Episode 46 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 46 Perjodohan Membawa Bahagia
Mobil melaju kencang membelah jalan raya. Kania masih setia dengan air mata walaupun mereka hampir saja sampai ke vila Camar sekarang.
Air matanya tidak bisa
ia tahan meski ia tidak menginginkan dirinya bersedih akibat apa yang baru saja
terjadi. Niat awal untuk mengambil barang-barang sang mama, malah berubah
menjadi pertunjukan yang luar biasa menguras emosi dan menciptakan sakit yang
luar biasa.
‘Dafa bodoh. Aku
menyesal mencintaimu selama ini. Bahkan, aku sangat menyesal menyimpan kamu
dalam hatiku hingga detik ini. Kalau kamu kamu laki-laki yang sangat bodoh dan
kejam, aku bahkan tidak sudi mencintai kamu,’ kata Kania penuh sesal dalam
hatinya.
Saat mobil berhenti di
depan gerbang masuk vila, pak Hadi menoleh ke belakang untuk melihat Kania.
Tepat saat itu, Kania sedang menghapus air mata dengan tangannya. Saat itulah,
pak Hadi melihat tangan Kania yang memerah, bekas cengkraman Zara tadi.
"Nona Kania!
Tangan nona … "
Mendengar kata-kata
itu, Kania segera menyembunyikan tangannya dari pandangan pak Hadi. “Aku gak
papa pak Hadi,” ucap Kania cepat.
"Tapi nona …
"
“Sudah, aku gak papa.
Jangan cemas.”
“Oh ya, tolong jangan katakan apapun pada Brian, tentang apa yang terjadi di
rumah papaku. Aku tidak ingin dia marah dan cemas nantinya.”
"Tapi nona Kania
… "
“Pak Hadi. Aku mohon.
Aku tidak ingin menjadi penyebab masalah untuk semua orang. Aku gak ingin,
Brian semakin pusing dan semakin terbebani. Bukankah hari ini, dia sudah cukup
terbebani dengan masalah yang menimpa hidupnya?”
“Baiklah nona Kania,
saya tidak akan bicara apapun. Tapi … bagaimana jika tuan muda menanyakan
sesuatu pada saya. Apa yang akan saya katakan nantinya?”
“Pak Hadi bisa jawab,
kalau aku melarang pak Hadi bicara. Dengan begitu, pak Hadi terselamatkan.”
'Andai saja tuan muda
bisa aku katakan seperti itu, maka dunia ini akan sangat luar biasa. Tapi
sayangnya, itu bukan sifat tuan muda, nona Kania. Aduh … ’ Pak Hadi mengeluh
dalam hati.
“Pak Hadi.” Kania
memanggil pak Hadi karena orang tua itu diam saja setelah mendengarkan apa yang
ia katakan tadi.
“Eh! Iya nona. Ada
apa?”
“Kita sudah sampai.
Aku akan turun sekarang. Pak Hadi jangan lupa apa yang aku katakan, ya.”
“Baik nona.” Pak Hadi
berucap pasrah yang terdengar sangat lemah.
Saat Kania masuk ke
dalam rumah, ia langsung di sambut oleh bu Ninik yang memang ditugaskan untuk
menunggunya sejak tadi.
“Nona Kania sudah
pulang?” tanya bu Ninik memulai pembicaraan.
“Iya, bu Ninik.”
“Oh ya, saya mau langsung ke kamar saja. Karena sangat lelah sekarang.”
“Oh iya. Baiklah
nona.”
“Permisi bu Ninik.”
Kania berucap dengan nada tanpa ada semangat sedikitpun.
“Iya nona.”
Bu Ninik mengikuti
langkah Kania dari belakang. Entah apa sebabnya, Kania juga tidak mengerti.
Yang jelas, itu membuat Kania merasa penasaran dan risih.
“Bu Ninik mau ke atas
juga?” tanya Kania agak kesal saat Bu Ninik mengikutinya sampai ke anak tangga.
“Iy–iya, nona … Kania.
Ibu juga … mau ke atas.” Bu Ninik berucap dengan nada sedikit gelagapan dan
terdengar aneh. Kania langsung bisa menangkap, kalau saat ini, ada yang tidak
beres dengan bu Ninik.
