Episode 30 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 30 Perjodohan Membawa Bahagia
“Tentu saja kamu.”
“Tidak. Aku tidak
bicara dalam hati.”
“Brian. Jangan bilang kamu bisa mendengarkan apa kata hatiku.” Kania berucap
takut-takut.
“Akhirnya, kamu ngaku
juga.” Brian terlihat senang.
“Apa! Ngaku apa?”
Kania semakin kaget saja. Sedangkan Johan, ia hanya diam sambil menikmati
tontonan gratis yang sangat jarang ia lihat dari Brian.
“Ngaku padaku kalau
kamu memang sedang bicara dalam hati barusan.”
“Tidak. Tentu saja
tidak.”
“Su–sudahlah. Sebaiknya aku pergi sekarang karena Johan sudah menunggu terlalu
kama. Permisi,” ucap Kania sambil bergegas beranjak meninggalkan Brian karena
tidak ingin kata-kata yang ia ucapkan di jawab oleh Brian lagi.
Tanpa sadar, Brian
tersenyum manis melihat tingkah Kania yang tidak karuan karena gugup dan
berusaha menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan. Brian menikmati sifat Kania
yang begitu polos, yang tidak bisa berbohong.
Johan masuk setelah
Kania melewatinya untuk keluar dari pintu kamar tersebut. Wajah merona dari
Kania, bisa ia lihat dengan sangat jelas.
“Dia sepertinya begitu
polos dan tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan,” kata Johan sambil
berjalan mendekat.
“Tau apa kamu tentang
wanita?” tanya Brian sambil membuka topeng hitam yang menutupi wajahnya.
“Hmm … aku memang
tidak tahu banyak tentang wanita. Tapi, aku rasa, aku tahu banyak tentang kamu.
Tentang apa yang kamu rasakan saat ini dan bagaimana perasaanmu sekarang
padanya.” Johan bicara sambil menghempaskan bokongnya ke sofa.
“Tuan muda, kamu
beneran ingin mencintai dia sekarang? Apa cinta ini tidak terlalu cepat?” tanya
Johan dengan nada serius.
“Siapa yang mencintai
Cinderella buruk rupa yang papa sediakan untukku? Lagian, kenapa juga aku harus
mencintai perempuan yang baru beberapa hari ini muncul dalam kehidupanku?”
Johan tertawa
mendengar kata-kata yang Brian ucapkan. “Ha ha ha … kamu yakin ingin membohongi
aku, tuan muda?”
“Tunggu, sebenarnya, kamu ingin membohongi aku atau membohongi dirimu sendiri?”
Johan bangun dari
duduknya setelah ia tertawa lepas. “Aku tahu siapa kamu, tuan muda. Aku bisa
membedakan sikapmu pada setiap wanita. Aku cukup memahami kamu dengan sangat
amat baik. Karena kita tumbuh besar bersama-sama.”
“Tuan muda, apakah
kamu yakin ingin mencintai dia secepat ini?” Johan kembali menanyakan hal yang
sama setelah dia bicara panjang lebar sebelumnya.
“Kenapa tidak, Jo? Aku
rasa, dia berbeda dengan wanita pada umumnya. Yang hanya menginginkan harta
juga kekayaan. Penuh sandiwara dan akting di setiap gerak-gerik. Dia terlihat
tulus dan tidak ada sandiwara sedikitpun di wajahnya.”
“Aku tahu dia terlihat
tulus, dan lebih tepatnya, sangat polos sebagai seorang wanita. Hanya saja, ini
terlalu cepat untuk mengatakan, kamu mencintainya, tuan muda. Terlalu dini
untuk mengatakan, kamu jatuh cinta pada seorang perempuan yang papamu
sediakan.”
“Apakah kamu tidak
yakin dengan apa yang aku rasakan? Bukankah kamu yang menginginkan aku bangkit
dan melupakan masa laluku yang kelam?”
“Iya, aku memang
menginginkan kamu bangkit dari keterpurukan masa lalu mu yang kelam, tuan muda.
