Episode 50 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 50 Perjodohan Membawa Bahagia
“Kamu yakin kamu mampu, Kania?” tanya Brian dengan tatapan tak percaya juga serius.
“Tentu saja aku mampu.
Karena aku tahu apa yang mereka inginkan dari aku.”
“Ada yang mereka
inginkan dari kamu? Apa?” Brian bertanya dengan nada penasaran sambil
mengangkat satu alisnya.
“Tanda tangan.”
“Tanda tangan?”
“Iya. Tanda tangan.
Mereka sangat membutuhkan tanda tanganku untuk menguasai harta warisan keluarga
Hermansyah. Karena harta warisan itu tertulis atas nama aku, maka mereka butuh
tanda tangan aku untuk memindahkan hak kepemilikan warisan tersebut.”
Kania pun menceritakan
semuanya pada Brian. Brian mendengarkan dengan seksama apa yang Kania katakan.
“Luar biasa. Sungguh
luar biasa liciknya ternyata mereka. Aku salut dengan rencana yang mereka
susun.”
“Kania. Apa kamu berniat memberikan tanda tanganmu pada mereka?”
“Tentu saja.”
“Kenapa? Kenapa kamu
ingin menyerahkan apa yang seharusnya menjadi milikmu pada mereka?”
“Alasannya cuma satu,
Brian. Aku sudah bosan berurusan dengan mereka. Aku tidak ingin berhadapan
dengan mereka lagi. Aku muak.”
“Ya sudah kalo gitu,
terserah padamu saja. Aku akan dukung semua yang menjadi keputusan kamu. Apapun
pilihan kamu, aku akan mendukungnya. Ingat cari aku, jika kamu ada masalah
dengan keputusan yang kamu ambil,” ucap Brian sambil tersenyum.
“Aku percaya padamu,
Kania. Aku yakin, kamu sekarang adalah wanita kuat. Wanitanya tuan muda Aditama
yang tidak mudah ditindas oleh orang lain,” ucap Brian lagi sambil menatap
Kania penuh cinta.
Kania merasa sedikit
grogi dan pipinya tiba-tiba merona hanya dengan ucapan sederhana yang Brian
ucapkan barusan. Namun, ia berusaha menutupi apa yang ia rasakan dengan
mendorong pelan bahu Brian.
“Jangan ngomong yang
nggak-nggak Brian. Ingat! Kita cuma pasangan sandiwara saja. Jangan lupa hal
itu.”
“Tidak akan. Aku tidak
akan ingat hal itu, Kania. Karena menurut aku sekarang, kita bukan sekedar
pasangan sandiwara, melainkan, pasangan yang sesungguhnya. Sepertinya, itu
sudah tertulis di suratan takdir.”
“Alah … tahu dari mana
kamu kalau kita ini adalah pasangan sesungguhnya yang tertulis di suratan
takdir, ham?”
“Tahu dari suratan
takdir.”
“Membual,” ucap Kania
sambil mencubit pelan perut Brian.
“Jangan menggoda aku,
Kania. Ingat! Aku masih normal.”
“Brian!” Kania kesal
namun entah kenapa, hatinya malahan merasa sangat bahagia dengan candaan
sederhana itu.
_____
“Ma, apa mama yakin
ingin menerima lamaran Dafa jika orang tuanya benar-benar datang nanti malam?”
tanya Burhan pada Salma saat mereka sama-sama berada di kamar.
“Tentu saja yakin,
Pa.”
“Tunggu. Kenapa papa
menanyakan hal itu pada mama? Apa papa tidak yakin mau menerima lamaran Dafa?”
“Mama tahu, Pa. Dafa
itu sebelumnya adalah calon tunangan Kania. Walau bagaimanapun, Kania itu juga
anak papa, kan? Sudah pasti dalam hati papa ada rasa berat untuk menerima Dafa.
Karena seharusnya, Dafa bersama Kania, bukan Zara.” Salma berucap dengan nada
sedih sambil menundukkan wajahnya.
“Kamu ngomong apa sih,
Ma? Kok malah kesannya kamu mikir aku gak setuju karena aku sayang sama Kania.
Kamu yang benar saja.”
“Tapi kenyataannya,
memang seperti itu, Mas. Kamu terlihat sangat berat hati untuk menyetujui Dafa
bersama Zara.”
