Episode 3 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 3 Perjodohan Membawa Bahagia
“Kamu pantas
mendapatkan semua siksaan itu putri pemimpi. Karena kamu adalah anak dari
******* yang menjadi perusak kebahagiaan aku dan anakku.”
“Apa? Mamaku perusak
kebahagiaan kalian? Apa kamu tidak salah bicara, hah!”
“Mamaku bukan ******* yang merusak kebahagiaan kalian. Tapi sebaliknya,
kalianlah yang telah merusak kebahagiaan kami.”
“Heh! Kalau bukan
karena mamamu ******* yang telak menjebak kekasihku untuk tidur seranjang
dengannya, kekasihku tidak akan menikah dengan mamamu yang ******* itu, tau.”
“Dan sekarang, yang diakui sebagai cucu itu kamu, bukan Zara. Jika saja tidak
ada kamu, pasti Zara yang menjadi cucu satu-satunya keluarga ini. Dan yang
paling penting, nama yang tertulis dalam surat wasiat itu nama Zara, bukan nama
kamu.”
“Jadi, sekarang,
apapun yang kamu miliki itu sebenarnya milik Zara. Tidak salah jika Zara
mengambil kembali apapun yang kamu miliki. Karena seharusnya, memang semua itu
milik dia. Termasuk, Dafa pacarmu itu.”
“Kalian adalah manusia
tidak tahu malu. Ibu dan anak sama-sama serakah dan tidak beradab. Kalian
biadab.”
Plak …
Sebuah tamparan mendarat di pipi Kania dengan cepat. Kali ini, Kania tidak
memegang pipinya lagi. Ia hanya menggenggam tangannya dengan erat untuk
menyalurkan emosi yang tidak bisa ia lepaskan.
“Itu adalah peringatan
kecil dariku sebagai pengingat untukmu. Kalau kamu tidak berhak bicara dengan
kata-kata kotor dan kasar padaku. Ingat gadis pemimpi, aku adalah mama tiri mu.
Aku adalah nyonya di rumah ini,” kata Salma sambil mencengkram dagu Kania
dengan keras, kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga, kepala Kania harus
ikut menoleh ke samping karena dorongan keras itu.
Sementara itu, di
depan gerbang masuk rumah, Zara sedang ngobrol dengan Dafa.
“Zar, apakah kalian
tidak takut Kania akan menyakiti kalian? Kenapa dia tidak diletakkan di rumah
sakit jiwa saja?” tanya Dafa dengan nada sangat prihatin.
“Kak Dafa, mana
mungkin kami bisa meletakkan kak Kania ke rumah sakit jiwa. Dia itu adalah
saudaraku, aku tidak akan tega melihat ia tersisihkan ke rumah sakit jiwa
sendirian.” Zara bicara dengan nada sangat sedih sambil tertunduk.
“Tapi Zar, Kania itu
sudah sampai ketingkat yang membahayakan. Jika ia dibiarkan di sini bersama
kalian, mungkin ia akan membahayakan keselamatan kalian semua.”
“Hiks-hiks-hiks,
tidak. Kami tidak bisa melepaskan kak Kania ke rumah sakit jiwa walaupun ia terbilang
orang gila yang membahayakan. Karena kami tidak sanggup melihat kak Kania
sendirian di sana.”
Zara sekarang
memainkan sandiwara dengan sangat baik agar Dafa percaya dan simpati padanya.
Air mata buaya juga tidak lupa ia perlihatkan untuk menambah kesempurnaan
akting yang sedang ia jalankan.
“Zara, jangan nangis.
Hatimu sangat lembut sekali, Zar. Kamu sangat baik. Kamu ternyata sangat amat
menyayangi Kania walaupun ia hanya sebatas kakak tiri mu. Kania beruntung punya
adik seperti kamu, Zara.” Dafa berusaha menenangkan Zara yang sedang menangis
dengan membelai lembut rambut Zara.
“Kak Dafa, sudah
sewajarnya adik menyayangi kakak. Walau apapun yang telah kakaknya lakukan.
Seorang saudara tidak akan pernah memikirkan kejahatan yang telah kakaknya
perbuat.”
“Kamu adalah gadis
yang sangat baik dengan hati lembut, selembut kapas. Aku tidak tahu harus
berkata apa lagi padamu.”
