Episode 44 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 44 Perjodohan Membawa Bahagia
Merasa takut dengan ancaman yang pak Hadi ucapkan, Burhan pun terpaksa membatalkan niatnya untuk menampar Kania. Sedangkan Salma, meski merasa kesal karena Burhan tidak jadi memukul Kania, ia pun tidak bisa melakukan apapun selain memainkan sandiwara lagi.
“Papa, ini bukan salah
Kania kok, Pa. Tapi ini adalah kesalahan mama. Mama yang teledor dan tidak
menjaga dengan baik barang-barang almarhumah mamanya Kania. Mama telah merusak
gaun berharga milik almarhumah mama Kania, Pa.” Salma menangis sambil memeluk
Burhan.
“Mama tidak salah.
Kalau barang itu rusak, itu bukan salah mama. Karena, barang itu seharusnya
memang tidak pernah ada di rumah ini,” kata Burhan sambil membalas pelukan
Salma.
“Kalau memang barang
itu tidak seharusnya ada, kenapa kalian malah tetap menahan barang itu sampai
detik ini. Kenapa kalian tidak langsung menyerahkannya padaku ketika aku keluar
dari rumah ini kemarin?” tanya Kania sambil menahan rasa kesal akibat kata-kata
yang Burhan ucapkan barusan.
“Lalu kenapa jika kami
tidak memberikannya padamu. Kamu kira, barang-barang rongsokan milik mama mu
itu lebih berharga dari pada istriku?” tanya Burhan semakin menjadi-jadi.
Hati Kania merasa
sangat amat sakit, saat papanya mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak
diucapkan oleh seorang manusia yang bergelar papa, yang pernah hidup serumah
dengan istri yang sebelumnya pernah berjuang dengan sangat keras untuk membuat
ia bahagia. Air mata seakan sudah tidak bisa ia bendung lagi. Rasanya, ingin
segera tumpah mewakili rasa sakit yang ada dalam hati Kania.
Tapi tidak. Kania
tidak akan menangis lagi sekarang. Ia tahu, air mata hanya akan membuat orang
yang ada dihadapannya semakin merasa besar kepala dan bahagia karena bisa
menyakiti dan merusak hidupnya lagi dan lagi.
Bagi Kania, sudah
cukup untuknya menumpahkan air mata karena ulah ular betina yang begitu licik,
yang sedang bersembunyi dibalik topeng wajah kelinci yang imut. Dan sekarang,
ia tidak akan terjebak lagi. Karena saat ini, ia bukan mangsa melainkan
pemburu.
Kania genggam
tangannya sebelum bicara. Itu ia lakukan agar terkesan sedang benar-benar kuat
dan tidak merasakan sakit sedikitpun.
“Tuan Burhan Hermasyah. Mungkin barang milik almarhumah mama ku memang barang
rongsokan yang bagi anda tidak lebih berharga dari istri anda ini,” ucap Kania
sambil berjalan mendekat ke arah Salma yang sedang menangis di pelukan Burhan.
Kania lalu memegang
rambut Salma yang tergerai. Namun Burhan dengan cepat menepis tangan Kania agar
tidak menyentuh rambut istrinya. Kania tidak merasa sakit hati dengan perlakuan
papanya tersebut. Ia malahan tersenyum manis ke arah Burhan dan Salma.
“Tapi ingat satu hal,
tuan. Kau akan menyesal setelah tahu siapa dia,” ucap Kania melanjutkan
kata-katanya yang sempat terputus.
“Papa.” Salma melihat
Burhan dengan tatapan sedih.
“Sekarang, anakmu sudah menjadi istri orang kaya. Dia sudah bukan bagian dari
keluarga ini lagi. Aku tahu, dia pasti sangat membenci kita karena kehidupan
kita yang jauh di bawahnya.”
“Kak Kania!” Zara
berjalan dengan cepat setelah beberapa saat ia menjadi penonton terbaik di
samping Dafa. Ia juga tidak ingin ketinggalan untuk menunjukkan bakatnya dalam
bermain sandiwara.
