Episode 52 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 52 Perjodohan Membawa Bahagia
Kania masih diam. Ia kelihatannya begitu enggan untuk bicara. Karena rasa malu, juga karena ia tidak ingin membebani Brian dengan masalah hidup yang ia hadapi sekarang.
“Ya sudah, jika kamu
tidak ingin berbagi cerita dengan aku, maka aku tidak akan memaksa. Sekarang,
sebaiknya kamu istirahat agar pikiranmu semakin tenang,” ucap Brian sambil
bangun dari jongkoknya.
Tidak ingin membuat
Brian kecewa dengan apa yang ia lakukan. Kania bergegas menahan tangan Brian.
Ia pun mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Brian. Brian tersenyum manis
pada Kania.
“Ayo istirahat. Biar
pikiranmu semakin tenang,” kata Brian sambil terus memperlihatkan senyum
manisnya.
“Brian … aku … aku
ingin berbagi kisah duka ku padamu. Apakah … apakah kamu bersedia mendengarkan
kisah pilu ini?” tanya Kania sedikit gelagapan karena gugup sambil menundukkan
wajahnya.
“Tentu saja aku
bersedia. Malahan … sangat amat bersedia, Kania.”
“Brian, aku hatiku
hancur sekarang. Rasanya, dada ini tidak bisa bernapas karena terlalu sakit.”
Kania pun menceritakan
tentang apa yang terjadi pada Brian. Brian mendengarkan dengan seksama apa yang
Kania katakan. Meskipun sebenarnya, dalam hati Brian ada rasa cemburu yang
membakar perlahan. Tapi, sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa itu agar tidak
terlihat oleh Kania.
“Kania, kamu cantik
dan baik hati. Aku sarankan padamu, supaya kamu melupakan saja soal kenangan
lama dan mengikhlaskan semua itu berlalu. Kenangan, biarlah menjadi kenangan.
Karena sekarang, masa depan bahagia sedang menanti dirimu.”
"Jika laki-laki
itu begitu bodoh menyakiti dan melupakan kamu begitu saja. Maka ingatlah, ada
laki-laki lain yang sedang menunggu kamu. Tentunya, laki-laki itu lebih baik
dari pada laki-laki yang menyakiti kamu saat ini. Contohnya … "
Brian tidak
melanjutkan kata-katanya lagi. Karena sekarang, ia tidak berani mengajak Kania
bercanda. Mengingat hati Kania yang sedang sangat rapuh sekarang, mungkin Kania
akan semakin rapuh jika ia ajak bercanda.
“Contohnya apa,
Brian?”
“Contohnya aku …
Kania. Tapi tidak. Itu bukan bercanda. Aku serius.” Brian berucap dengan cepat
agar Kania tidak salah paham.
"Kamu bisa aja …
"
Belum sempat Kania
menyelesaikan kata-kata yang ingin ia ucapkan pada Brian, ponselnya berdering,
yang menandakan ada panggilan masuk ke nomornya. Perhatian Kania dan Brian
sama-sama terfokus pada ponsel yang ada di samping mereka saat ini. Tertera nama
papa Burhan di sana.
Kania tidak langsung
menjawab panggilan tersebut. Karena dia merasa enggan untuk menjawab panggilan
itu. Ia melirik Brian yang sedang berada di sampingnya saat ini.
“Ada apa Kania?” tanya
Brian sedikit penasaran.
“Kenapa tidak diangkat saja panggilannya? Apa … kamu mau aku yang mengangkat
panggilan ini?”
“Tidak. Tidak perlu.
Biar aku saja.”
Kania lalu menggeser
layar ponsel untuk menjawab panggilan dari papanya. Setelah panggilan
tersambung, tanpa ada basa-basi, yang menelpon langsung bicara apa tujuan ia
menghubungi Kania sekarang.
“Aku ingin kamu datang
ke rumah besok malam. Kita selesaikan semua urusan kita sampai tuntas. Aku
harap kamu datang. Jika tidak, maka aku akan membakar barang-barang milik
almarhumah mama mu dan menghancurkan rumah beserta taman bunga milik nenekmu.”
Setelah bicara panjang
lebar tanpa memberikan kesempatan Kania untuk menjawab, panggilan tersebut
langsung saja diputuskan oleh si penelpon. Kania yang bisa menarik napas
dalam-dalam tanpa tau harus berbuat apa.
