Episode 31 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 31 Perjodohan Membawa Bahagia
Brian terbangun saat matahari sudah benar-benar bersinar terang benderang. Alias, ia bangun kesiangan karena semalaman tidak bisa tidur akibat memikirkan kedatangan sang adik sepupu yang pastinya akan menimbulkan masalah buat ketenangan hati dan pikirannya.
Ia masih berbaring di
atas ranjang ketika pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dari luar. Dengan
malas, ia berucap. “Sebentar.”
Tanpa pikir panjang
lagi, Brian langsung turun dari ranjang, lalu berjalan mendekati pintu untuk
membuka pintu kamar tersebut. Ia lupa, kalau ia harus menggunakan kursi roda
karena dirinya sedang menjalankan sandiwara sebagai laki-laki lumpuh. Dan …
sudah bisa dipastikan, kalau dia juga lupa memakai topeng hitam untuk menutupi
wajahnya.
Alhasil, saat ia
membuka pintu kamar tersebut, ia mendapatkan teriakan kaget dari orang yang
berada di depan pintu kamar tersebut.
“Aaa … siapa kamu?!” tanya Kania sambil berteriak keras karena ia sangat kaget
dengan orang yang ada dihadapannya saat ini.
Bagaimana Kania tidak
merasa kaget saat ini? Laki-laki yang ada dihadapannya sama sekali belum pernah
ia lihat sebelumnya. Dan juga, tidak sedikitpun ia terpikirkan kalau itu adalah
Brian. Karena yang ia tahu, Brian lumpuh dan memiliki wajah cacat yang selalu
Brian sembunyikan dibalik topeng hitam. Sedangkan laki-laki yang ada dihadapan
Kania saat ini, adalah laki-laki yang sangat tampan. Dengan postur tubuh tegap
dan kaki yang normal.
Brian yang mendapat
teriakan itu juga merasa kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Ia terdiam
mematung tanpa tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Siapa kamu? Kenapa
kamu berada di kamar suamiku? Apa yang kamu lakukan pada Brian? Di mana dia?”
Kania menghujani Brian dengan pertanyaan yang terdengar bernada cemas.
Saat itulah, Brian
baru sadar dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia menarik tangan Kania
untuk ia bawa masuk ke dalam kamar. Kania yang tidak tahu hal itu akan terjadi,
tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak mengikuti apa yang Brian lakukan
padanya.
"Hei lepaskan
aku! Tolong! Tolong! … Brian tolong! … "
Kania berteriak keras
sambil berusaha melawan apa yang Brian lakukan padanya. Dengan cepat, Brian
menutup mulut Kania dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain terus
memegang tangan Kania.
Brian menutup pintu
kamar. Lalu, mengunci pintu tersebut dengan cepat. Kemudian, ia menarik tangan
Kania, dan menjatuhkan tubuh Kania di atas ranjang. Seterusnya, ia mengikuti
tubuh Kania yang berbaring di atas ranjang.
Kania kembali
berteriak ketika tangan Brian tidak lagi menutupi mulutnya.
“Tolong … Brian! Tolong aku! Di mana kamu?” tanya Kania dengan nada sedih.
“Lepaskan aku! Siapa
kamu, hah? Apa kamu tidak tahu kalau aku ini istri orang?” Kania bicara dengan
nada sedih yang terdengar sangat putus asa. Ia ingin melawan, tapi laki-laki
ini terlalu kuat untuk ia lawan.
“Brian! Di mana kamu?”
tanya Kania lagi terus berusaha melawan walau ia tahu, itu tidak akan berhasil.
“Aku di sini.” Brian
berucap dengan tatapan penuh kasih sekaligus kasihan pada Kania.
“Diam dan dengarkan apa yang ingin aku katakan padamu.”
"Bukan. Kamu
bukan Brian. Kamu … "
“Kania, aku Brian.
Laki-laki yang baru beberapa hari yang lalu menikahi kamu.”
“Tidak mungkin. Kamu
tidak mungkin Brian.” Kania mulai melemah dan tidak memberontak lagi.
“Lepaskan aku! Kamu jangan membohongi aku!” Kania kembali emosi dan berusaha
melawan.