“Apa ada masalah di
vila ini, bu Ninik. Jika ada, katakan saja. Aku gak akan masuk dan gak akan
naik ke atas jika ada masalah,” kata Kania langsung menyimpulkan.
Bu Ninik seketika
memperlihatkan wajah kaget dengan apa yang Kania katakan. Ia merasa bersalah
dan tidak enak hati sekarang.
"Maaf nona.
Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja, barang-barang nona Kania
sudah tuan muda pindahkan … "
“Ia pindahkan ke mana
barang-barangku?” tanya Kania memotong pembicaraan bu Ninik dengan nada santai.
"Apa ia pindahkan ke kamar tamu, atau … "
“Tidak nona Kania.
Tuan muda memindahkan semua barang nona Kania ke kamarnya.”
“Apa!? Brian pindahkan
barang-barang ku ke kamarnya? Di mana Brian sekarang?”
Sebaliknya, Kania
terlihat sangat amat kaget saat tahu kalau barang-barangnya telah berada di
kamar Brian. Itu artinya, ia dan Brian sekarang tinggal di satu kamar yang
sama.
“Tuan muda … tuan muda
sedang berada di taman saat ini, Nona.”
“Baiklah, aku akan ke
taman untuk bicara dengannya.” Kania berucap sambil beranjak dari tempatnya.
Namun, bu Ninik sepertinya tidak setuju dengan apa yang ia ingin lakukan.
Bu Ninik menahan
tangan Kania yang ingin berjalan meninggalkan anak tangga untuk menuju taman.
Kania melihat tangan bu Ninik. yang memegang tangannya. Kemudian, Kania beralih
melihat wajah bu Ninik.
Merasa ada yang salah
dengan apa yang ia lakukan, bu Ninik segera melepaskan tangan Kania yang ia
pegang. “Maaf, maafkan ibu, nona Kania. Ibu lancang menghalangi nona yang ingin
pergi ke taman.” Bu Ninik berucap dengan nada sangat menyesal dan takut.
Kania tersenyum
sebelum menjawab.
“Gak papa bu Ninik. Tidak perlu minta maaf karena aku tidak merasa bu Ninik ada
salah padaku. Sebaliknya, aku yang merasa bersalah karena telah membuat bu
Ninik tertekan.”
“Nona … Kania.” Bu
Ninik menatap Kania dengan tatapan haru. Ada rasa bangga dan bahagia ketika
kata-kata itu masuk ke dalam hatinya.
Perlakuan Kania yang
begitu lembut membuat ia merasa sangat terharu dan penuh syukur akan kehadiran
Kania sebagai istri dari Brian, tuan muda yang ia rawat sejak kecil itu. Ia
merasa, sang pencipta telah mengabulkan doanya yang selalu ia ucap. Ia ingin Brian
mendapatkan wanita terbaik untuk dijadikan istri, setelah sekian banyak gadis
cantik yang didatangkan ke pada Brian waktu itu.
“Bu Ninik.” Kania
memanggil sambil menyentuh pelan bahu wanita paruh baya tersebut.
Seketika, bu Ninik
tersadar dari lamunannya.
“Iy–iya, nona Kania. Ada apa?”
Kania tersenyum. “Lho,
kok malah nanya saya sih, bu Ninik. Seharusnya, saya yang nanya sama bu Ninik.
Ada apa? Kok bu Ninik malah bengong.”
“Ya ampun. Maafkan
saya nona Kania. Saya telah membuat nona bingung dengan sikap saya.”
“Bu Ninik nyembunyiin
apa sih dari aku? Jika ada hal-hal yang tidak benar, katakan saja. Tidak perlu
di rahasiakan. Aku gak akan marah, dan gak akan bikin masalah kok.”
Bu Ninik menatap wajah
polos Kania. Ia merasa kasihan untuk mengatakan soal Brian dan Sintya. Tapi, ia
lebih kasihan lagi sekarang, saat wajah polos itu merasakan kebingungan dan
penasaran.
Dengan berat hati, bu
Ninik menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi hari ini, dan tentang
Brian yang pulang bersama Sintya.
Kania terlihat biasa saja dengan apa yang bu Ninik katakan. Wajahnya tidak
terlihat kaget atau marah. Karena sebelumnya, ia sudah menyiapkan hati sebelum
bu Ninik bicara.
Komentar
Posting Komentar