Episode 29 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 29 Perjodohan Membawa Bahagia
Kata-kata yang Kania ucapkan, mampu membuat Brian takjub akan hati tulus yang gadis itu miliki. Brian benar-benar salut pada kata-kata yang Kania ucapkan padanya barusan. Ia seperti telah menemukan apa yang ia cari selama ini sekarang.
“Benarkah kamu tidak
peduli dengan fisik? Bagaimana jika fisik yang aku miliki terlihat sangat
mengerikan dan menakutkan? Apa kamu juga tidak akan memperdulikannya?” tanya
Brian untuk memastikan sekali lagi apa yang ia pikirkan pada Kania.
“Sepertinya apa yang
aku katakan barusan sudah jelas, Brian. Aku tidak akan mempermasalahkan soal
fisik orang lain. Sekalipun fisiknya berbeda jauh dari manusia pada umumnya,
alias jelek atau menakutkan sekalipun. Itu sepertinya tidak penting untuk
dipermasalahkan. Yang paling penting itu adalah, hatinya, kelembutan dan sikap
orang itu. Jika hatinya tulus dan ia baik, maka tidak ada masalahnya bagiku,
sekalipun ia buruk rupa.”
“Kalau begitu,
bagaimana jika aku meminta kamu mencintai aku dengan semua kekurangan yang aku
miliki saat ini? Apa kamu sanggup?”
Kania kaget bukan
kepalang. Ia tidak tahu apa yang harus ia jawab. Karena di satu sisi, ia masih
belum yakin dengan perasaan yang ada dalam hatinya. Sedangkan di sisi lain, ia
tidak ingin menolak karena ia tahu, Brian pasti berpikir, kalau apa yang ia
bicarakan itu hanya omongan membuat belaka.
“Kenapa kamu diam? Apa
pertanyaan ku sangat berat untuk kamu jawab? Atau … kamu tidak bisa menerima
keburukan yang aku miliki?”
“Tidak. Bukan itu
masalahnya. Bukan soal keburukan atau aku tidak bisa menerima kamu karena
kekurangan yang kamu miliki. Hanya saja, aku tidak yakin kamu benar-benar ingin
aku mencintaimu. Karena aku hanyalah seorang anak terbuang yang datang ke sini
karena menggantikan anak kesayangan untuk menikah dengan kamu. Aku yakin kamu
sudah tahu soal itu.”
“Lagipula, aku tidak
punya kelebihan apapun untuk kamu minta aku cintai. Kita mungkin jauh berbeda,
Brian.” Kania berucap pelan.
“Sudahlah, lupakan
saja. Anggap saja aku hanya bercanda untuk mencairkan suasana,” ucap Brian
sambil beranjak menjalankan kursi rodanya.
“Kamu bercanda? Sudah
aku tebak sejak awal, kalau kamu hanya bercanda saja.” Terdengar nada kecewa
dalam kata-kata yang Kania ucapkan, yang Brian sangat bisa merasakan rasa
kecewa tersebut.
“Kalau aku bilang itu
bukan hanya sekedar candaan, mungkin aku akan merasa sangat malu karena penolakan
mu barusan.”
“Apa maksudmu? Bisakah
bicara denganku jangan berbelit-belit.”
“Kania, jadilah
manusia yang agak sedikit peka. Mana mungkin aku bercanda dengan kata-kata yang
aku ucapkan. Hanya saja, aku tidak ingin memaksa seseorang untuk mengikuti apa
yang aku inginkan. Apalagi dalam urusan cinta.” Brian bicara dengan nada yang
sangat serius sekarang.
“Baiklah kalau begitu,
beri aku sedikit waktu untuk belajar mencintai kamu. Karena cinta tidak bisa
dipaksakan,” ucap Kania dengan nada penuh keyakinan.
“Kamu yakin ingin
belajar mencintai aku, tanpa mau melihat bagaimana wajahku yang sebenarnya
terlebih dahulu?”
“Tentu saja aku yakin.
Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, kalau aku tidak akan
mempermasalahkan fisik mu seperti apa. Aku akan belajar mencintai dari hati,
bukan dari mata.”
