Episode 33 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 33 Perjodohan Membawa Bahagia
‘Aku tidak bisa melepaskan kamu dan membiarkan pernikahan ini hanya sebatas sandiwara, Kania. Karena kamu adalah perempuan yang aku cari selama ini. Perempuan yang menjalani hidup dengan ketulusan tanpa sandiwara. Kamu terlalu berharga jika untuk dijadikan sandiwara,’ kata Brian dalam hati.
“Baiklah, aku akan
jalani pernikahan ini seperti perjanjian kita sebelumnya. Tapi … aku juga akan
buktikan padamu, kalau aku mampu menjadi pendamping hidupmu yang sesungguhnya.
Bukan hanya sekedar sandiwara saja.”
“Terserah padamu.
Sekarang, lepaskan aku!”
Kania sudah tidak
ingin berdebat lagi. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah, lepas dari
Brian secepat mungkin.
Brian menuruti apa
yang Kania katakan. Ia membebaskan Kania dari cengkraman dan membiarkan Kania
pergi meninggalkan kamarnya.
Merasa dibebaskan,
Kania berjalan cepat menuju pintu kamar. Ia ingin segera keluar dan lenyap dari
pandangan Brian secepat mungkin.
Melihat tingkah Kania
yang tergesa-gesa meninggalkannya, Brian tersenyum geli. Ia merasa, Kania benar-benar
perempuan polos yang menyenangkan.
Saat Kania sampai di
kamar, ia melihat ponselnya yang sedang menyala. Di layar ponsel tersebut, ada
banyak panggilan masuk dan pesan dari nomor papa dan Zara.
“Mau apa lagi Zara?
Kenapa papa menghubungi aku? Tumben sekali,” kata Kania sambil membuka pesan
masuk dengan malas.
*Pulang ke rumah siang
ini. Ada yang ingin kami bicarakan.*
Isi pesan singkat dari
papanya. Lalu, Kania segera melihat pesan yang Zara kirimkan.
*Papa ingin kamu
pulang ke rumah siang ini. Ada yang ingin dia bicarakan denganmu. Jika kamu
menolak, siap-siap saja kehilangan barang-barang almarhumah mama mu.*
Kania menggenggam erat
tangannya. Ia kesal dengan ancaman yang Zara berikan. Tapi, ia juga tidak bisa
berbuat apa-apa selain mengikuti. Karena ia sangat menyayangi barang-barang
milik mamanya. Walaupun hanya sebatas barang mati yang tidak akan bisa merubah
keadaan. Tapi, semua itu adalah kenangan. Sebuah kenangan yang baginya mampu
menggobat rindu.
*Aku akan datang.*
Kania membalas pesan
itu dengan rasa sangat kesal.
“Kalian tenang saja.
Aku pasti akan sesuai keinginan kalian. Dan, aku juga akan menyelesaikan
semuanya hari ini.” Kania bicara pada dirinya sendiri di depan cermin.
“Ya, aku akan
menyelesaikan semuanya hari ini. Dengan begitu, aku harap, tidak pernah bertemu
dengan mereka semua lagi.”
Kania segera beranjak
meninggalkan kamar. Tujuannya sekarang adalah kamar Brian. Ia harus bertemu
Brian dan bicara dengan Brian soal bantuan yang ia minta sebelumnya.
Sampai di depan pintu
kamar, ia kuatkan hati dan bulatkan tekad agar tangannya yakin untuk mengetuk
pintu kamar tersebut. Belum sempat Kania mengetuk pintu kamar Brian, Brian
sudah membuka pintu tersebut duluan. Alhasil, bukan pintu yang Kania ketuk
melainkan, dada Brian.
Kania yang mengetuk
pintu sambil menutup mata karena melawan rasa kesal pada Brian, merasa ada yang
aneh dengan pintu yang ia ketuk. Seharusnya, jika ia mengetuk pintu sekuat itu,
pasti terdengar bunyi. Tapi sekarang, tidak ada bunyi sama sekali.
Kania membuka mata
untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Betapa kagetnya dia saat melihat,
yang ia ketuk bukan pintu melainkan dada bidang milik Brian.
“Apakah aku mirip
dengan pintu, sehingga kamu begitu bersemangat mengetuk dadaku sekuat mungkin?”
tanya Brian sambil menatap mata Kania saat Kania membuka matanya.
"B–Brian.
Ma–maaf, aku pikir … "
“Aku bukan pintu.
Makanya kalo ngetuk pintu itu liat, bukan merem.”
