Episode 56 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 56 Perjodohan Membawa Bahagia
Brian tersenyum dan tidak bisa menahan diri untuk bergerak. Ia yang awalnya pura-pura tidur, kini tertawa sampai tubuhnya bergerak.
“B–Brian. Kamu udah
bangun?” tanya Kania dengan nada malu.
“Tentu saja.”
“Lalu kenapa kamu
membiarkan aku jatuh tampa berniat menolong? Kamu senang aku menderita?” tanya
Kania dengan nada kesal.
“Tidak sayangku. Hanya
saja, aku tidak bisa membantu kamu sekarang. Karena, aku juga tidak bisa
melihat di mana rambut itu tersangkut.”
“Jangan pura-pura. Aku
tahu kamu bisa melakukannya. Ayolah Brian! Aku tidak sedang bercanda.”
“Iya-iya. Gitu aja
ngambek,” ucap Brian sambil menyentuh kancing piyamanya.
“Eh, kamu mau
ngapain?” tanya Kania agak takut.
“Menurut kamu, aku mau
ngapain?”
“Jangan macam-macam,
Brian.”
“Ya sudah kalo kamu
tidak butuh bantuan aku. Maka aku tidak akan melakukannya,” ucap Brian sambil
menghentikan niatnya untuk membuka kancing piyama tersebut.
Merasa tidak punya
pilihan lain, Kania terpaksa membujuk Brian kembali untuk menolongnya. Brian
pun setuju menolong. Ia melanjutkan kembali apa yang ia lakukan sebelumnya.
Yaitu, melepas kancing piyama miliknya.
Sebenarnya, rambut
yang tersangkut di kancing piyama itu, tidak perlu Brian buka baju untuk
melepaskannya. Tapi, yang namanya laki-laki, selalu ada sifat usil yang
menyertai mereka. Juga, sangat suka menggoda dan melihat reaksi dari orang yang
mereka goda.
Rambut Kania pun
berhasil lepas dari kancing piyama tersebut. Dengan bonus, Kania yang
diperlihatkan perut seksi yang berbentuk milik Brian, yang membuat Kania
semakin merona karena malu.
“A–aku permisi dulu.”
Kania berucap gugup sambil segera bangun dan menjauh dari Brian. Bagaimanapun,
Kania juga manusia normal yang punya ketertarikan pada laki-laki. Jika melihat
yang seksi, tentu saja ia juga tergoda.
Jalan satu-satunya
agar dia tidak terus tergoda dan ketahuan menginginkan Brian, ya dia harus
kabur secepat mungkin. Dan itulah yang Kania lakukan. Berjalan cepat
meninggalkan Brian menuju kamar mandi agar ia segera lenyap dari pandangan
Brian.
Melihat Kania yang
sepertinya begitu merona, Brian tersenyum senang. Setidaknya, ia sedikit
mengerti kalau usahanya menguji hati Kania kali ini tidak sia-sia. Sementara
itu, Kania yang berada di kamar mandi, memegang dadanya untuk menahan degup
jantung agar kembali normal seperti semula.
Kebahagiaan Brian
tiba-tiba musnah saat ia membuka ponselnya. Ada banyak pesan singkat yang
papanya kirimkan melalui WA dan juga lewat SMS.
Pesan singkat itu
semuanya berisikan amukan dari sang papa karena prilakunya pada Sintya tadi
malam. Papanya juga memberikan ancaman pada Brian, jika terus berbuat tidak
baik pada Sintya, ia akan merusak desa tempat kelahiran sang mama.
Brian kesal, namun
tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya diam sambil menggenggam erat tangannya
untuk menyalurkan rasa kesal tersebut.
Belum sempat rasa
kesal itu tersalurkan, pintu kamarnya sudah diketuk oleh seseorang dari luar.
Hal itu membuat perhatian Brian teralihkan.
“Siapa?” tanya Brian
dengan nada kesal.
“Saya tuan muda. Johan.”
“Ya ampun. Kenapa kamu
datang sepagi ini, Jo?” tanya Brian sambil beranjak dari tempat tidur. “Tunggu
sebentar.”
Saat pintu terbuka,
wajah kusut Johan terlihat dengan sangat jelas. “Tuan muda,” ucap Johan sambil
berniat menerobos masuk.
“Tunggu! Mau ke mana
kamu?” tanya Brian sambil menahan tangan Johan untuk menahan langkahnya.