“Papamu kelihatannya
sangat membenci kamu, Kania. Tapi, tidak usah dipikirkan soal itu. Jika dia
tidak suka, maka biarkan saja. Karena sekarang, kamu tidak sendirian. Ada aku
bersama kamu,” ucap Brian sambil merangkul bahu Kania dengan lembut untuk ia bawa
ke dalam pelukannya.
Kania tidak menolak.
Ia malahan mengikuti saja apa yang Brian lakukan. Bagi Kania, tempat ternyaman
sekarang, ya pelukan Brian. Walaupun Brian terkesan menyebalkan kemarin, tapi
sekarang, kehadiran Brian malahan sangat menenangkan hati Kania.
“Aku tidak tahu kenapa
papa begitu benci padaku, Brian. Padahal sebenarnya, aku ini adalah anak
kandung papa.”
"Karena papa
mungkin tidak punya mata dan hati Kania. Dia tidak bisa melihat kebaikan dan
ketulusan kamu. Tidak seperti … "
‘Ya Tuhan … kenapa aku
malah kumat lagi sih?’ Brian kesal pada dirinya sendiri sekarang.
“Maaf Kania,” ucap
Brian lirih.
“Aku hanya ingin membuat kamu merasa nyaman dengan kehadiranku di sisimu.”
“Dan, mengalihkan perasaan sedih yang ada di hatimu saat ini.”
“Brian, kamu tidak
salah. Tapi … kamu adalah laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku temui.
Kamu selalu bikin aku merasa kesal. Tapi perlahan, kamu juga membuat aku merasa
nyaman.” Kania berucap dengan jujur.
Entah mengapa, dan
entah apa sebabnya. Malam ini, ia begitu ingin terbuka pada Brian. Rasanya,
cuma Brian yang ia punya dan yang paling memahami apa yang ia rasakan. Makanya,
ia begitu ingin berbagi semua kisah dan semua cerita hidupnya pada Brian
sekarang.
“Aku akan pertahankan
sikapku itu untukmu, Kania. Agar kamu tidak pernah bosan dengan keberadaan
aku.”
“Oh ya, sebaiknya,
kita istirahat sekarang agar pikiranmu semakin tenang. Kamu juga harus
mempersiapkan energi dua kali lipat untuk pertempuran besok, bukan? Untuk itu,
aku sarankan kamu melupakan kesedihanmu malam ini, dan tidurlah dengan
nayaman.”
“Kamu ada-ada saja,
Brian. Jangan mulai lagi. Sudah cukup rasa kesal yang kamu berikan hari ini.
Aku sudah merasa kenyang.”
“Aku serius, Kania.
Bukankah kamu ingin berperang melawan keluargamu besok? Kamu harus punya energi
doble agar tidak sakit hati.”
“Oh ya, kamu mau aku
ikut serta atau tidak?” tanya Brian baru ingat dengan peran dirinya sekarang.
“Tidak perlu. Aku bisa
mengatasi semua ini. Aku tidak ingin kamu dapat masalah. Karena kita punya masalah
masing-masing. Jadi sebaiknya, kita selesaikan masing-masing saja.”
“Bagaimana jika aku
ingatkan lagi soal perjanjian yang sama-sama kita sepakati sebelum menikah
kemarin, Kania? Apa kamu tidak keberatan?”
“Tidak perlu Brian.
Karena aku masih mengingat perjanjian itu dengan baik. Tapi, aku sekarang
benar-benar yakin kalau aku masih mampu melawan keluargaku sendirian. Aku masih
belum membutuhkan bantuan mu sekarang. Namun, jika aku tidak berhasil, maka aku
akan minta bantuan kamu. Aku harap kamu bersedia membantuku, ketika aku
membutuhkan bantuan darimu nanti.”
“Hei … tentu saja aku
bersedia, Nona Kania. Karena saat ini saja, aku sangat bersedia. Hanya saja,
kamu tidak menginginkan bantuan dariku.”
“Tapi … sudahlah. Aku yakin nanti kamu pasti membutuhkan aku.”
“Ya sudah, ayo
istirahat!”
“Jika kamu merasa tidak nyaman tidur satu ranjang denganku, maka aku akan tidur
di bawah. Atau, aku bisa tidur di sofa saja.”
Kania menatap Brian
dengan tatapan haru. Entah kenapa, ia merasa, kata-kata yang Brian ucapkan itu
benar-benar menyentuh hatinya.
Komentar
Posting Komentar