Episode 42 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 42 Perjodohan Membawa Bahagia
Setelah kepergian Brian meninggalkan taman rumah makan tersebut, pak Hadi mengajak Kania ikut beranjak.
“Nona Kania, sebaiknya
kita juga beranjak sekarang. Mengingat, janji nona datang saat makan siang.
Sekarang, susah hampir sampai waktu makan siang, bukan?”
“Baiklah. Ayo
berangkat sekarang.”
Kania berjalan dengan
langkah cepat meninggalkan taman rumah makan diikuti pak Hadi di belakanganya.
Saat mereka keluar dari rumah makan tersebut, mobil Brian masih terparkir di
tempat sebelumnya. Kania menyipitkan mata sambil menoleh ke arah pak Hadi.
“Pak Hadi, itu mobil
Brian. Apa dia tidak jadi berangkat?” tanya Kania mulai cemas dengan perasaan
yang sangat penasaran.
“Entahlah nona. Saya
juga tidak tahu.”
Kania mempercepat
langkah kakinya untuk segera sampai ke mobil tersebut. Saat ia hampir sampai,
sopir yang duduk diam di dalam segera keluar untuk menyambut Kania.
“Pak sopir, apa Brian
ada di dalam?” tanya Kania dengan cepat.
“Maaf nona Kania, tuan
muda tidak ada di dalam. Tuan muda sudah pergi ke bandara beberapa menit yang
lalu.”
“Brian pergi naik
apa?”
“Tuan muda naik taksi.
Kebetulan, ada taksi yang lewat saat tuan muda sampai ke sini.”
“Kenapa dia tidak
pergi dengan pak sopir saja?”
“Tuan muda ingin saya
pergi bersama nona ke rumah orang tua nona. Makanya, tuan muda pergi ke bandara
naik taksi.”
Kania terdiam. Ia
tidak punya kata-kata untuk diucapkan lagi sekarang. Ia tidak habis pikir
dengan apa yang telah Brian lakukan untuknya.
‘Ya Allah … apakah ini
nyata. Apa semua ini benar-benar tulus ia lakukan untuk aku? Benarkah ini bukan
sandiwara?’ tanya Kania dalam hati.
‘Kalau benar ini
tulus, aku akan jadi wanita yang paling bahagia sekarang, esok, dan nanti,’
kata Kania lagi sambil tersenyum manis.
Hal itu menciptakan
rasa penasaran dalam hati pak sopir dan pak Hadi. Mereka berdua saling pandang
saat melihat Kania tiba-tiba tersenyum manis. Karena mereka berdua tidak tahu
apa alasannya, senyum itu terasa aneh bagi mereka berdua.
“No–nona Kania.” Pak
Hadi memanggil Kania dengan rasa agak takut. Tapi, ia berniat baik. Yaitu,
untuk menyadarkan Kania dari apa yang Kania lakukan sekarang.
“Iya.” Kania menjawab
sambil masih mempertahankan senyumannya.
“Nona kenapa?”
“Tidak ada apa-apa.
Ayo berangkat sekarang, pak Hadi! Kita harus sampai lebih awal dari yang mereka
minta,” ucap Kania langsung meninggalkan keduanya untuk masuk ke dalam mobil.
Keduanya tidak bisa
berkata apa-apa selain mengikuti apa yang Kania lakukan. Pak sopir menutup
pintu mobil belakang di mana Kania sudah duduk manis di kursinya.
Mobil itupun berjalan
pelan meninggalkan tempat tersebut. Melaju melintasi jalan raya menuju untuk
membawa penumpangnya menuju alamat yang ingin mereka tuju.
Saat mobil terus
berjalan, benak Kania semakin merasa penasaran dengan apa yang baru saja
terjadi di rumah makan tadi. Rasa penasaran itu semakin menguasai pikiran
Kania, hingga dia tidak bisa menahan bibirnya untuk bertanya pada pak Hadi.
“Pak Hadi.” Kania
memanggil pak Hadi yang duduk di depan.
“Ya nona Kania. Ada
apa?”
“Boleh aku bertanya?”
“Tentu saja boleh,
nona. Mau bertanya soal apa? Tanyakan saja apa yang ingin nona tanyakan!”
“Soal Brian. Tolong
jawab dengan jujur, jika memang pak Hadi ingin menjawab. Tapi jika tidak, aku
tidak akan memaksa pak Hadi untuk menjawabnya.”
