Episode 4 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 4 PerjodohanMembawa Bahagia
“Selamat buat kita berdua, mama,” kata Zara sambil memeluk lembut mamanya.
“Selamat sayang,” ucap
Salma membalas pelukan anaknya.
Zara melepaskan
pelukannya dari Salma. “Tapi, Ma. Kenapa kita harus repot-repot melakukan hal
ini? Kenapa kita tidak menyingkirkan Kania saja? Bukankah mamanya telah merebut
papa dari kita selama puluhan tahun?”
“Tidak bisa sayang.
Kita tidak bisa menyingkirkan Kania karena harta warisan itu atas nama dia.”
“Lho, apa susahnya
minta Kania serahkan semua harta warisan itu pada kita. Lalu, usir dia dari
rumah ini, karena aku tidak ingin tinggal lebih lama lagi serumah dengan dia.”
“Jika bisa melakukan
hal itu, maka sudah mama lakukan dari kemarin-kemarin, Zara. Kamu tidak ingat
apa yang papamu katakan pada kita tentang isi dari surat warisan yang mamanya
tulis? Warisan itu tidak bisa diturunkan pada siapapun kecuali Kania sudah
menikah.”
“Lalu, bagaimana jika
Kania lenyap begitu saja, mama? Alias, meninggal.” Zara berucap sambil
mengangkat satu alisnya.
“Warisan itu akan
lenyap. Warisannya akan menjadi milik panti sosial dan kita tidak akan
mendapatkan apa-apa.”
“Sial. Kalau begitu,
kita harus nunggu Kania menikah, gitu Ma?”
Salma menganggukkan
kepalanya. Menjawab pertanyaan dari Zara yang kelihatan sedang sangat tidak
senang.
“Gila. Kapan kita bisa
menikmati harta ini dengan tenang kalo harus nunggu Kania menikah. Lagipula,
jika ia sudah menikah, bagaimana jika suaminya pula yang akan menjadi
penghalang bagi kita. Ih … bikin kesal dan bikin pusing aja deh.” Zara berucap
dengan nada sangat kesal.
“Kita tidak perlu
pusing memikirkan hal itu sayang. Kita hanya perlu mencarikan seseorang yang
bisa kita ajak kerja sama untuk kita jadikan alat.”
“Maksud mama?” tanya
Zara dengan tatapan berbinar-binar.
“Kita hanya perlu
mengeluarkan sedikit uang untuk membayar bajingan agar mau menikah dengan
Kania. Dengan begitu, kita akan mendapatkan semua warisan milik keluarga papa
kamu yang seharusnya tertulis atas nama kamu itu.”
“Wuah, mama pintar.
Benar-benar pintar.” Zara berucap sambil tersenyum bahagia.
“Lalu, kapan mama akan menjalankan rencana ini? Aku harap bisa mama jalankan
secepat mungkin. Dengan begitu, kita akan mengeluarkan dia dari rumah ini. Dan
aku, akan bebas bersama kak Dafa tanpa harus takut dia kembali pada si Kania
yang menyebalkan itu.”
“Sabar. Untuk rencana
ini, mama tidak bisa menjalankan sekarang.”
“Lho, kenapa, Ma?
Kenapa tidak dijalankan sekarang juga? Bukannya lebih cepat itu akan lebih
baik?”
“Iya. Lebih cepat
memang akan lebih baik. Tapi, kamu harus ingat satu hal. Rencana ini harus di
jalankan dengan perencanaan yang sangat matang. Karena jika dijalankan dengan
terburu-buru, mama takut akan menimbulkan masalan lain nantinya.”
“Iya deh. Mama yang
paling tahu semuanya. Pantasan mama mampu bersabar sampai puluhan tahun dan
baru bergerak sekarang,” kata Zara dengan kesal.
“Ssssttt. Diam. Jangan
bahas soal itu lagi.”
“iya-iya.”
Tit. Bunyi kelakson
mobil mengalihkan perhatian mereka berdua. Mata mereka sontak melihat ke
gerbang luar. Sebuah mobil sedang masuk ke dalam sekarang. Mobil yang tak lain
adalah milik Burhan itu masuk setelah satpam membuka gerbang.
“Papamu sudah pulang.
Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?”
“Tentu saja aku tahu,
mama. Tenang saja, ratu akting seperti kita, tidak akan pernah lupa memainkan
sandiwara dengan baik,” ucap Zara sambil tersenyum manis.