Tapi, aku juga ingin kamu memperhatikan dan memahami seperti apa cinta yang
akan kamu berikan padanya, sekarang dan nanti.”
“Aku tahu apa yang aku
lakukan. Kamu tidak perlu mencemaskan kehidupanku sekarang. Karena aku sangat
tahu, jalan yang mana yang harus aku lalui.”
Johan menarik napas
panjang. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi pada sahabat sekaligus bos yang
ada di hadapannya saat ini.
“Ya sudah kalo gitu,
aku hanya bisa mengingatkan kamu, agar kamu tidak salah langkah nantinya.
Karena sekali kamu mencintai, aku harap, kamu tidak akan terluka lagi
nantinya.”
“Oh ya, aku ke sini
tadinya mau ngomong, kalau Sintya akan datang lusa. Dia minta aku mengatakan
hal ini pada tuan muda, karena ia tidak bisa menghubungi tuan muda tadinya.”
“Sintya mau datang?
Untuk apa?” tanya Brian sedikit tidak suka dengan kabar yang Johan bawakan.
“Maaf tuan muda, aku
juga tidak tahu dia datang untuk apa. Tapi yang jelas, ia hanya mengatakan
kalau dia akan datang ke sini. Itu saja.”
“Ya sudah, semuanya
aku serahkan padamu. Terserah kamu mau ngurusnya bagaimana.”
“Maksud tuan muda
apa?”
“Pintar-pintar kamu
mau ngurus dia bagaimana. Yang jelas, jangan sampai dia merepotkan aku.” Brian
berucap dengan nada kesal.
“Jika tidak ada yang
mau dibicarakan lagi, kamu bisa istirahat di kamarmu. Karena aku juga ingin
istirahat sekarang,” kata Brian lagi.
“Baik tuan muda. Saya
permisi.” Johan kembali berucap dengan nada menghormati atasan. Kemudian,
langsung meninggalkan kamar Brian secepat mungkin.
Brian terdiam
memikirkan perkataan Johan setelah Johan meninggalkan kamarnya. Ia merasa kesal
dengan kabar kedatangan Sintya.
Karena kehadiran Sintya pasti akan membuat hatinya merasa kesal karena ulah
dari perempuan tersebut.
Sintya sebenarnya
adalah sepupu Brian. Tepatnya, adik sepupu yang lahir dari kakak tiri mama
Brian.
Papa Brian sangat
menyayangi Sintya dan berniat untuk menjodohkan mereka berdua dengan alasan,
untuk menambah kuatnya ikatan persaudaraan dengan anggota keluarga mama Brian.
Tapi, Brian tidak setuju dan menolak keras niat perjodohan dari papanya.
Sampai, sang papa mengalah dan tidak memaksakan lagi apa yang ia inginkan.
Namun, karena
penolakan itu, hubungan Brian dengan papanya sedikit merenggang. Dan yang
paling parahnya, papa Brian malah bikin ulah dengan mendatangkan gadis-gadis
lain untuk ia jodohkan dengan anaknya.
Hal itu semakin
membuat Brian pusing, sampai akhirnya, Kania datang dan menawarkan kerja sama
yang masuk akal bagi Brian. Tapi, kerja sama itu mengubah pandangan Brian pada
Kania sekarang. Karena setiap bertemu Kania, ia selalu merasa tenang dan
nyaman. Ia juga seperti menemukan sesuatu yang hilang dari hatinya sebelum
Kania datang.
Tapi sekarang, papanya
malah bikin ulah lagi dengan mendatangkan Sintya kembali. Ia yakin seratus
persen, kalau Sintya datang pasti atas permintaan papanya.
“Agghhh … sebenarnya,
apa sih yang dia inginkan?” tanya Brian sangat kesal.
“Lihat saja, bagaimana
aku membereskan masalah yang dia berikan padaku kali ini.”
“Dia pasti akan
menyesali semua yang telah ia lakukan padaku.” Brian berucap sambil menggenggam
erat tangannya.
Komentar
Posting Komentar