Episode 53 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 53 Perjodohan Membawa Bahagia
Kania menatap Brian dengan tatapan haru. Entah kenapa, ia merasa, kata-kata yang Brian ucapkan itu benar-benar menyentuh hatinya.
Sehingga mata Kania berkaca-kaca ketika benaknya memutar ulang kata-kata yang Brian ucapkan.
Melihat Kania yang
terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, Brian merasa sedikit cemas. Ia bergegas
menyentuh pundak Kania dan bertanya. “Ada apa, Kania? Apa yang salah? Apa
kata-kata yang aku ucapkan barusan salah dan melukai hatimu?” tanya Brian
dengan perasaan cemas.
"Maafkan aku jika
kata-kata yang aku ucapkan barusan ada yang menyingung dan menyakiti
perasaanmu. Aku … "
Ucapan Brian harus
tertahan karena Kania dengan cepat menghambur ke dalam pelukannya. Kania
memeluk Brian dengan sangat erat.
“Kamu tidak ada salah,
Brian.”
“Lalu, kenapa kamu
terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, Kania? Kamu membuat aku merasa takut.”
“Aku minta maaf. Aku
yang salah karena terlalu terbawa perasaan.”
“Bolehkah aku meminta kamu menemani aku tidur malam ini, Brian?”
Pertanyaan itu
meluncur dengan sendirinya. Yang tidak bisa Kania tahan karena hatinya sangat
menginginkan Brian berada di sisinya malam ini. Sedangkan Brian, ia merasa agak
kaget sekaligus senang dengan pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ia duga
akan terucap dari bibir seorang Kania.
“Hei … pertanyaan
macam apa itu? Tentu saja aku sangat bersedia menemani kamu tidur malam ini,
Kania.”
“Jangankan malam ini, setiap malam, setiap saat saja aku bersedia,” ucap Brian
dengan perasaan sangat bahagia.
Sementara itu, di
kamarnya, Sintya sedang gelisah sekaligus kesal. Ia tidak bisa diam sama sekali
karena memikirkan Kania dan Brian.
“Ya Tuhan ya Tuhan …
tolong beri aku ide agar aku bisa merusak malam hangat kak Brian dan perempuan
sialan itu. Aku gak bisa diam saja, dan membiarkan mereka bahagia bersama
melewati malam hangat dengan nyaman,” kata Sintya sambil terus mundar-mandir
sambil mengigit jarinya.
Sintya sudah
berkali-kali mencoba menghubungi Brian. Namun sayang, nomor yang ia hubungi
sedang tidak aktif. Sekarang, ia berusaha mengulangi lagi apa yang ia lakukan
sebelumnya. Namun hasilnya tetap sama. Nomor Brian masih di luar jangkauan.
“Sial! Haruskah aku
berteriak untuk memanggil kak Brian agar datang ke kamar ini?”
“Tapi, itu tidak akan
berhasil karena vila ini tidak sekecil rumah gubuk. Jika kau berteriak,
bukannya kak Brian yang datang. Yang ada, aku akan mirip seperti orang gila
yang heboh sendiri tapi tidak ada hasilnya.”
“Aduh … apa yang harus
aku lakukan sih sebenarnya?” tanya Sintya benar-benar pusing.
Ia terus munda-mandir
di kamarnya. Berharap bisa menemukan ide yang tepat untuk merusak kebersamaan
Kania dan Brian.
Pada akhirnya, ia
berhasil menemukan cara jitu untuk ia lakukan agar bisa merusak kebersamaan
Brian dan Kania malam ini. Sintya keluar dari kamarnya setelah ia menemukan ide
jahat dan mengatur ide itu dengan sebaik mungkin.
Sintya berlari menuju
kamar Brian yang berjarak dua kamar dari kamarnya. Ia langsung memanggil Brian
saat ia sampai di depan pintu kamar tersebut.
“Kak Brian! Kak Brian!
Kakak!”
Terdengar suara panik
dan takut yang Sintya ucapkan. Saat itu, Kania dan Brian baru saja ingin
berbaring di atas ranjang mereka.
“Ada apa sih?” tanya
Kania sambil melihat Brian.
“Tidak tahu. Mungkin
bikin ulah lagi. Biarkan saja dia mau ngapain aja di luar. Terserah dia. Nanti,
jika capek, dia akan berhenti sendiri.” Brian bicara dengan nada acuh sambil
mengatur posisi untuk berbaring.
