Episode 47 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 47 Perjodohan Membawa Bahagia
“Jadi sekarang, Brian sedang berada di taman bersama Sintya, ya bu Ninik?” tanya Kania memastikan.
“Iy–iya, nona Kania.
Tuan muda di taman bersama nona Sintya.”
“Nona terlihat biasa saja dengan apa yang ibu katakan. Apa nona tidak marah?”
tanya Bu Ninik bingung. Karena awalnya, ia berpikir kalau Kania pasti akan
kesal dan marah dengan apa yang ia katakan.
“Tidak bu Ninik. Aku
tidak marah. Itukan sepupunya Brian, kenapa aku harus marah?” tanya Kania
sambil tersenyum manis.
‘Kenapa aku harus
marah dengan kemesraan dan kedekatan Brian dengan Sintya. Aku ini bukan istri
yang sesungguhnya melainkan sebatas istri karena perjanjian saja. Lagipula,
jika pun aku dan Brian memang suami istri yang saling mencintai, aku juga tidak
berhak marah. Karena aku datang belakangan, setelah Sintya datang dan kenal
dengan Brian. Wajah jika Brian dan Sintya dekat,’ kata Kania bicara dalam hati.
Kania terdiam untuk
beberapa saat lamanya. Kemudian, ia memutuskan untuk kembali ke kamar saja.
Menunggu Brian datang ke kamar, baru ia ingin bicara dengan Brian nantinya.
Tapi, baru juga Kania
ingin beranjak naik ke atas, suara Brian menghentikannya.
“Mau ke mana kamu?”
tanya Brian yang berada tepat di depan pintu.
Sontak saja, suara itu
membuat niat Kania terhenti. Ia langsung melihat ke arah asal suara yang
berbicara barusan.
“Brian.” Kania berucap
sambil menatap lurus ke depan.
“Pulang kok gak
langsung nyariin aku? Udah gak sayang lagi kamu sama aku sekarang?”
Pertanyaan itu
sebenarnya membuat Kania sangat kesal. Baru saja ia ingin mengangkat mulut
untuk bicara, seorang perempuan muncul dari belakang Brian.
Perempuan itu menatap
Kania dengan tatapan tajam. Entah kenapa dan entah apa sebabnya, Kania juga
tidak tahu. Yang jelas, tatapan tajam itu terlihat, penuh dengan kebencian.
"Dia … "
“Dia istriku. Kania.”
Brian memotong cepat apa yang ingin perempuan itu katakan.
Wanita itu semakin
menatap Kania dengan tatapan penuh kebencian. Namun kemudian, dengan sekuat
tenaga, wanita itu memperlihatkan senyum manis pada Brian, lalu berjalan
menghampiri Kania yang masih terdiam di tempatnya.
“Kak Kania,
perkenalkan, nama aku Sintya. Adik sepupu kak Brian.” Sintya berucap dengan
manja sambil mengulurkan tangannya.
Kania merasa kalau
Sintya terlihat baik. Ia pun membalas senyum itu sambil menyambut uluran tangan
dari Sintya.
“Kania. Salam kenal
Sintya.”
“Salam kenal kembali
kak Kania.”
Sintya malah memeluk
Kania setelah jabatan tangan itu ia lepas. Kania yang kaget, hanya bisa
mengikuti apa yang Sintya lakukan.
“Salam kenal musuhku.
Kamu adalah perempuan murahan yang begitu berani sekali. Aku salut padamu,”
ucap Sintya berbisik ke telinga Kania.
‘Ya Allah … sandiwara
lagi ternyata,’ ucap Kania dalam hati sambil menarik napas panjang.
Setelah bicara seperti
itu, Sintya langsung melepaskan pelukannya dari Kania. Ia tersenyum seakan
tidak pernah terjadi apapun.
Bukannya merasa tidak
enak hati atau takut, Kania malah merasa sangat geli dengan apa yang Sintya
lakukan barusan. Bagi Kania, Sintya malah terlihat begitu lucu dan polos. Ia
secara terang-terangan memperingati Kania akan kehadirannya sebagai musuh. Itu
sama saja dengan, sikap polos yang terlewat batas.
Tidak tidak seharusnya orang licik miliki.
“Brian. Aku ingin
bicara denganmu sekarang. Apa kamu punya waktu?” tanya Kania sambil melirik
Sintya.