“Oh iya, aku harus pulang sekarang. Katakan setiap perkembangan Kania padaku,
ya. Sampai jumpa,” ucap Dafa sambil tersenyum manis. Lalu, ia beranjak dari
tempatnya masuk ke mobil untuk pulang.
“Hati-hati kak Dafa.
Sampai jumpa lagi,” ucap Zara sambil melambaikan tangannya.
Sementara itu, masih
di gudang. Kania kaget bukan kepalang saat mendengarkan apa yang Salma katakan
tentang dia pada Dafa.
“Apa! Kalian bilang
aku sakit jiwa pada Dafa? Kalian jahat! Benar-benar jahat!”
“Kamu yang bodoh,
bukan kami yang jahat. Sebagai seorang manusia itu harusnya pintar, bukan bodoh
seperti dirimu, kutu busuk.”
“Kau tahu, Zara
menyukai Dafa. Sebagai mamanya, aku harus membantu dia untuk mendapatkan apa
yang anakku inginkan. Termasuk, melakukan trik licik dengan berbohong.”
“Tapi sepertinya,
bukan hanya Zara yang menyukai Dafa sekarang. Namun sebaliknya, Dafa juga sudah
mulai menyukai Zara. Dan yang paling penting, keluarga Dafa sudah menyukai Zara
dan sangat mendukung Zara yang menjadi menantu keluarga mereka.”
“Tidak! Itu tidak
mungkin. Dafa tidak akan menyukai Zara, apalagi mencintai Zara. Itu tidak akan
pernah terjadi, karena Dafa hanya mencintai aku saja. Sedangkan keluarga Dafa,
mereka sudah tahu kalau aku adalah pacar Dafa dan orang yang Dafa pilih untuk menjadi
istri Dafa nantinya.”
“Hah … ha ha ha ha.
Kamu benar-benar putri pemimpi ya kutu busuk. Seberapa sulitnya sih untuk
mengubah pandangan keluarga Dafa tentang kamu dan menggantikan pandangan itu
dengan Zara. Sedangkan Dafa, apa kamu lupa bagaimana sikap Dafa saat bertemu
dengan kamu barusan? Apakah dia menatap kamu dengan penuh cinta? Terus, apakah
kamu mendapatkan pelukan hangat tanda kangen dari seorang pacar? Sepertinya,
tidak. Ia malah patuh dengan apa yang Zara katakan.”
Mendengar apa yang
Salma katakan, Kania merasa kakinya lemah dan tidak mampu untuk menahan berat
tubuhnya lagi. Ia terduduk ke lantai karena memikirkan apa yang terjadi tadi.
Melihat Kania yang
begitu sedih dan terpuruk dengan rasa putus asa. Salma tersenyum bahagia penuh
kemenangan.
“Kasihan sekali.
Menyedihkan. Benar-benar menyedihkan.” Salma berucap sambil berjalan
meninggalkan gudang. Sedangkan Kania, ia tertunduk menangis walau sebenarnya,
ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan itu pada Salma dan membuat Salma merasa
bahagia dengan keberhasilannya itu.
‘Aku akan balas rasa
sakit dan penghinaan yang kalian berikan padaku ini jika aku bisa bebas dari
rumah ini. Kalian lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian nantinya,’
kata Kania dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.
Zara yang baru masuk
ke dalam rumah, berpas-pasan dengan mamanya yang baru datang dari gudang. Ia
pun langsung menghampiri mamanya dengan senyum manis di bibir.
“Mama pintar banget
bikin rencana. Semua yang kita harapkan, ternyata benar-benar kita dapatkan.
Sekarang, aku yakin seratus persen. Kak Dafa pasti sudah tidak merasa ragu lagi
dengan apa yang aku katakan padanya tentang Kania.”
“Kamu yang pintar
menjalankan sandiwara sayang. Jika kamu tidak cerdas dalam menjalankan peran,
tentunya, rencana yang mama buat, tidak akan berjalan semulus ini.”
“Selamat buat kita
berdua mama,” kata Zara sambil memeluk lembut mamanya.
“Selamat sayang,” ucap
Salma membalas pelukan anaknya.
Komentar
Posting Komentar