Episode 51 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 51 Perjodohan Membawa Bahagia
Ide jahat untuk menyakiti hati Kania tiba-tiba muncul di benak Zara. Ia pun mengambil ponsel yang ada di atas meja rias. Kemudian, mengambil beberapa jepretan foto cincin yang terselip indah di tangannya.
“Aku ingin lihat, seberapa
hancurnya hati kamu, Kania,” kata Zara sebelum ia mengirimkan foto itu lewat WA
ke Kania.
Zara tersenyum saat
centang satu berubah menjadi centang dua di beberapa foto yang ia kirim pada
Kania.
“Nah, sekarang, tinggal tunggu kamu melihat pesan yang aku kirim saja,” ucap
Zara dengan perasaan sangat bahagia.
Sementara itu, di
kamar vila Camar. Kania sedang duduk di depan meja rias setelah makan malam
bersama yang terasa sedikit melelahkan. Karena makan malam malam ini, agak
sedikit berbeda dengan kehadiran Sintya yang tak kalah mirip dengan Zara dan
mamanya. Penuh sandiwara dan kepura-puraan.
Notifikasi pesan masuk
mengalihkan perhatian Kania dari pandangannya melihat cermin. Dengan malas, ia
mengambil ponsel yang berada di tepi meja rias.
“Zara?” tanya Kania
merasa sedikit penasaran.
“Mau ngapain lagi
dia?”
Kania lalu membuka pesan tersebut dengan perasaan sedikit malas sekaligus
penasaran.
Sebelum foto berhasil ia buka, terlebih dahulu, ia membaca pesan singkat yang
Zara kirimkan setelah pesan foto tersebut.
*Kakak ku tersayang,
jangan lupa ngasih selamat buat adikmu ini. Karena sekarang, adikmu ini sudah
menjadi tunangan orang.*
*Kasih selamat ya,
buat aku dan kak Dafa. Karena malam ini, kami resmi bertunangan.*
Seketika, tangan Kania
terasa lemas setelah ia membaca pesan singkat tersebut. Di tambah, foto telah
berhasil ia buka. Foto cincin yang tersemat di jari tangan Zara, menambah remuk
dan hancurnya hati Kania. Bagaimana tidak, cincin yang Zara kenakan sekarang,
sangat Kania kenali dengan baik bentuk dan harga dari cincin itu.
Air mata jatuh
perlahan melintasi pipi Kania saat ini. Seketika, ia terbawa ke masa lalu. Masa
di mana kehidupannya masih normal dan terasa sangat menyenangkan. Saat dia dan
Dafa masih berstatus pasangan dengan hubungan yang sangat harmonis yang terasa
begitu hangat.
Saat itu, dia diajak
Dafa jalan-jalan untuk sama-sama menikmati akhir pekan. Mereka berkeliling
menikmati suasana akhir pekan yang terasa sangat ramai dan melelahkan. Tapi
bagi Kania, itu terasa sangat menyenangkan. Karena ia bisa berbaur di tengah
kesibukan dengan sang kekasih.
Saat berada di taman
kota, sepasang anak manusia sedang sibuk mencari barang mereka yang hilang.
Yaitu, cincin tunangan yang entah bagaimana bisa melorot dari tangan si
perempuan.
Taman kota pun ramai
karena hal itu. Kania dan Dafa pun tidak ingin diam. Mereka juga ambil andil
dalam membantu pasangan itu untuk menemukan cincin tunangan yang hilang.
Entah bagaimana
caranya, Dafa dan Kania bisa sama-sama menemukan cincin tunangan si pasangan
tersebut. Karena penemuan itu, semua yang ikut membantu si pasangan bersorak
dan mengatakan, bahwa Kania dan Dafa adalah pasangan abadi yang menyatukan
sesuatu yang hampir terpisah.
Karena rasa bahagia
dan ingin membalaskan kebaikan Kania dan Dafa. Juga merasa kalau Kania dan Dafa
memang pantas mendapatkan julukan itu. Si pasangan laki-laki yang ternyata
adalah pembuat perhiasan, menawarkan untuk membuat cincin tunangan untuk Kania
dan Dafa.
Cincin spesial akan ia
buat tanpa harus membayar upah dari kerja kerasnya. Dafa hanya perlu membayar
barang baku setengah harga yang ia gunakan untuk membuat cincin tersebut saja.