Sintya yang dapat
lirikan dari Kania, mendadak merubah wajah tenang menjadi takut. Entah apa yang
ia pikirkan, yang jelas, saat ini, ia benar-benar terlihat begitu ketakutan.
"Tentu saja aku
punya waktu, Kania. Ayo! Mau bicara ke mana? Ke kamar? Atau … "
"Tentu saja ke …
"
Belum sempat Kania
menyelesaikan perkataannya, Sintya yang sedari tadi merasa takut dan cemas,
kini memegang perutnya sambil mengeluh.
"Aduh … "
“Agh! Kak Brian, perutku sakit sekali.” Sintya berucap sambil memegang
perutnya. Tentunya, dengan ekspresi wajah yang kesakitan.
“Bu Ninik, tolong bawa
Sintya ke kamar. Mungkin, dia kecapean dan butuh banyak istirahat karena telah
melakukan perjalanan jauh.” Brian berucap seolah tak ada beban sama sekali.
“Kak Brian gimana sih?
Kenapa malah minta bu Ninik yang ngurus aku, hah? Aku ini adik kak Brian lho
kak.”
“Lalu, kalau kamu ini
adik aku, emangnya kenapa kalau bu Ninik yang ngurus kamu? Apa ada yang salah?”
tanya Brian semakin berat untuk menahan rasa kesal yang sedari tadi ia tahan.
“Tentu aja salah. Kak
Brian itu kakak sepupu aku. Jadi, aku ingin kak Brian yang urus aku, bukan
pembantu.”
“Aku tidak bisa ngurus
kamu, karena aku punya urusan lain. Lagipula, kamu itu bukan anak kecil lagi
yang harus aku urus. Dan yang paling penting, aku ini bukan mama kamu.”
“Kak Brian kok
ngomongnya gitu sih, kak. Aku bilangin sama om perlakuan kakak padaku,” ucap
Sintya sambil menangis dengan manja.
“Ya ampun sayang. Adik
kecil yang malang. Maafkan kak Brian mu ini yang tidak pengertian yah. Sini,
biar kak Kania aja yang ngurus kamu,” ucap Kania sambil menyentuh pundak
Sintya.
"Kamu … "
Kania tersenyum sambil
menguatkan cengkraman nya ke bahu Sintya, sehingga Sintya meringis kesakitan,
tapi tak bisa berucap apapun karena tatapan tajam dari Kania sekarang.
"Kamu sepertinya
susah tidak merasa sakit lagi sekarang. Apa sakitnya udah menghilang atau …
"
“Aku baik-baik saja.
Permisi. Aku bisa istirahat sendiri,” ucap Sintya sangat amat kesal sambil
beranjak meninggalkan tempat.
Sintya berjalan dengan
langkah besar dan kaki yang di hentak-hentak ke lantai. Lalu, saat ia ingin
melewati Brian yang berdiri di samping Kania, ia berhenti untuk beberapa saat.
Dengan tatapan tajam, ia menatap Brian. Selanjutnya, ia kembali berjalan dengan
langkah yang besar, lalu menyenggol bahu Brian.
Brian tidak menanggapi
apa yang Sintya lakukan. Ia membiarkan saja Sintya meninggalkan mereka walau ia
tahu, kepergian Sintya itu pasti akan membuatnya dapat masalah lagi.
“Brian.” Kania
memanggil dengan nada lembut saat melihat wajah kesal Brian atas perlakuan
Sintya barusan.
“Sudah ku bilang,
kehadirannya hanya akan menambah masalah dalam hidupku.”
“Bersabarlah. Aku tahu
apa yang kamu rasakan sekarang. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain sabar
dan mengalah.”
“Kamu bisa melakukan
hal itu, Kania. Tapi aku?”
“Aku yakin kamu bisa.
Karena sekarang, kamu tidak sendirian. Ada aku bersamamu.”
Mendengar kata-kata
yang Kania ucapkan. Wajah kesal itu tiba-tiba saja lenyap. Brian menoleh ke
arah Kania, lalu tersenyum.
“Kamu bilang apa
barusan, Kania? Coba ulangi lagi apa yang baru saja kamu katakan tadi!”
“Ap–apa yang aku
katakan? Aku rasa … tidak ada apa-apa.” Kania berusaha menyembunyikan wajah
kaget dan merona nya.
“Oh ya, sebaiknya aku kembali ke kamar karena ada yang ingin aku kerjakan,”
ucap Kania beralasan.
Komentar
Posting Komentar