“Masuk, tuan muda.”
“Masuk ke dalam? Apa
kamu lupa, aku sekarang tinggal satu kamar bersama istriku, Johan.”
“Ya Tuhan, aku
melupakan soal itu. Maafkan aku tuan muda. Aku benar-benar lupa,” ucap Johan
sambil menepuk pelan dahinya.
“Tidak masalah. Asal
kamu tidak lupa lagi lain kali, untuk kali ini aku maafkan. Oh ya, angin apa
yang menyebabkan kamu datang sepagi ini ke rumahku?”
“Aku tidak bisa tidur
karena di teror oleh tuan David. Makanya aku datang ke sini sepagi ini. Mana
aku belum sarapan dan belum sempat mandi lagi tadi.”
“Apa lagi yang papa
inginkan dari aku, Johan? Aku sudah menerima kedatangan Sintya ke vila ini.
Harusnya, itu sudah cukup untuk menyenangkan hatinya. Kenapa dia malah bikin
ulah lagi dengan mengganggu kamu?”
“Tuan David tidak akan
berhenti sebelum tuan muda menikahi nona Sintya. Selagi tuan muda tidak setuju
untuk menikah, maka tuan muda tidak akan tenang.”
Brian menatap Johan
dengan tatapan tajam.
“Kamu berniat meminta aku setuju untuk menikahi Sintya, Johan? Apa itu yang
ingin kamu katakan padaku datang sepagi ini?”
"Tentu saja …
"
“Tidak akan Johan.
Tidak akan. Dengar ucapan ku baik-baik. Meskipun papa menghancurkan seluruh
desa kelahiran mama, aku tetap tidak akan menikah dengan Sintya.”
Brian memotong
perkataan Johan dengan cepat. Dan perkataan yang Brian ucapkan barusan,
didengar dengan sangat jelas oleh Sintya yang sedari tadi bersembunyi tak jauh
dari tempat tersebut.
Sintya berjalan
mendekat, dengan perasaan yang sangat terluka. Air mata jatuh di pipinya. Kali
ini, bukan sekedar air mata buaya. Melainkan, air mata terluka yang berasal
dari hatinya yang tergores karena kata-kata yang Brian ucapkan. Karena
sebenarnya, ia benar-benar mencintai Brian selama ini. Bukan hanya sekedar,
ingin menikah karena harta kekayaan yang Brian miliki.
“Kak Brian terlalu
kejam padaku. Kenapa kak Brian tidak bisa menaruh sedikit saja rasa cinta yang
kak Brian miliki untuk aku, Kak? Kenapa?” tanya Sintya dengan air mata yang
terus mengalir.
“Karena kamu adikku.
Aku tidak bisa mencintai kamu lebih dari rasa cinta seorang kakak pada adiknya.
Karena itulah aku tidak bisa menikahi kamu selama ini. Karena aku tidak bisa
menikah dengan adikku.”
"He … he … he …
" Sintya tertawa dengan air mata yang masih mengalir.
“Kak Brian tidak bisa mencintai aku karena aku adik kak Brian. Tapi kenapa kak
Brian bisa mencintai kak Ratna, hah! Padahal kak Ratna dan aku itu sama saja,
bukan? Sama-sama adik sepupunya kak Brian.” Sintya bicara dengan nada tinggi.
“Ratna dan kamu
berbeda, Sintya. Kalian memang sama-sama adik sepupu aku. Tapi Ratna, dia anak
angkat. Sedangkan kamu, anak tanteku.”
“Tante tiri. Harusnya
sama saja. Karena kami dibesarkan di rumah dan orang yang sama. Kenapa kak
Brian bisa mencintai dia sedangkan dengan aku, kak Brian tidak bisa.”
“Kamu tidak akan
mengerti, Sintya. Seperti apapun aku berusaha menjelaskan, kamu tetap tidak
akan mengerti. Sebaiknya, kamu kembali saja ke rumahmu. Jangan ganggu aku
lagi.”
“Kak Brian ngusir
aku?” tanya Sintya semakin kesal dan semakin deras pula air matanya.
“Ya. Aku ngusir kamu
secara baik-baik. Aku ingin kamu pergi dari tempat tinggal ku secepat mungkin.”
“Tidak akan. Aku akan
tetap tinggal di sini bersama kamu. Dan aku akan pastikan, kamu jadi milikku
nantinya,” ucap Sintya.
Komentar
Posting Komentar