Episode 43 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 43 Perjodohan Membawa Bahagia
“Aku ingin tahu, kenapa Brian terlihat kesal dan sepertinya sangat tidak suka pada Sintya? Bukankah mereka saudara sepupuan? Harusnya, mereka dekat, bukan?”
“Mereka memang dekat
dulunya. Tapi, tuan muda berubah menjadi tidak suka setelah tau papanya ingin
menjodohkan mereka berdua.”
“Cuma karena itu saja,
Brian malah membenci Sintya? Bukankah itu terlalu berlebihan. Bagaimana dia
bisa benci dengan sepupunya, padahal itu bukan salah sepupunya.”
“Maaf nona Kania. Saya
juga kurang tahu. Tapi yang jelas, tuan muda punya alasan yang kita tidak
ketahui alasan pasti kenapa dia tidak suka pada sepupunya.”
“Oh ya, pak Hadi
benar. Brian pasti punya alasan tersendiri kenapa ia benci Sintya.” Kania
sambil tersenyum tidak enak pada pak Hadi.
Ia kesal pada dirinya
sendiri. Entah mengapa, ia malah bicara terlalu banyak tanpa bisa ia
kendalikan. Ia malu sekali sekarang. Terlihat sekali kalau dia begitu ingin
tahu tentang kehidupan Brian sebelumnya. Alias, terlihat sekali kalau saat ini,
dirinya sedang cemburu.
'Ya Allah … aku kok
malah ngurus hidup Brian terlalu jauh sih. Kalau begini, aku terlihat sekali
seperti gadis cerewet dan paling pencemburu. Aduh … " Kania bicara dalam
hati sambil memukul pelan kepalanya dengan tangan.
Akhirnya, mobil mereka
sampai juga ke tempat yang ingin mereka tuju. Pak Dayat bergegas turun untuk
membuka pintu mobil buat Kania. Sedangkan pak Hadi, ia berjalan pelan sambil
memperhatikan sekeliling rumah orang tua Kania.
Pak Hadi merasa
bingung dengan apa yang ia lihat sekarang. Apa yang ia bayangkan saat ia berada
dalam perjalanan, itu sangat berbeda jauh dengan apa yang ia lihat sekarang.
Sebelumnya, ia
membayangkan kalau ada sambutan yang meriah saat Kania pulang. Setidaknya, ada
sambutan untuk Kania di depan pintu. Tapi sekarang, yang ia lihat malah
berbanding terbalik. Jangankan di tunggu di depan pintu, reaksi orang di dalan
rumah saja tidak terlihat sama sekali.
“Nona Kania, apa ini
benar-benar rumah nona?” tanya pak Hadi agak bingung.
“Iya, pak Hadi. Ini
rumah orang tua saya sebelumnya. Tapi sekarang, tidak lagi. Almarhumah mama
sudah tidak tinggal di dini, dan saya juga sama. Tidak tinggal di sini alias
sudah pindah dan sudah bukan menjadi rumah saya lagi.”
“Ya ampun. Bicara
panjang lebar di depan pintu masuk rumah orang. Makin gak ada sopan santunnya
saja setelah menikah,” kata Salma yang tiba-tiba muncul dari samping rumah.
“Mama.” Kania sedikit
kaget saat melihat kemunculan Salma yang ia perkirakan tidak ada sebelumnya.
“Kenapa? Kaget saat
melihat aku?”
“Tidak. Aku tidak
kaget. Hanya sedikit tak percaya dengan kemunculan mama yang tiba-tiba.
Soalnya, aku mengira mama tidak akan menyambut kedatanganku ke rumah ini. Tapi,
aku salah. Ternyata mama menyambut kepulangan ku.”
“Aduh, udah deh.
Jangan banyak drama kamu Kania. Mentang-mentang datang bareng dengan
orang-orang suamimu, kamu mau nunjukin muka. Ya ampun, basi tau nggak.”
“Apa yang bisa
orang-orang suami mu ini lakukan sih untuk kamu, hmm? Aku tahu betul siapa
suami mu itu. Dan juga, mana mungkin dia perduli dengan kamu, kan?”
“Nyonya Burhan.
Sebaiknya, anda jaga bicara anda jika tidak ingin dapat masalah. Anda akan
berurusan dengan tuan muda kami jika anda berani menyingung apalagi menyakiti
hati istrinya,” kata pak Hadi angkat bicara setelah lama terdiam.