“Ya mana aku tahu
kalau kamu akan muncul sebelum pintunya aku ketuk. Itu salah kamu,” ucap Kania
dengan suara pelan. Tapi Brian masih bisa mendengarkan apa yang Kania ucapkan
dengan sangat baik.
“Apa kamu bilang? Itu
salah aku? Kamu menyalahkan aku atas kesalahan yang kamu lakukan, Kania
Hermansyah?”
"Ooo …
tidak-tidak. Siapa yang menyalahkan kamu. Aku tidak bilang begitu, tuan …
"
“Sekali lagi kamu
panggil aku tuan muda. Maka aku akan mencium mu.” Brian memotong perkataan
Kania dengan cepat. Membuat Kania kaget dan terdiam dengan kata-kata yang Brian
ucapkan.
‘Ya Allah … makin
hari, dia makin gak waras aja kayaknya. Makin suka bikin hati ini kesal setiap
kali bertemu. Apakah aku yakin untuk minta bantuan sama dia? Tapi … kalau bukan
padanya, pada siapa lagi aku harus minta tolong,’ kata Kania dalam hati, tanpa
sadar, Brian memperhatikannya dengan seksama.
“Bicara dalam hati
lagi?”
“Tidak. Siapa yang
bicara dalam hati? Sok tahu kamu.”
“Hmmm … aku yang sok
tahu atau kamu yang bohong?” tanya Brian menggoda Kania. Karena sekarang, Kania
sudah terlihat merona dan salah tingkah untuk menutupi kebohongannya.
“Sudah, jangan banyak
bicara. Aku ke sini ingin bicara padamu, Brian.”
“Mau bicara apa lagi?
Bukankah setiap kita bertemu, kita pasti bicara?”
“Bukan itu maksudku.
Aku datang ingin menagih bantuan yang sama-sama kita sepakati sebelumnya. Aku
ingin kamu membantuku mengambil barang-barang milik almarhumah mamaku yang
tertinggal di tempat aku tinggal sebelumnya. Aku harap, kamu tidak lupa.”
“Tentu saja aku tidak
lupa, Kania. Tapi, apakah ingin bergerak secepat ini? Apakah ini tidak terlalu
cepat untuk bertindak?”
“Brian, aku mohon
jangan tunda lagi. Tolong. Aku mau barang-barang milik mama ku segera. Karena,
jika terlalu lama pada mereka, mereka akan terus mengancam aku dengan
barang-barang itu. Aku ingin lepas dari mereka, Brian. Aku mohon.”
Brian ikut merasakan
kesedihan yang Kania rasakan dari nada bicara dan kata-kata yang Kania ucapkan.
Ia ikut merasakan perih dihatinya saat ini. Entah mengapa, permohonan itu
terasa sangat menyakitkan bagi Brian.
“Kania tenang. Jangan
memohon seperti itu. Kamu tidak perlu memohon padaku, karena aku pasti akan
membantu kamu sebisa mungkin.”
“Benarkah?” tanya
Kania berbinar karena bahagia.
“Tentu saja. Ayo
masuk! Kita bicarakan di dalam saja.”
Kania mengikuti apa
yang Brian katakan. Masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sofa tak jauh dari
jendela.
“Katakan padaku, ada
berapa banyak barang peninggalan almarhumah mamamu yang akan
kita jemput hari ini. Apakah aku perlu membawa banyak orang atau tidak?”
“Tidak perlu membawa
orang banyak. Karena barang milik almarhumah mamaku tidak banyak. Hanya sedikit
saja. Itu juga barang ringan semua.”
“Baiklah, kalau
begitu, kita hanya perlu membawa pak Hadi saja sudah cukup.”
“Tidak perlu
merepotkan pak Hadi, Brian. Aku saja sudah cukup untuk membawa barang-barang
itu. Hanya saja, aku butuh kamu temani agar aku bisa mengambil barang-barang
itu tanpa ada hambatan.”
“Tidak Kania. Kamu
adalah nona Kania, istri tuan muda Aditama sekarang. Kamu tidak perlu
mengerjakan semuanya sendirian lagi. Karena kamu sudah punya banyak pendukung
di belakang mu. Pendukung yang siap melakukan semuanya untuk kamu. Jadi …
jangan takut pada orang yang dulu pernah menyakiti kamu. Karena sekarang, siapa
yang berani menyakiti kamu, maka akan berhadapan dengan masalah besar.”
Komentar
Posting Komentar