaskan diri dari pelukan Brian.
"Sayang … "
“Cukup! Cukup
sandiwaranya karena aku tidak akan terpancing dengan sandiwara kalian. Aku
tetap tidak akan mempercayai kalau kalian itu menikah bukan karena perjanjian,”
kata Sintya tak tahan lagi sekarang.
“Terserah kamu mau
percaya atau tidak. Yang jelas, apa yang kamu lihat sekarang, itulah yang
sesungguhnya terjadi,” kata Brian dengan nada santai.
“Brian. Sudahlah, dia
mungkin tidak akan pernah mengerti dan tidak akan memahami apa yang sebenarnya
terjadi. Karena hatinya, sudah tertutup rapat-rapat oleh kebodohan yang sedang
menghantui dirinya saat ini. Dia tidak akan bisa membedakan, mana yang
sandiwara, dan kenyataan.”
“Udah ya, aku harus
berangkat sekarang.” Kania bicara dengan nada manja yang seolah-olah ia
benar-benar berat hati untuk meninggalkan Brian.
“Hati-hati ya sayang,”
ucap Brian sambil melonggarkan pelukannya.
Tapi, itu bukanlah
akhir dari sandiwara yang Brian jalankan. Ia mengecup pelan kening Kania, yang
membuat Kania kaget bukan kepalang.
“Kak Brian!” Sintya
benar-benar sakit hati dengan perlakuan Brian pada Kania barusan. Dengan
membawa rasa sakit tersebut, ia segera meninggalkan tempatnya. Sintya berlari
masuk ke dalam sambil menangis.
Kania segera meluncurkan
sebuah cubitan keras ke pinggang Brian, setelah ia memastikan kalau Sintya
benar-benar sudah masuk ke dalam. Cubitan itu membuat Brian meringis kesakitan
lagi untuk yang kedua kalinya.
“Auh … apa yang kamu
lakukan Kania? Kamu melakukannya lagi?” tanya Brian kesal sambil memegang
perutnya, di mana cubitan Kania bersarang.
“Itu balasan karena
kamu sudah keterlaluan.” Kania berucap sambil segera masuk ke dalam mobil.
“Dasar kamu gak punya
perasaan,” ucap Brian semakin kesal karena tidak punya kesempatan untuk
membalas perlakuan Kania.
Kania tidak
menghiraukan apa yang Brian katakan lagi. Karena sekarang, ia sudah memaksa pak
Dayat untuk segera meninggalkan vila Camar. Pak Dayat terpaksa menuruti apa
yang Kania katakan dengan berat hati, karena sekarang, ia sudah menjadi sopir
pribadi Kania atas perintah Brian.
“Dasar kurang ajar.
Lihat saja apa yang aku lakukan padamu nanti, istriku sayang. Aku akan balas
kamu, Kania.” Brian berucap sambil tersenyum karena memikirkan apa yang baru
saja terjadi.
Brian masuk ke dalam
dengan membawa rasa kesal sekaligus bahagia. “Gak sopir, gak istri. Sama saja
tingkahnya. Gak ada sopan santunnya sama sekali padaku. Ya Tuhan … apa sekarang
aku sudah kena karma?” tanya Brian saat ia masuk ke dalam ruangan kerjanya.
“Ada apa tuan muda?”
tanya Johan yang sudah berada di dalam ruangan tersebut sambil melihat Brian
dengan tatapan penasaran.
“Tidak ada. Jangan
banyak tanya karena sekarang aku sedang kesal. Kamu tidak ingin aku lampiaskan
rasa kesal ini padamu, bukan?”
"Ya ampun …
"
Hanya kata itu yang bisa Johan ucapkan. Karena dia tidak ingin menjadi bahan
pelampiasan oleh Brian.
Komentar
Posting Komentar