Episode 5 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 5 Perjodohan Membawa Bahagia
“Kamu!” Burhan sangat kesal dengan sikap Kania barusan. Ia ingin memberi pelajaran pada Kania, namun Salma yang sedang bersandiwara jadi mama tiri yang baik mencegah apa yang ingin Burhan lakukan.
“Sudah, Mas. Jangan diladeni.
Kamu kan tahu kalau Kania anaknya memang sangat keras kepala. Jadi, biarkan
saja ia melakukan apa yang ia inginkan.”
“Kamu selalu saja
membela dia. Lihat sekarang, dia jadi gadis yang sangat liar dan tidak tahu
sopan santun.”
“Udah ah. Biarkan saja.
Kamu lupa kalau dia tidak punya siapa-siapa selain kita. Jadi, biarkan saja dia
melakukan apa yang ia inginkan.”
“Kamu terlalu baik
padanya. Jangan lupa kalau dia adalah anak dari orang yang telah merusak
hubungan kita.”
“Iya, aku tidak lupa.”
‘Mana mungkin aku lupa
mas Burhan. Dia adalah anak dari orang-orang yang telah menyakiti aku. Untuk
itu, aku akan siksa dia dengan caraku. Agar orang tuanya tahu, kalau mereka
telah salah memilih lawan,’ kata Salma dalam hati sambil tersenyum dalam hati.
“Udah ah, lupakan saja
semua masalah yang terjadi. Setidaknya, untuk sejenak.”
“Nih, minum tehnya biar segar kembali,” ucap Salma sambil menyodorkan teh yang
ada di atas meja.
“Terima kasih banyak,
sayang. Kamu masih tetap sama. Masih tetap hangat padaku walau kita sudah
sama-sama tua.”
“Tentu saja. Hubungan
baik itu harus tetap di jaga.”
Burhan tersenyum.
Kemudian, ia mengambil teh yang Salma sodorkan. Menghirup teh tersebut dengan
pelan. Lalu, meletakkan kembali ke atas meja.
“Ma, ada yang ingin
aku katakan sebenarnya. Mungkin, ini saat yang tepat untuk kita bicara.” Burhan
memasang wajah serius sekarang.
“Bicara? Mau bicara
soal apa, Mas?” tanya Salma dengan perasaan berdebar-debar. Seperti ada sebuah
ketakutan di matanya sekarang.
“Aku sedang berusaha
memperjuangkan kontrak kerja sama dengan perusahaan ternama. Perusahaan Aditama
grup yang sangat terkenal di kalangan pembisnis. Tapi …”
“Tapi apa, Mas?” tanya
Salma tak sabar lagi untuk mendengarkan kelanjutan dari kata-kata yang akan
Burhan ucapkan.
“Tadi siang, aku
datang ke kantor Aditama grup untuk menanyakan kontrak kerja sama yang aku
tawarkan. Aku bertemu dengan pimpinan perusahaan itu secara langsung. Pak
Davidson. Beliau bersedia menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan
kita. Namun, ia mengajukan syarat padaku.”
“Apa syaratnya, Mas?
Apakah sangat berat syarat itu?”
“Syaratnya tidak
berat. Hanya saja, aku tidak tahu apakah kita mampu atau tidak.”
“Aduh, katakan saja
apa syaratnya. Jangan buat aku mati penasaran mas Burhan. Kontrak kerja sama
itu harus kita dapatkan. Dengan begitu, perusahaan kita akan sangat disegani
oleh perusahaan lain. Iya kan?”
“Syaratnya, pak David
ingin aku memberikan anakku padanya.”
“Tunggu! Ini apa
maksudnya dengan memberikan anak? Jelaskan padaku agar aku bisa memahami apa
yang ingin kamu katakan sebenarnya.”
“Gini, pak David ingin
aku memberikan putriku padanya untuk ia nikahkan dengan anak satu-satunya dia.”
“Ia mengajukan syarat
untuk menjadikan anak kita sebagai menantu. Begitu maksud kamu mas?”
“Iya. Ia ingin
menjadikan anak kita sebagai menantu. Apakah kamu keberatan jika kita
menikahkan Zara dengan anak tunggal pak David, Salma?”
Salma tidak langsung
menjawab apa yang Burhan tanyakan. Sebenarnya, ia ingin langsung menolak niat
Burhan ini. Tapi sayang, dia sedang berperan sebagai mama tiri yang baik
sekarang. Jadi, ia tidak bisa menunjukkan sikap tidak adilnya sekarang.