“Bagaimana jika dia
memang ada perlu sama kamu, Brian? Apa kamu tidak akan menanyakan ada perlu apa
dia datang ke sini?”
“Aku yakin kalau dia
tidak ada perlunya. Tapi, hanya ingin merusak suasana saja. Sebaiknya kita
abaikan saja dia. Dari pada dia bikin ulah lebih banyak lagi nantinya.”
Kania terdiam. Ia
tidak ingin membantah lagi apa yang Brian katakan. Mengingat, di vila ini juga
masih ada banyak penghuni lain, maka Kania akan mendengarkan apa yang Brian
katakan. Karena jika ada masalah, maka penghuni lain akan datang untuk membantu
Sintya.
Sementara itu, Sintya
yang berada di depan pintu kamar semakin memperkuat suara dan semakin menambah
kencang ketukannya. Karena sekarang, perasaan kesal sudah menyelimuti hati dan
pikiran Sintya.
‘Gila. Gak mungkin kak
Brian udah tidur jam segini. Aku tahu betul siapa kak Brian. Dia akan tidur di
atas jam sembilan. Lagipula, jika mereka udah tidur, pasti akan kebangun dong
ya. Karena aku berteriak kencang sekali barusan.’ Sintya berucap kesal dalam
hati.
Bu Ninik dan apk Hadi
yang mendengar teriakan itu segera menghampiri Sintya. Mereka dengan wajah
panik dan penasaran, menatap menatap Sintya.
“Ada apa nona Sintya?
Apa yang terjadi?” tanya pak Hadi cemas.
“Iya nona. Ada apa?
Apa ada masalah?” tanya bu Ninik pula.
“Udah deh. Jangan
banyak tanya lagi kalian berdua. Bikin kesal aja kalian berdua. Ngapain malah
muncul dan banyak tanya. Aku kan gak manggil kalian berdua,” ucap Sintya dengan
nada sangat kesal.
Brian menoleh ke arah
Kania yang masih duduk diam di atas kasur.
“Kamu dengar apa yang ia katakan. Dia tidak butuh bantuan melainkan, dia butuh
merusak malam tenang ku.”
“Sekarang, sebaiknya
kamu tidur. Abaikan saja dia.”
“Kamu benar. Ternyata,
adik sepupumu itu hanya ingin buat keributan saja.”
“Tentu saja. Aku sudah
tahu bagaimana dia. Aku juga sudah tahu seperti apa sifatnya. Hanya saja, aku
tidak bisa mengusir dan membuat dia jauh-jauh. Karena papa masih ada.”
“Apa maksudmu berkata
seperti itu, Brian?”
“Yah, aku tidak bisa
mengembalikan dia ke tempat asalnya. Karena papa pasti akan marah dan pasti
akan mengancam aku dengan senjata yang ia punya.”
Kania memahami
perasaan Brian. Karena ia mengalami nasib yang sama. Ingin melawan, tapi
tertahan oleh senjata andalan musuh. Terpaksa tunduk dan bersikap lemah agar
musuh tidak bertindak lebih keras lagi.
Bu Ninik dan pak Hadi
saling tatap. Mereka merasa sangat menyesal telah peduli dan datang ke atas
untuk melihat Sintya. Mereka yang khawatir akan keadaan Sintya sebelumnya,
sekarang mendadak menjadi kesal.
“Kenapa kalian malah
diam di sini, hah! Pergi. sana! Karena aku tidak butuh kalian. Yang aku
butuhkan itu kak Brian. Bukan kalian,” kata Sintya membentak pak Hadi dan bu
Ninik.
"Ma–maaf nona
Sintya. Kami pikir, nona Sintya butuh bantuan kami. Makanya … "
“Aku tidak butuh
bantuan kalian! Pergi sana!” Sintya memotong perkataan pak Hadi dengan nada
tinggi. Membuat pak Hadi semakin merasa kesal.
“Maaf nona Sintya.
Kami permisi,” ucap keduanya serentak.
"Pergi sana.
Jangan sok-sokan peduli. Karena aku tidak butuh kepedulian kalian berdua. Yang
aku butuhkan itu hanya kepedulian kak Brian.
Komentar
Posting Komentar