Episode 36 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 36 Perjodohan Membawa Bahagia
“Apa! Brian sudah menunggu aku di bawah?” tanya Kania terlihat kaget.
“Iya nona. Tuan muda
sudah siap.”
“Ya Allah, cepat
sekali dia siapnya.”
“Ya sudah kalo gitu, ayo masuk bu Ninik! Dandani aku seadanya saja agar aku
tidak membuat Brian menunggu terlalu lama.”
Kania membuka pintu
kamar tersebut dan menampakkan seluruh tubuhnya yang sedang terbalut dress
hijau tua. Bu Ninik tertegun saat ia melihat Kania yang sedang memakai dress
tersebut.
“Bu Ninik. Ada apa?
Apa aku tidak cocok dengan baju ini?” tanya Kania sambil melihat dirinya
sendiri dari ujung kaki.
“Ti–tidak nona Kania.
Nona terlihat sangat cantik dengan dress ini. Karena dress ini, sangat pas dan
begitu serasi di tubuh nona Kania.”
Kania hanya tersenyum.
Ia lalu mempersilahkan bu Ninik untuk segera masuk dan merias wajahnya. Karena
dalam pikiran Kania sekarang hanyalah, tidak ingin membuat Brian menunggunya
terlalu lama.
Bu Ninik melakukan
tugasnya segera. Ia mulai mengoleskan bedak ke wajah mulus milik Kania. Wajah
itu memang dasarnya sudah terlahir cantik. Jadi, hanya perlu sentuhan sedikit
bedak dan beberapa alat kecantikan sedikit saja, sudah memunculkan pesona
cantik yang luar biasa.
“Bu Ninik, apakah aku
boleh bertanya?” tanya Kania dengan nada pelan dan hati-hati.
“Nona Kania mau
bertanya soal apa pada ibu? Tanyakan saja! Jika memang ibu tahu atau ibu punya
jawaban dari pertanyaan nona Kania, maka ibu akan menjawabnya.”
“Mm … ini soal dress
yang aku pakai saat ini, bu Ninik. Sebenarnya, dress ini punya siapa?”
Bu Ninik tidak
langsung menjawab. Ia malahan terdiam sambil menghentikan apa yang ia kerjakan
sebelumnya.
“Jika bu Ninik tidak
punya jawaban, tidak masalah. Aku tidak memaksa untuk bu Ninik menjawabnya.”
“Maaf nona Kania,
sudah mengabaikan nona barusan. Setahu ibu, dress itu punya tuan muda.
Maksudnya, dress ini milik almarhumah mama tuan muda, yang di amanah kan pada
tuan muda untuk diserahkan pada istrinya setelah tuan muda menikah.”
“Jadi benar, ini dress
asli buatan almarhumah mamanya Brian, bu Ninik?”
“Iyah. Ini dress asli
buatan almarhumah nyonya besar. Beliau merancang dress ini sendiri, dan ia
jahit sendiri pula.”
“Wah … ternyata,
almarhumah mamanya Brian sangat luar biasa.”
“Iya, nyonya besar itu
wanita yang multi talenta, nona Kania. Beliau bisa merancang baju, bisa
memasak, bisa menyanyi sekaligus main musik, dan masih banyak lagi kebolehan
yang nyonya besar miliki.” Bu Ninik berucap dengan penuh semangat.
“Wah … benar-benar
luar biasa ternyata. Sayang, aku tidak bisa bertemu dengan beliau. Jika beliau
masih ada, aku mungkin akan sangat dekat dengan beliau kali ya?” tanya Kania
sambil memikirkan apa yang ia bicarakan.
“Tentu saja, nona
Kania. Almarhumah itu adalah orang yang sangat baik. Sayang, ia harus pergi
secepat itu. Kepergiannya meninggalkan luka terdalam dan keretakan di antara
kedua belah keluarga, juga keretakan antara papa dan anak.”
Kania menyipitkan
matanya tanda tidak mengerti. “Maksud bu Ninik?”
‘Aduh, apa yang aku
katakan barusan? Jika tuan muda tahu, bisa marah besar ini,’ kata bu Ninik
dalam hati.
“Ti–tidak ada. Lupakan
saja apa yang ibu katakan barusan. Anggap saja ibu salah bicara, nona.”
“Oh, iya deh.” Kania
berusaha menarik senyum walau hatinya menyimpan rasa kekecewaan.
