Episode 35 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 35 Perjodohan Membawa Bahagia
“Kamu benar. Dress itu tidak aku beli secara online. Mana mungkin aku beli dengan waktu yang sesingkat itu bisa nyampai.”
“Dress itu aku ambil dari kamar khusus milik almarhumah mama ku.”
“Tapi kamu tenang
saja. Itu bukan dress bekas kok, Kania. Dress itu masih baru, karena belum
pernah di pakai oleh siapapun. Dan yang paling penting, itu dress bukan milik
mama ku.”
Kania dibuat bingung
dengan penjelasan yang Brian berikan. Ia melihat mata Brian untuk memahami apa
yang laki-laki itu ucapkan barusan.
“Maksud kamu bagaimana
sih sebenarnya? Kamu bilang, dress ini milik almarhumah mama kamu. Tapi, ini
bukan dress miliknya. Lalu, ini dress milik siapa?”
Brian tersenyum
melihat wajah bingung yang Kania perlihatkan. “Kamu lucu sekali dengan wajah
penasaran seperti itu, Kania.”
“Aku serius, Brian.
Jangan bicara berbelit-belit dengan ku. Karena aku memahami apa yang kamu
bicarakan, dan yang paling penting, aku paling tidak suka orang yang bicara
berbelit-belit padaku.”
“Tingkat kewaspadaan
mu terhadap orang lain itu terlalu tinggi, Kania. Makanya kamu sulit memahami
dan mempercayai apa yang orang lain katakan.”
“Terserah kamu mau
bilang apa. Yang jelas, aku tidak akan memakai dress itu jika aku tidak tahu
dengan jelas siapa pemiliknya.”
“Pemilik sebenarnya
adalah … aku.” Brian bicara mantap sambil menunjuk dirinya.
“Kamu?”
“Jangan bercanda. Tidak mungkin kamu memakai dress perempuan kan Brian.”
"Tunggu! Jangan bilang kamu … "
“Hei! Jangan berpikir
yang tidak-tidak, Kania. Aku ini laki-laki normal tahu gak. Kamu jangan banyak
bicara atau aku akan mencobanya.”
Seketika, wajah Kania
mendadak merona karena kata-kata itu. Entah kenapa, saat kata-kata itu
menyentuh telinganya, Kania langsung membayangkan hal yang tidak seharusnya ia
bayangkan.
"Kamu … "
"Cukup Brian!
Jika tidak ingin menjelaskan soal dress ini, sebaiknya kamu keluar saja
sekarang. Karena aku … "
“Kamu mengusirku,
Kania?”
“Ya Tuhan … apakah ini nyata? Kamu mengusir aku dari kamarku sendiri.”
“Hei! Ini kamarku.
Meskipun aku hanya numpang, tapi tetap saja. Ini kamarku dan aku berhak
mengusir kamu.”
“Kamu orang pertama
yang berani mengusir aku di tempatku sendiri. Ya Tuhan … aku salut sama kamu.”
“Tapi … itu juga wajar sih, Kania. Karena kamu adalah istriku. Kamu juga punya
hak atas apa yang aku miliki,” ucap Brian sambil tersenyum manis.
“Terserah kamu mau
bilang apa. Sekarang, sebaiknya kamu keluar, karena aku ingin ganti baju.”
“Kalau begitu,
sebaiknya aku tetap saja di sini. Aku akan menjagamu ganti baju.”
“Brian! Jangan
main-main kamu sama aku ya.” Kania terlihat kesal sekaligus senang. Entah apa
yang ada dalam hati dan pikirannya. Yang jelas, rasa senang itu muncul dengan
sendiri tanpa bisa ia cegah.
“Ya Tuhan … tidak
perlu berteriak keras seperti itu padaku, Kania. Tidak ada salahnya aku tetap
di sini, bukan? Lagian, kalau aku jagain kamu itu wajar dong ya. Karena kamu
adalah istriku.”
"Berhenti membual
dan mengatakan hal yang tidak penting, Tu … " Kania segera menghentikan
kata-katanya. Ia menatap Brian yang sedang menantikan ia selesai bicara.
"Ehem …
hem-hem-hem … " Brian tersenyum manis sambil membalas tatapan Kania.
“Kenapa diam, Nona
Kania? Kenapa tidak dilanjutkan kata-katanya?” tanya Brian dengan nada
menggoda.