“Bagaimana menurut
kamu, Salma?” tanya Burhan kembali.
“Maaf, Mas. Untuk itu
aku tidak bisa memutuskan sekarang. Aku akan tanyakan pada Zara terlebih
dahulu. Lagipula, kita punya dua putri yang keduanya harus dijaga hati mereka
agar tidak ada yang merasa diabaikan.”
“Maksud kamu apa? Dua
putri? Bukankah selama ini kami tahu apa status Kania di hatiku? Apakah kamu
masih harus memikirkan hati dia?”
“Mas, tidak bisa
begitu juga dong. Walau bagaimanapun, Kania itu juga anak kamu, mas.”
“Ya sudah, terserah
kamu saja. Aku tidak ingin ambil pusing. Semoga apa yang kamu pikirkan tidak
akan mengecewakan anak kita.”
“Iya, Mas. Ya sudah,
aku tinggal dulu untuk ngobrol dengan Zara. Kamu gak papakan di sini
sendirian?”
“Iya, aku gak papa.
Kamu bisa bicara dulu dengan Zara. Semoga Zara tahu, ini adalah kesempatan baik
buat dia dan kita semua.”
“Iya, Mas.” Salma
berucap sambil menarik senyum manis di bibirnya.
'Kesempatan baik kamu
hilang, mas Burhan. Hmm … ’ Salma berkata dalam hati sambil beranjak
meninggalkan ruang keluarga.
Sampai di kamar Zara
yang berada di lantai dua. Salma langsung mengetuk pintu kamar anaknya.
“Siapa?” tanya Zara
dari dalam kamar.
“Mama, Zara.”
“Masuk aja, Ma.
Pintunya gak aku kunci kok.”
Salma bergegas masuk.
Ia melihat Zara yang sedang berbaring tengkurap di atas kasur sambil memainkan
ponsel miliknya. Ia langsung duduk di samping Zara.
“Ada apa, Ma?” tanya
Zara tanpa mengubah pandangannya dari ponsel yang ia mainkan sejak tadi.
“Ada yang ingin mama
bicarakan sama kamu. Ini penting.”
“Soal apa? Katakan
saja apa yang ingin mama katakan.”
“Zar, papamu ingin
menjodohkan kamu dengan anak pemilik perusahaan Aditama grup.”
Salma bicara terus
terang langsung pada pokok pembahasan. Hal itu membuat Zara sangat kaget sampai
ia tak sadar berteriak dan bangun dari baringnya.
“Apa!”
“Sssttt. Diam. Jangan
keras-keras. Nanti papamu dengar, Zara.” Salma berbisik.
“Tapi, Ma.”
“Tahan emosimu itu.
Mama belum selesai bicara. Jangan gara-gara kabar ini kamu menunjukkan siapa
kamu yang sebenarnya. Jangan lupa, apa yang kita incar masih belum kita
dapatkan. Jangan buat usaha kita yang sudah berjalan jauh harus terhenti di
tengah jalan, Zara.” Salma menjelaskan dengan nada kesal.
“Ya maaf, Ma.
Habisnya, aku kaget dengan perkataan mama barusan itu. Yang benar saja papa
ingin menjodohkan aku dengan anak pemilik perusahaan Aditama grup. Mana mau aku
dijodohkan dengan laki-laki cacat yang tidak tahu bagaimana rupanya itu.”
“Kamu yakin tidak mau,
Zara?”
“Ya tentu saja yakin,
mama. Apa mama tidak tahu bagaimana kriteria calon suami anak mama ini? Mama lupa,
seperti apa calon idaman aku, hmm?”
“Apa kamu tidak ingin
mengubah kriteria calon suami idaman kamu itu, Zar? Coba deh pertimbangkan lagi
tawaran papamu itu.”
“Tidak, Ma. Tidak akan
aku ubah kriteria calon suami idaman aku. Selamanya akan tetap sama. Tetap
seperti kam Dafa. Ganteng, keren, tinggi, putih, manis dan tentunya, anak
keluarga terpandang yang bisa menjamin masa depan aku,” ucap Zara sambil
senyum-senyum membayangkan Dafa.
“Ye … Dafa Dafa lagi.
Kamu lupa kalau laki-laki yang akan papamu jodohkan ini adalah orang yang
paling kaya di kota ini, Zar? Secara gitukan, dia adalah pewaris tunggal dari
pemilik perusahaan ternama, Aditama grup. Bagaimana tidak, kamu akan jadi istri
orang paling kaya nantinya.”
Komentar
Posting Komentar