“Oh ya, usah selesai?”
tanya Kania berusaha mengubah pokok pembicaraan agar tidak terlihat rasa
kecewanya.
“Oh iya, sebentar.
Tinggal sedikit lagi.” Bu Ninik kembali melanjutkan pekerjaannya dengan cepat.
Lima menit kemudian,
Kania keluar dari kamarnya. Dengan langkah anggun ia berjalan menuruni anak
tangga. Dia benar-benar cantik sampai Brian tidak bisa mengedipkan matanya saat
melihat Kania yang berjalan perlahan menuruni anak tangga tersebut.
Bukan hanya Brian saja
yang terpesona dengan wajah cantik milik Kania, pak Hadi dan Ikhsan yang ada di
depan pintu pun merasakan hal yang sama. Mereka memuji Kania dengan tampilan
elegan yang begitu cantik mempesona dalam hati masing-masing.
‘Tuhan … dia cantik
sekali. Seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan. Andai saja dia seorang
pekerja yang posisinya sama dengan aku, mungkin, aku sudah memperjuangkan
dirinya dengan seluruh nyawaku,’ kata Ikhsan dalam hati dengan seluruh
kekaguman.
‘Nona Kania
benar-benar cantik. Ia sangat serasi dengan tuan muda. Pantas saja tuan muda
menerima dia sebagai istri kemarin. Ternyata, ini alasannya,’ kata pak Hadi
ikut bicara dalam hati.
Sementara itu, Johan
yang berniat masuk untuk menemui Brian pun, ikut terdiam di depan pintu ketika
ia melihat Kania yang sedang berjalan mendekat ke arah Brian. Ia pun tidak bisa
memungkiri dan tidak bisa menahan hati untuk tidak menggagumi Kania sekarang.
‘Ya ampun … dia
ternyata begitu cantik. Pantas saja Brian begitu bersemangat mengatakan cinta
terlalu cepat padanya,’ kata Johan ikut memuji.
Kania sampai di
hadapan Brian. Brian masih terdiam dengan tatapan yang terus tertuju pada Kania
tanpa berkedip.
Dengan perasaan kesal,
Kania memanggil Brian sambil membunyikan tangannya.
“Brian!”
Seketika, Brian
tersadar. Ia sedikit merona akibat malu dengan apa yang baru saja terjadi.
“Kamu apa-apaan sih, Kania. Kaget tahu,” ucap Brian berusaha menenangkan hati
dan menyembunyikan perasaan.
“Kaget? Kenapa?”
“Tidak ada. Jangan
banyak tanya. Ayo berangkat sekarang!” ucap Brian sambil beranjak.
“Uh … gak ada
manis-manisnya kamu Brian.” Kania berucap sambil mengikuti langkah Brian dari
belakang.
“Apa kamu bilang?”
tanya Brian sambil membalikkan tubuhnya dan menghentikan langkahnya secara
tiba-tiba. Hal itu menciptakan sebuah tabrakan yang berakhir dengan sebuah
pelukan.
Kania yang tak
menyangka Brian akan berhenti melangkah, membuat ia harus menabrakkan kepalanya
ke dada bidang milik Brian. Dan akhirnya, tubuh Kania hilang kendali, hampir
jatuh karena kaget. Untung saja Brian sigap menangkap tubuh mungil itu, lalu ia
bawa ke dalam pelukannya.
Untuk beberapa saat,
mereka saling tatapan dengan detak jantung masing-masing yang terasa dua kali
lebih cepat. Kemudian, mereka sama-sama tersadar dan kembali ke posisi
sebelumnya.
“Hati-hati kalo
jalan,” ucap Brian sambil memutar kembali tubuhnya.
“Lah … kenapa kamu
sepertinya sedang menyalahkan aku atas apa yang terjadi barusan?” tanya Kania
dengan nada kesal.
“Jika kamu hati-hati,
hal tadi tidak akan terjadi.”
“Kamu yang sengaja
berhenti tiba-tiba, tapi malah menyalahkan aku.”
"Tunggu! Kamu …
"
Kania melihat Brian dengan tatapan tak percaya. Memandang Brian dari ujung kaki
sampai kepala. Karena ia baru ingat kalau Brian tidak menggunakan topeng hitam
dan kursi rodanya lagi sekarang.
“Apa?” tanya Brian
penasaran.
"Kamu … "
Kania tetap tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Hanya mata yang terus
tertuju pada kaki membuat Brian mengerti apa yang ingin Kania katakan.
Komentar
Posting Komentar