“Aku akan melepaskan
kamu tapi tolong jangan berteriak. Dan, dengarkan apa yang ingin aku
bicarakan.”
Brian melonggarkan
tubuh Kania yang ia tahan dengan tangan sejak tadi. Kemudian, ia turun dari
ranjang, lalu duduk di samping ranjang tersebut. Sedangkan Kania, bergegas
bangun dan menjauh dari ranjang itu.
“Aku Brian.”
"Jangan bohong.
Mana mungkin kamu Brian. Bukankah Brian … "
“Cacat! Lumpuh dan
buruk rupa. Itukan yang ingin kamu katakan padaku?” Brian bicara sambil menatap
Kania.
“Apakah kamu tidak
bisa mendengarkan aku bicara dengan nada yang sama sebelumnya?”
“Tidak mungkin kamu
Brian. Bagaimana orang yang di kabarkan lumpuh dan cacat wajah sebelumnya bisa
terlihat baik-baik saja seperti kamu?”
“Alasannya cuma ada
satu Kania. Yaitu sandiwara. Berpura-pura lumpuh dan buruk rupa, agar bisa
mencapai sebuah misi dan menjadi pemenang. Aku yakin, kamu pasti mengerti.”
Mendengar kata-kata
yang Brian ucapkan membuat Kania merasa geli sekaligus sakit dalam hatinya. Ia
yang awalnya sangat percaya dan menaruh simpati pada Brian, kini harus
merasakan rasa kecewa atas apa yang ia ketahui sekarang.
Kania tersenyum perih.
Senyum di bibir, namun sakit di hati. Seperti sebuah luka yang tak mengeluarkan
darah, namun sakitnya pasti terasa.
Brian merasa bingung
dengan senyum yang Kania perlihatkan. Senyum sedih itu membuat hatinya penuh
tanda tanya sehingga ia tidak bisa menutupi rasa penasaran yang ada dalam
hatinya lagi.
“Kenapa kamu
tersenyum, Kania? Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan?
Atau, apa kamu tidak memahami apa yang aku maksud?”
“Tidak. Aku tersenyum
bukan karena aku tidak memahami atau tidak percaya dengan perkataan mu, Brian.
Tapi, aku tersenyum karena aku sangat memahami apa yang kamu katakan.”
“Kalian manusia
seperti apa sebenarnya. Aku sungguh tidak memahami kalian semua. Apakah hidup
kalian tidak bisa lepas dari kata sandiwara dan kepura-puraan? Tidak bisakah
kalian hidup dengan hati yang tulus dan jujur?”
Kania terlihat begitu
sedih dan kecewa sekarang. Hal itu bisa Brian rasakan dari nada bicara yang
Kania ucapkan barusan. Rasa kecewa itu membuat Brian merasa bersalah. Ia
sebenarnya tidak berniat membuat Kania kecewa dengan apa yang ingin ia
sampaikan tadi. Hanya saja, sifat angkuh sebagai seorang tuan muda itu tidak
bisa ia tutupi walau hatinya tidak menginginkan sifat tersebut ada.
Sementara Brian sibuk
memikirkan alasan lain untuk ia ucapkan pada Kania, Kania sekuat tenaga sedang
menahan air mata agar tidak jatuh karena hatinya terlalu kecewa dengan kebohongan
yang Brian tunjukkan. Harusnya ia bahagia sekarang, saat tahu kalau suami yang
terpaksa menikahinya, bukan orang yang cacat seperti yang dikabarkan.
Tapi tidak, masalahnya
bukan pada bahagia karena sebuah kenyataan. Melainkan, terluka dan kecewa pada
sebuah kebohongan. Ia merasa dipermainkan. Benar-benar merasa dipermainkan oleh
semuanya. Padahal ia sangat mempercayai apa yang telah ia lihat sebelumnya dan
berusaha menerima dengan lapang dada dan hati yang ikhlas.
‘Ya Allah, apa semua
orang yang Engkau pertemukan dengan aku, semuanya bermuka dua dan penuh dengan
sandiwara? Tidak bisakah Engkau pertemukan aku dengan manusia yang benar-benar
tulus menjalani hidup dengan kejujuran untuk menjadi temanku di dunia ini?’
Kania berucap dalam hati sambil menarik napas panjang.
Komentar
Posting Komentar