“Brian. Aku serius
sekarang. Keluar dari kamarku karena aku ingin siap-siap sekarang juga. Kasihan
bu Ninik yang sudah menunggu aku di kamar tamu terlalu lama.”
“Lagipula, kamu bilang ingin pergi ke suatu tempat sebelum kita ke rumah
papaku, bukan? Sebaiknya, kita bersiap-siap sekarang dari pada kita telat
nantinya.”
“Apa yang kamu katakan
itu masuk akal. Tapi, aku merasa kamu hanya memberikan alasan saja padaku.”
“Brian!” Kania sangat
kesal sekarang.
“Tapi … ya sudahlah,
aku keluar saja sekarang. Permisi nona Kania. Dandan yang cantik, dan kita
lihat, bagaimana reaksi keluarga kamu nantinya.” Brian berucap sambil beranjak
dari tempatnya.
Baru beberapa langkah
berjalan untuk meninggalkan kamar Kania, ia kembali menghentikan langkahnya.
Lalu, memutar tubuh untuk kembali melihat Kania yang sedang berdiri tegak
sambil melihat kepergiannya.
“Aku lupa menjelaskan
soal dress itu. Dress itu bukan milik siapa-siapa, melainkan milik kamu. Dress
itu adalah dress buatan tangan almarhumah mamaku yang dihadiahkan padaku, untuk
aku berikan pada istriku.”
“Aku harap kamu mau
menerima barang pemberian almarhumah mamaku dengan senang hati. Aku juga
berharap, kamu mau memakainya, Kania.”
“Ya sudah, aku tinggal
dulu.”
Brian kembali
melanjutkan langkah untuk meninggalkan kamar tersebut. Sedangkan Kania, ia
mengalihkan pandangannya pada dress yang berada disampingnya setelah Brian
menutup pintu kamar tersebut.
“Jadi ini dress buatan
mamanya?” tanya Kania sambil mengangkat dress tersebut.
“Ini barang yang
sangat berharga. Mana mungkin aku tidak menerimanya dengan senang hati.”
“Tapi … kelihatannya,
Brian sangat menyayangi dress ini. Jika benar begitu, maka aku akan
meminjamkannya saja. Tidak untuk aku miliki seutuhnya jika ia masih sayang.”
Kania bicara pada dirinya sendiri.
“Brian juga terlihat
sangat merindukan almarhumah mamanya. Aku bisa merasakan dan melihat dengan
jelas dari tatapan mata dan nada bicara yang ia ucapkan.”
Jelas saja Kania bisa
merasakan hal itu dari Brian. Karena dirinya dan Brian hampir sama. Mereka
sama-sama kehilangan sosok manusia yang sangat mereka sayangi. Dan Kania juga
merasakan hal yang sama. Yaitu, merindukan almarhumah mamanya yang telah lama
tiada.
Kania menatap dirinya
di depan cermin. Dress hijau tua itu terlihat sangat cocok di tubuhnya.
Itu seakan-akan dibuat memang untuk dia.
“Ya Allah, pas sekali
padaku. Tidak longgar ataupun ketat di tubuh ini. Dan yang paling penting, ini
… indah sekali,” ucap Kania sambil menggangumi dirinya sendiri.
Baru saja ia ingin
beranjak meninggalkan cermin, pintu kamarnya sudah diketuk oleh seseorang dari
luar.
“Tunggu sebentar,” ucap Kania sambil beranjak menuju pintu.
Saat pintu terbuka, bu
Ninik terlihat sedang berdiri tegak sambil membawa boks kecil di tangannya.
Kania tersenyum canggung pada bu Ninik, karena ia merasa tidak enak hati pada
perempuan paruh baya itu. Ia sudah membuat wanita paruh baya itu menunggu
terlalu lama.
“Bu Ninik, maaf. Aku
baru saja ingin turun untuk bertemu bu Ninik. Ada beberapa kerjaan yang membuat
aku terlambat mengganti baju. Makanya, aku terlambat turun,” ucap Kania
berusaha menjelaskan dengan seksama.
“Nona Kania tidak
perlu minta maaf. Ibu tahu kalau nona Kania sedang sibuk, makanya, ibu langsung
saja ke atas untuk mendandani nona.”
“Ya sudah, bisakah ibu
masuk dan langsung merias wajah nona sekarang juga? Karena tuan muda sudah
menunggu nona di bawah.”
“Apa! Brian sudah
menunggu aku di bawah?” tanya Kania terlihat kaget.
“Iya nona. Tuan muda
sudah siap.”
Komentar
Posting Komentar