“Wah … aku takut
sekali. Tolong … aku takut dapat masalah,” kata Salma sambil memasang wajah
takut dengan memeluk kedua tangan ke badannya. Detik kemudian, Salma berubah
posisi. Ia malah tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
"Ya ampun. Lucu
sekali ajudan mu ini, Kania. Dia bilang … "
Salma tidak
melanjutkan kata-kata saat matanya menangkap mobil hitam yang datang mendekat
ke arah mereka. Detik berikutnya, sandiwara pun mulai ia mainkan dengan
menampar kedua pipi, lalu memegang kedua tangan Kania seolah-olah, Kania sedang
menindas nya.
“Kania maafkan mama.
Mama tidak sengaja merusak gaun milik mama mu. Mama minta maaf untuk itu.
Tolong jangan marah sama mama.”
Sebelum sempat Kania
menjawab. Suara kasar terdengar begitu marah dengan apa yang Salma katakan.
“Kania apa yang kamu
lakukan!” Burhan berteriak dengan keras sambil bergegas turun dari mobil.
Kania menoleh ke
samping. Ia melihat papanya yang masih berada di jalanan depan rumah mereka.
Wajah papanya terlihat begitu marah dengan tatapan tajam yang seolah-olah, siap
menerkam Kania.
Di belakang mobil
papanya, terdapat sebuah mobil sport oranye yang sangat familiar di mata Kania.
Mobil itu membawa Kania pada ingatan masa lalu seketika. Di mana, ia dan
pemilik mobil tersebut sering pergi bersama menikmati akhir pekan atau sekedar
makan angin saat sore menjelang.
Tapi tiba-tiba,
ingatan itu hancur seketika. Hancur berkeping-keping bak kaca cermin yang pecah
karena terjatuh, saat pemilik mobil itu keluar bersama perempuan yang sangat ia
kenali wajahnya.
“Dafa.” Hanya itu yang
mampu Kania ucapkan dengan nada yang sangat pelan saat Dafa melihatnya dengan
tatapan tajam.
Kemudian, dengan
cepat, Kania mengalihkan pandangannya dari Dafa. Ia merasakan sebuah rasa sakit
yang sedang menghampiri hatinya saat ini. Rasa sakit yang terasa perlahan,
namun semakin lama semakin kuat saja.
Sekuat tenaga, Kania
menahan rasa itu agar air matanya tidak mengalir sebagai tanda kalau hatinya
benar-benar sedang terluka. Entah kenapa, dan entah bagaimana caranya, wajah
Brian tiba-tiba saja muncul dalam ingatan Kania. Hal itulah yang membuat hati
Kania seakan terobati dengan sendirinya. Dan sakit yang menghampiri, seakan
pergi begitu saja.
Burhan sampai di
hadapan Kania. Karena rasa kesal dan emosi yang sedang menguasai hatinya, ia
ingin langsung melayangkan tangan untuk menampar Kania. Tapi, hal itu tidak
terjadi karena pak Hadi dengan sigap menahan tangan Burhan agar tidak menyentuh
pipi Kania.
“Apa yang kamu
lakukan! Lepaskan tanganku! Jangan ikut campur urusan keluarga kami. Kamu bukan
siapa-siapa!” Burhan bicara sambil berteriak dengan nada sangat tinggi.
“Tuan Burhan. Ingat
satu hal ini baik-baik. Meskipun aku bukan siapa-siapa, tapi aku ini adalah
orangnya tuan muda, Brian. Siapapun tidak diizinkan untuk menyakiti tubuh dan
hati istrinya tuan muda jika tidak ingin berurusan dengan tuan muda kami.”
“Dengarkan aku
baik-baik! Dia itu putriku. Aku berhak menghukumnya jika dia salah. Dia ini
tidak punya sopan santun, jadi tidak salah jika aku menghukumnya. Aku yakin,
tuan muda kamu itu juga akan memakluminya.”
“Tidak ada kata
memaklumi jika itu istri tuan muda. Meskipun dia anak tuan Burhan, tapi sekarang,
dia adalah menantu keluarga Aditama. Sebaiknya, tuan Burhan pertimbangkan lagi
jika ingin menyakiti orang-orang nya Aditama, apalagi keluarga Aditama.”
Komentar
Posting Komentar