“Kak, tolong jangan
benci keluarga ini hanya karena kamu sudah menjadi istri orang kaya. Aku tahu,
ini memang tujuan awal kak Kania sebelum menikah dengan tuan muda Aditama.
Kakak ingin membalas aku dan mama karena datang ke rumah ini, bukan? Kakak
benci aku dan mama karena kakak pikir, kami akan merebut semua yang kakak
miliki.”
“Kak, kami tidak
seburuk itu. Kak Kania telah salah paham, dan salah menilai kami. Kami datang
atas permintaan papa, bukan atas keinginan sendiri. Awalnya, aku dan mama juga
tidak setuju untuk masuk ke rumah ini, karena aku gak ingin hal ini terjadi.
Tapi mama … ia malah berpikir sebaliknya. Ia ingin datang dan tinggal di rumah
ini karena kasihan sama kakak tinggal sendirian.” Zara bicara sambil tertunduk
dengan kedua tangannya memegang erat tangan Kania.
Cengkraman itu terasa
sangat sakit bagi Kania. Karena dua tangan Zara sekaligus meremuk satu tangan
Kania. Namun, demi tidak terjadinya sandiwara yang semakin menyudutkan dirinya,
Kania tetap bertahan dengan ulah Zara yang mencengkram semakin erat tangannya.
‘Ya Allah … tolong
aku.’ Kania bicara dalam hati dengan perasaan penuh harap.
‘Tolong lepaskan aku dari orang-orang ini.’
Beberapa detik
kemudian, pak Hadi menepis tangan Zara dari tangan Kania.
“Sebaiknya jangan menyentuh nona muda kami. Kami datang hanya ingin mengambil
barang-barang milik almarhumah mama nona kami. Jadi, tidak ada maksud
tersembunyi lainnya,” ucap pak Hadi sambil menatap Zara.
“Hei pembantu! Jangan
kasar kamu sama dia.” Dafa yang melihat pak Hadi menepis tangan Zara, segera
berjalan mendekati Zara.
“Kamu tidak tahu apa
yang terjadi. Dan kamu juga tidak berhak ikut campur dalam urusan keluarga
mereka. Kamu hanya seorang pembantu yang diperkerjakan oleh majikan mu, bukan?”
Dafa semakin menjadi-jadi.
“Untuk kamu Kania, aku
menyesal telah mengenal dan mencintai kamu selama ini. Jika saja aku tahu siapa
kamu yang sesungguhnya dari awal, maka aku sudah lama menjauh dari kamu,” ucap
Dafa sambil mengarahkan telunjuknya ke hadapan Kania.
Saat kata-kata itu
menyentuh telinga Kania. Tidak ada rasa lain selain rasa sakit yang terasa
sangat memilukan. Hatinya terasa seperti di sayat-sayat oleh sembilu. Namun, ia
berusaha untuk tetap bertahan dan tidak menangis.
‘Ya Allah, inikah
laki-laki yang aku cintai dengan sepenuh hati selama ini? Laki-laki yang pernah
aku hayalkan menjadi imam dan membimbing aku dalam rumah tangga. Hanya dengan
kata-kata manis seorang perempuan ia tega mengatakan menyesal telah mengenal
aku. Sadis, benar-benar sadis.’ Kania berucap dalam hati sambil menggenggam
erat tangannya.
“Dafa, harusnya aku
yang mengatakan hal itu padamu. Aku menyesal telah mencintai kamu selama ini.
Ternyata, laki-laki yang aku cintai adalah laki-laki yang paling bodoh yang
pernah aku lihat selama aku hidup,” ucap Kania dengan tatapan tajam ke arah
Dafa.
“Kak Kania! Jangan
bicara lancang seperti itu,” ucap Zara dengan nada tinggi.
“Pak Hadi, ayo pergi!”
Kania berucap sambil membalikkan badannya untuk meninggalkan halaman rumah
tersebut.
Komentar
Posting Komentar