Episode 49 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 49 Perjodohan Membawa Bahagia
“Lho, kalo gak yakin kenapa kamu mau menikah dengannya, Dafa? Kamu ini gimana sih?” Papanya terlihat kesal dengan jawaban yang Dafa berikan. Sedangkan sang mama, hanya bisa menggeleng pasrah sambil melihat wajah bingung dari anaknya.
“Aku tidak punya
pilihan lain, Ma, Pa. Seperti yang mama katakan tadi, aku merasa sangat kesal
karena ulah Kania. Dia benar-benar jahat padaku. Aku ingin dia merasakan apa
yang aku rasakan sekarang. Dengan menikahi Zara, aku juga bisa tetap bersama
Kania.”
“Apa maksud kamu Dafa?
Jangan aneh-aneh kamu ya,” kata mamanya dengan tatapan tajam penuh selidik.
“Jujur, Ma, Pa. Aku
tidak bisa memungkiri kalau aku masih sangat mencintai Kania walau
pengkhianatan yang ia berikan padaku ini terasa sangat menyakitkan. Aku ingin
dia sadar dan menyesali apa yang telah ia perbuat padaku, Ma, Pa.”
“Dafa, apa kamu sudah
tidak waras lagi sekarang? Apa akal sehatmu sudah hilang?” tanya sang papa naik
emosi.
“Apa yang kamu perbuat ini tidak akan menyelesaikan masalah kamu nantinya. Tapi
malahan, akan menambah besar masalah yang kamu hadapi. Kamu akan mengorbankan
masa depan kamu dan Zara.”
“Iya, Dafa. Kasihan
Zara yang tidak tahu apa-apa, malah jadi korban dari keegoisan kamu, Nak.”
Mamanya ikut menasehati.
“Mama sama papa tenang
saja. Aku tidak akan menyakiti Zara kok, Ma, Pa. Aku akan belajar mencintai dia
setelah kami menikah.”
“Ya Tuhan … papa tidak
tahu bagaimana jalan pemikiran kamu sebenarnya, Dafa. Semakin lama, kamu
semakin membuat papa kebingungan dengan apa yang kamu sampaikan. Sekarang,
terserah padamu saja. Papa tidak ingin ikut pusing memikirkan keputusan gila
yang kamu ambil ini,” ucap papanya sambil bangun dari duduk.
“Tapi, Pa. Apa papa
bersedia datang ke rumah om Burhan nanti malam untuk melamar Zara?”
“Terserah kamu saja.
Jika kamu memang ingin melamar Zara, maka papa ikut saja. Tapi satu hal yang
harus kamu ingat, jangan cari papa jika terjadi masalah dalam rumah tangga kamu
di kemudian hari.”
“Papamu benar, Dafa.
Sebaiknya, kamu pikirkan lagi niat kamu untuk menikahi Zara. Sebelum nasi
menjadi bubur, kamu masih bisa mengubahnya.” Mamanya juga ingin beranjak
meninggal Dafa yang mereka pikir, sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik
lagi.
Kini, tinggal Dafa
sendirian di ruang keluarga.
“Kalian jangan cemas dengan keputusan yang aku ambil, Ma, Pa. Karena aku sudah
yakin, seyakin-yakinnya dengan keputusan ini.”
“Meskipun ini terasa
tidak masuk akal dan menyakitkan Zara nantinya, jika ia tahu kalau aku menikahi
dia hanya karena Kania. Tapi, aku tidak punya cara lain selain cara ini. Aku
ingin Kania menyesal telah meninggalkan aku,” kata Dafa bicara pada dirinya
sendiri.
Sementara itu, di
rumah Burhan. Salma dan Zara sedang ngobrol di kamar Zara. Mereka membicarakan
apa yang baru saja terjadi.
“Ma, aku kok merasa
Kania diperlakukan dengan sangat baik ya, di rumah keluarga Aditama,” ucap Zara
sambil memeluk guling nya.
“Maksud kamu?” tanya
Salma dengan tatapan penuh selidik.
“Ya coba aja mama
pikirkan bagaimana penampilan dan seperti apa tangung jawab pembantu yang
datang bersamanya. Dia sepertinya, benar-benar di anggap istri tuan muda di
kediaman Aditama.”
“Iya juga sih. Mama
juga merasa ada yang mengganjal dengan penampilan Kania tadi. Dia begitu cantik
dan begitu diperhatikan oleh pembantu tua itu.”