“Baiklah nona. Apa
yang ingin nona tau tentang tuan muda. Jika memang saya tahu, maka saya akan
menjawabnya.”
“Siapa Sintya yang
papanya maksud? Dan siapa adik yang akan Brian jemput di bandara? Setahu aku,
bukankah Brian itu anak tunggal. Alias, tidak punya saudara kandung sama
sekali.”
Pak Hadi tersenyum
dengan pertanyaan yang Kania berikan. Bukan soal Kania yang menghujani pak Hadi
dengan banyak pertanyaan sekaligus, melainkan, ada nada cemburu dari pertanyaan
yang Kania ucapkan barusan.
“Nona Sintya itu
adalah keponakan almarhumah mama tuan muda, Nona. Tepatnya, adik sepupu tuan
muda. Tapi, nona Sintya itu adik sepupu tiri tuan muda. Karena mama tuan muda
dengan mama nona Sintya itu saudara tiri.”
“Lalu, adik yang
papanya Brian maksud itu … apa si Sintya ini?”
“Iyah. Nona Sintya
itulah yang dimaksud tuan David adik yang harus tuan muda jemput di bandara
sekarang.”
“Oh.”
“Pak Hadi, kenapa
katakan itu pada nona Kania. Apakah pak Hadi tidak tahu bagaimana perasaan
wanita?” tanya pak sopir sedikit kesal pada pak Hadi. Walaupun ia bicara dengan
nada pelan, Kania tetap masih bisa mendengarkan dengan sangat baik apa yang ia
katakan.
“Tidak masalah pak
sopir. Aku tidak akan merasa sakit hati atau cemburu dengan penjelasan pak
Hadi.”
“Tapi nona Kania, saya
tahu bagaimana perasaan wanita. Karena saya punya anak dan istri di rumah, yang
perasaan mereka sangat halus dan butuh dijaga dengan sangat baik agar tidak
sakit hati.”
Kania tersenyum manis
menanggapi apa yang pak sopir katakan. Ia merasa dapat perhatian lagi sekarang.
“Terima kasih banyak
pak sopir. Aku merasa sangat bahagia dengan perhatian tulus yang pak sopir
berikan padaku. Oh ya, maaf sebelumnya, aku tidak tahu nama pak sopir siapa.
Bolehkah aku tahu nama bapak sekarang?”
“Nama saya Dayat nona.
Nona Kania tidak perlu merasa bersalah. Panggilan yang paling nyaman buat saya,
ya panggilan pak sopir. Karena itu sesuai dengan profesi saya,” ucap pak Dayat
sambil tersenyum.
“Ya sudah kalo gitu.
Sepertinya, aku tidak perlu merubah panggilanku pada pak Dayat. Kalo pak Dayat
merasa nyaman, maka aku akan tetap memanggil pak Dayat dengan sebutan, pak
sopir.”
“Iya, nona. Nona Kania
tidak perlu merubahnya.”
Sementara Kania sibuk
bicara dengan pak Dayat, pak Hadi sibuk pula memperhatikan Kania. Ia merasa,
Kania ini adalah gadis yang paling spesial dan langka.
‘Nona Kania
benar-benar gadis istimewa. Dia padahal tahu siapa dirinya sekarang. Terlepas
dari kehidupan masa lalunya yang mungkin suram, seharusnya ia berbangga diri
dan tidak perlu bersikap lembut pada pekerja bawahan seperti pak Dayat,’ kata
pak Hadi dalam hati sambil terus memperhatikan Kania.
Merasa diperhatikan,
Kania tiba-tiba merasa tidak enak karena grogi. Ia pun menghentikan obrolannya
dengan pak Dayat. Lalu, mengalihkan pembicaraan pada pak Hadi.
“Oh ya pak Hadi.
Terima kasih banyak sudah mau menjawab apa yang aku tanyakan. Tapi … ada satu
hal lagi yang mengganjal di hatiku. Sekiranya pak Hadi tahu dan bersedia
menjawab, maka aku ingin bertanya lagi.”
“Tanyakan saja, nona.
Saya akan dengan senang hati menjawab jika memang saja bisa dan tahu apa
jawaban dari pertanyaan nona Kania itu.”
“Aku ingin tahu,
kenapa Brian terlihat kesal dan sepertinya sangat tidak suka pada Sintya?
Bukankah mereka saudara sepupuan? Harusnya, mereka dekat, bukan?”
Komentar
Posting Komentar