“Jika memang tidak ingin melihat Kania sakit hati, ya udah. Tolak saja lamaran
Dafa nanti malam.”
“Salma. Aku gak akan
menolak lamaran itu. Karena aku sekarang tidak sedang memikirkan perasaan
Kania, tapi sedang memikirkan perasaan Zara nantinya.”
“Maksud kamu, Mas?”
“Aku tidak ingin anak
kita menyesal karena Dafa tidak sepenuhnya menikah karena cinta. Bagaimana jika
Dafa menikahi Zara hanya karena ia ingin balas dendam pada Kania? Bukankah itu
anak menyakitkan hati anak kita, Ma?”
“Kamu mikir terlalu
jauh, Pa. Sepertinya, itu tidak akan terjadi. Karena aku bisa melihat
keseriusan Dafa saat bicara tadi. Lagipula, Dafa tadi bilang, kalau dia akan
menyatukan kedua perusahaan. Hal itu akan semakin memperkuat kedudukan Zara
dalam hidup Dafa nantinya.”
Burhan terdiam
sejenak. Benaknya mencerna setiap kata yang Salma ucapkan. Apa yang Salma
katakan itu ternyata dibenarkan oleh benaknya.
“Apa yang mama katakan
itu masuk akal, Ma. Dengan pernikahan Zara dan Dafa, kita juga bisa mendapat
keuntungan. Jika benar dua perusahaan ini di satukan, kita punya peluang besar
dalam dunia bisnis. Kita akan mampu bersaing dengan pembisnis kelas atas, Ma.”
Burhan mendadak bahagia memikirkan apa yang ia katakan barusan.
“Itu papa tau.”
“Tapi Pa, bagaimana caranya kita bisa menyatukan kedua perusahaan, jika
perusahaan dan seluruh warisan keluarga kamu tetap atas nama Kania? Itu sama
aja dengan bohong, Pa.”
“Mama tenang aja.
Besok, aku akan ajak Kania bertemu lagi. Jika dia benar-benar menginginkan
barang-barang mamanya, maka dia akan datang.”
“Apa papa yakin Kania
mau datang setelah apa yang terjadi tadi?”
“Tentu saja aku yakin.
Karena kali ini, aku tidak hanya akan mengancam, melainkan serius memaksa.”
Salma tersenyum dalam
hati. Ia merasa tidak sabar lagi untuk menunggu hari esok. Hari di mana Burhan
meminta Kania menandatangani surat pemindahan harta warisan yang selama ini ia
tunggu-tunggu.
Malam harinya, seperti
yang sudah di kabari Dafa tadi senja, kedua orang tuanya datang untuk melamar
Zara. Tidak banyak pembicaraan yang mereka bicarakan, karena kedua belah pihak
sama-sama sudah tahu maksud dan tujuan dari pertemuan itu.
Karena permintaan
Dafa, mereka tidak mengadakan pesta pertunangan lagi. Karena ia tidak ingin
berlama-lama menjalin hubungan, Dafa langsung meminta pernikahan saja. Hal itu
disetujui oleh Burhan dan Salma. Mereka menerima lamaran dadakan itu dan
menerima usulan pernikahan langsung tanpa acara pertunangan.
Setelah menetapkan
hari pernikahan, keluarga Dafa pun pamit pulang dengan meninggalkan cincin
berlian sebagai tanda pengikat. Pengikat tanda Zara sudah ada yang memilikinya.
Setelah keluarga Dafa
pulang, Zara dengan rasa tidak sabaran lagi beranjak dari ruang tamu menuju
kamar. Sampai di kamar, ia melompat-lompat kegirangan dengan perasaan yang sangat
amat bahagia, sambil terus melihat cincin berlian yang terselip indah di jari
manisnya.
“Ya Tuhan ya Tuhan …
demi apa ini? Aku beneran udah tunangan dengan kak Dafa sekarang. Ya ampun,
rasanya bahagia banget tau gak?” Zara berucap sambil terus melihat cincin
tersebut. Kemudian, ia kecup cincin itu dengan perasaan sangat bahagia.
“Sekarang, aku udah
tunangan dengan kak Dafa. Gak tahu ya, bagaimana perasaan Kania kalo tahu aku
udah tunangan dengan pacarnya. Eh salah, mantan pacarnya,” ucap Zara sambil tersenyum
licik.
Komentar
Posting Komentar