“Eh tapi, Ma. Kenapa
juga kita harus mikirin soal Kania dan segala perubahan dia. Secantik apapun
dia, tetap saja, dia tidak bisa mengalahkan aku. Soalnya … aku sudah berhasil
membuat kak Dafa menyatakan cintanya padaku di depan Kania,” kata Zara dengan
sangat bahagia.
“Aku gak kebayang lho
Ma, bagaimana sakitnya
Kania saat kak Dafa bilang, ia ingin menikahi aku dan akan menyatukan kedua
perusahaan kita. Aku yakin, saat itu, Kania pasti hancur banget.”
“Tentu saja dia hancur
dan sangat sakit hati. Secara, Dafa itu adalah orang yang paling ia cintai.
Mama gak sabar lihat kalian menikah. Mama yakin, Kania pasti semakin hancur
nantinya.”
“Iya, Ma. Aku juga gak
sabar buat nunggu hari pernikahan itu. Semoga aja, kak Dafa menikahi aku
secepatnya. Agar aku bisa memperlihatkan pada Kania, kalau apapun yang ia
miliki, semuanya bisa aku rebut.”
“Kamu memang anak
mama. Anak satu-satunya mama yang paling pinter. Mama akan siapkan sebuah
kejutan buat Kania nantinya di hari pernikahan kamu. Mama yakin, Kania pasti akan
datang bersama suami cacatnya itu.”
“Mama mau nyiapin
kejutan apa?” tanya Zara dengan tatapan penuh penasaran.
“Lihat saja nanti.”
“Ih mama. Selalu aja
begitu sama aku. Selalu main rahasia-rahasiaan sama anak sendiri.”
“Biarin aja. Biar kamu
belajar mikir supaya otakmu semakin pintar.” Salma berucap sambil beranjak dari
duduknya.
“Mama ih … aku udah
pintar. Gak perlu belajar mikir lagi supaya pintar,” ucap Zara dengan perasaan
sangat kesal.
_____
“Jadi, kamu tidak
berhasil mendapatkan barang-barang almarhumah mama kamu?” tanya Brian dengan
tatapan serius.
“Tidak. Aku tidak
berhasil mendapatkan barang-barang milik mamaku.” Terdengar nada sedih dalam
ucapan Kania barusan. Brian sangat memahami hal itu.
“Jangan sedih. Jika
kamu tidak mendapatkan barang-barang itu tadi, maka aku akan suruh beberapa
anak buah ku mengambil barang-barang itu nanti malam. Tidak akan ada yang
berani menolaknya jika anak buah ku sudah bertindak.”
“Tidak! Jangan Brian.
Jangan lakukan itu. Nanti, aku takut papaku akan bicara pada papamu. Aku tidak
ingin kamu dapat masalah karena aku.”
“Kania. Tidak akan ada
masalah apapun dengan aku. Kenapa kamu sekarang jadi takut begini? Bukannya
kemarin, kamu ingin aku membantumu, Kania?”
“Kemarin, aku tidak
tahu kalau kamu punya kelemahan. Dan aku juga tidak tahu kalau papamu
mencarikan kamu jodoh hanya untuk menyadarkan kamu, kalau tidak ada wanita yang
cocok denganmu selain Sintya.”
“Kania. Aku tidak
peduli dengan apa yang papaku rencanakan dan apa yang akan terjadi. Seperti
yang sudah sama-sama kita sepakati, aku akan membantu kamu, dan kamu juga akan
membantu aku. Kita akan bekerja sama.”
"Tapi, Brian …
"
“Jangan banyak pikir,
Kania. Apa kamu tidak sayang dengan barang-barang milik almarhumah mama kamu?
Apa kamu ingin mereka menghancurkan barang-barang yang sangat berharga itu?”
“Tidak akan. Aku tidak
akan membiarkan mereka menghancurkan harta berharga milikku. Sudah cukup mereka
melakukan hal itu kemarin-kemarin. Sekarang, jangan harap, mereka bisa
melakukannya lagi.”
“Ya sudah kalo gitu,
nanti malam, aku akan kirim orang untuk ambil barang almarhumah mama kamu.”
“Tidak. Tidak perlu
melakukan hal itu, Brian. Kamu sebaiknya jangan turun tangan dulu sekarang.
Biar aku sendiri yang melakukan hal itu.”
“Kamu yakin kamu
mampu, Kania?” tanya Brian dengan tatapan tak percaya juga serius.
Komentar
Posting Komentar