Merasa kalau itu
adalah cerita cinta terbaik yang akan jadi kenangan di masa depan, Dafa tanpa
pikir panjang menyetujuinya. Ia pun sepakat untuk membuat cincin tunangan dari
berlian untuk Kania.
Cincin itupun selesai
dibuat satu minggu sebelum kecelakaan Kania dan mamanya. Kania sempat
dikirimkan foto oleh si pembuat cincin itu sebelumnya. Dan, si pembuat juga
bilang, kalau dia tidak akan membuat cincin yang sama setelah ia membuat cincin
spesial ini. Karena ia ingin, hanya pasangan Dafa dan Kania yang memiliki
cincin unik spesial tersebut.
Kania benar-benar tak
habis pikir dengan apa yang terjadi. Ia tidak merasa keberatan jika Dafa ingin
bertunangan dengan Zara. Tapi, yang ia sesali adalah, kenapa Dafa malah
memberikan cincin itu pada Zara. Bukankah Dafa bisa membeli cincin yang baru
jika ingin bertunangan dengan Zara. Tidak menggunakan cincin yang seharusnya ia
pakai karena cincin itu dibuat atas restu dia.
Kania menangis sambil
menyembunyikan wajahnya di bawah legan. “Kalian semua jahat. Kenapa kalian
tidak pernah merasa cukup untuk menyakiti aku?”
Brian yang baru masuk
ke dalam kamar, merasa aneh dan penasaran dengan apa yang terjadi. Ia pun
berjalan mendekat ke arah Kania yang masih berada di depan meja rias sambil
melipat kedua tangan dan menyembunyikan wajah di bawah lengan.
“Kania.” Brian berucap
sambil menyentuh pelan pundak Kania.
“Ada apa Kania?” tanya
Brian sambil membelai lembut pundak tersebut.
“Katakan padaku kenapa
kamu menangis! Apa yang telah melukai hatimu sekarang?” tanya Brian dengan nada
sangat lembut.
Kania mengangkat
kepalanya untuk melihat Brian. Kemudian, dengan cepat, ia memeluk Brian yang
sedang berdiri di sampingnya. Brian membalas pelukan itu dengan terus membelai
lembut rambut panjang milik Kania.
“Jangan sedih, Kania.
Ada aku. Kamu bisa tumpahkan semua kesedihanmu sekarang. Karena nanti, kamu
tidak boleh menangis lagi.”
“Kenapa Brian? Kenapa
mereka jahat padaku? Apa salah aku sebenarnya? Kenapa mereka begitu tega
terus-terusan menyakiti hatiku?”
Dia tidak tahu apa
yang terjadi, tapi sebisa mungkin, ia akan membuat Kania merasa tenang. Dan
jika bisa, ia akan membalaskan rasa sakit hati itu pada orang yang telah
membuat Kania menangis sekarang.
‘Kania sayang, apa
yang sebenarnya terjadi padamu?’ tanya Brian agak bingung dalam hatinya sambil
terus membelai rambut Kania.
“Kamu tidak salah,
Kania. Kamu terlalu baik sehingga mereka begitu leluasa menyakiti hatimu. Aku
janji, aku akan kembalikan rasa sakit yang mereka berikan padamu dengan rasa
sakit yang berkali-kali lipat lagi.”
“Sekarang, kamu tenang
dan jika tidak keberatan, berbagilah masalahmu dengan aku. Karena dengan
berbagi, maka kamu akan merasa sedikit lebih baik nantinya.”
Kania melonggarkan
pelukannya. Ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan barusan. Karena sangking
sedihnya ia tadi, dia lupa dengan dunia sekitar dan apa yang ia lakukan. Kini,
ia merasa sangat malu sehingga tidak berani mengangkat wajah untuk melihat Brian.
Seakan memahami apa
yang Kania rasakan, Brian pun berjongkok untuk melihat wajah Kania yang
tertunduk dengan posisi yang masih terduduk di kursi rias. Brian menghapus air
mata yang masih tersisa di pipi Kania.
“Hei … kenapa diam,
hem? Ayo berbagi denganku agar aku tahu apa yang sudah terjadi barusan. Dan
yang paling penting, agar aku tidak mati karena rasa penasaran yang semakin
lama semakin menguasai hatiku.”
Komentar
Posting Komentar