Zara pun melangkah
menuju pintu masuk untuk menyambut papanya. Sedangkan Salma, ia bergegas ke
dapur untuk menyediakan minuman buat Burhan. Mereka berdua sedang memainkan
peran masing-masing. Peran sebagai anak yang baik dan istri yang lembut di
depan Burhan.
“Papa udah pulang.
Sini Pa, Zara bawain tas kerjanya.”
“Anak baik. Terima
kasih banyak sayang.” Burhan berucap sambil menyerahkan tas yang ia bawa pada
Zara.
“Oh iya, di mana mamamu?”
“Seperti biasa papa,
sayang. Mama menyediakan air minum untuk papa,” kata Zara sambil tersenyum.
“Papa duduk saja di sofa, aku langsung antarkan tas papa ke ruang kerja ya.”
“Iya sayang,” ucap
Burhan sambil mengacak-acak rambut Zara yang tergerai sepadas bahu.
Melihat kedekatan itu,
hati Kania terasa teriris-iris. Air mata pun jatuh perlahan tanpa bisa ia
tahan. Karena selama ini, ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh
papanya.
Jelas-jelas dia juga
punya status yang sama dengan Zara. Yaitu, anak dari Burhan. Jangankan
diperlakukan dengan hangat oleh Burhan, sebagaimana perlakuan Burhan barusan
pada Zara. Dipanggil dengan menyebut namanya saja sangat jarang. Bisa disebut
langka.
Karena Burhan seakan
tidak pernah menganggap Kania ada selama ini. Ia mengabaikan Kania. Jangankan
sekarang, sejak mamanya masih hidup juga sama. Kania seolah-olah tidak pernah
terlihat di mata Burhan.
Kania menarik napas
panjang, lalu melepaskannya dengan berat. Ia menyeka air mata yang jatuh ke
pipinya. Lalu, dengan berat melanglahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah.
Saat ia ingin melewati
ruang keluarga, di mana Burhan sedang duduk menantikan istrinya, mata Burhan
menangkap sosok Kania yang kucel dengan baju yang masih lembab. Ia merasa
tertarik untuk menegur Kania dengan keadaan kumal itu.
“Heh, dari mana kamu
datang? Habis main di mana kamu, hah!”
Saat itu, Salma yang
datang dari arah dapur mendengarkan dengan sangat jelas apa yang Burhan
katakan. Ia tidak akan membuang kesempatan itu untuk menambah kebencian di hati
Burhan pada anak kandungnya ini.
“Udah, Pa. Jangan di
marahin Kania nya. Palingan, dia baru selesai main sama teman kampungnya itu.
Iya kan, Nia?”
“Heh, main sama teman
kampung? Pantas saja dia kayak kumuh, kucel, dan bau. Sama kayak teman-teman
kampungnya itu. Dasar, anak sama ibu sama saja. Sama-sama gak bisa di kasi
tau.” Burhan bicara sambil menatap kesal ke arah Kania.
Kania menahan
amarahnya dengan menggenggam erat kedua tangan. Rasanya, ia ingin sekali
berteriak pada papa yang jelas-jelas adalah orang tua kandungnya. Tapi sayang,
itu tidak bisa ia lakukan. Karena apa? Itu semua tidak akan ada hasilnya.
Malahan, semua akan menimbulkan kegaduhan yang semakin menambah kebencian dan
amarah dalam hati sang papa untuknya nanti.
“Kamu ngomong apa sih,
Mas? Gak boleh ngomong sama anakmu seperti itu. Kasihan dia, Mas.” Salma bicara
layaknya dia adalah ibu sambung yang paling baik untuk Kania.
“Nia, jangan
didengarkan apa yang papamu katakan, Nak. Papamu memang suka bicara seperti
itu. Kamu harus maklum karena papamu baru pulang kerja. Dia sedang lelah
sekarang,” kata Salma lagi.
“Cih,” ucap Kania
singkat sambil beranjak meninggalkan ruang keluarga dan mengabaikan keluarga
hangat yang penuh dengan sandiwara ini.
“Kamu!” Burhan sangat
kesal dengan sikap Kania barusan. Ia ingin memberi pelajaran pada Kania, namun
Salma yang sedang bersandiwara jadi mama tiri yang baik mencegah apa yang ingin
Burhan lakukan.
Komentar
Posting Komentar