“Baiklah. Aku anggap
kata-katamu ini sebagai janji yang harus kamu tepati jika ingin aku membantumu
mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jika kamu ingkar janji, maka aku bukan
hanya tidak membantu kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, melainkan, aku
juga akan menjadikan kamu sebagai manusia yang menyesal telah dilahirkan ke
dunia ini.”
“Tidak perlu cemas
dengan apa yang aku ucapkan, Brian. Karena aku bukan manusia yang suka
melupakan apa yang telah aku ucapkan.”
“Bagus kalau begitu,
aku suka sifat yang kamu miliki. Tapi, tidak adil jika kamu mencintai tanpa mau
melihat wajahku terlebih dahulu. Maka, sebelum kamu belajar mencintai aku, ada
baiknya, aku memperlihatkan bagaimana wajahku yang aku sembunyikan di balik
topeng hitam ini.”
Brian berucap sambil
memegang topeng yang ada di wajahnya. Kania yang sedang duduk di sofa, merasa
sangat gugup saat Brian melakukan hal itu. Namun, belum sempat Brian membuka
topeng hitam yang menutupi wajahnya, pintu kamar tersebut di ketuk oleh
seseorang dari luar.
“Tuan muda. Apa tuan
muda ada di dalam?” tanya Johan yang berada di luar sambil mengetuk pintu kamar
tersebut.
Rencana Brian ingin
membuka topeng yang menutupi wajahnya pun harus tertahan. Perhatian mereka
sama-sama teralihkan pada pintu yang Johan ketuk dari luar.
“Ada. Masuk saja.
Pintu kamar tidak aku kunci,” ucap Brian sambil melupakan apa yang sebelumnya
ingin ia lakukan.
Johan melakukan apa
yang Brian katakan. Ia membuka pintu kamar tersebut, kemudian melihat ke dalam.
Saat melihat Kania, ia sedikit kaget dan merasa tidak enak hati dengan apa yang
baru saja ia lakukan.
Johan berniat
membatalkan niatnya untuk bicara dengan Brian setelah melihat Kania.
“Maaf tuan muda, saya kira tuan muda sedang sendirian. Kalau begitu, nanti saja
saya bicara dengan tuan muda lewat telepon.”
“Tidak perlu. Kamu
bisa bicara dengan Brian sekarang. Biar aku yang keluar,” ucap Kania cepat.
“Tidak. Kamu tidak
bisa keluar karena ini adalah kamarmu.” Brian berucap sambil menatap Kania yang
berniat ingin beranjak secepat mungkin.
"Ta–tapi … "
“Apa kamu ingin
menghindar dari pembicaraan kita yang masih belum selesai? Apa kamu lupa, kalau
aku ingin kamu tinggal di kamar ini mulai dari sekarang?”
“Aku tidak lupa,
Brian. Hanya saja, sebaiknya, besok malam saja aku tinggal di kamar ini.
Sedangkan malam ini, biarkan aku tinggal di kamarku yang sebelumnya. Aku ingin
istirahat, sedangkan kamu ingin bicara berdua dengan Johan. Lagipula … aku
lelah untuk memindahkan barang-barang ku ke sini sekarang.”
Kania memberikan
alasan sebaik mungkin agar Brian percaya dan mau mengikuti apa yang ia katakan.
Merasa apa yang Kania katakan itu ada benarnya, Brian pun tidak ingin menahan
Kania lagi. Lagipula, ia dan Johan memang harus bicara berdua sekarang.
“Baiklah. Kamu bisa
pergi dari kamar ini sekarang juga.”
“Benarkah?” tanya
Kania bahagia.
“Jangan banyak tanya
atau aku akan merubah apa yang telah aku ucapkan barusan.”
‘Ya Allah, baru juga
merasa bahagia dan merasa simpati dengan apa yang ia alami. Eh, tapi sekarang,
dia sudah bertingkah lagi. Sudah kembali lagi pada wujud aslinya, laki-laki
menyebalkan dengan tarik dan tanduk yang panjang,’ kata Kania dalam hati
mengutuk Brian.
“Apa kamu harus selalu
bicara dalam hati jika kamu kesal padaku?” tanya Brian yang sontak saja membuat
Kania kaget bukan kepalang.
Sampai-sampai, ia benar-benar gemetaran karena menahan gugup.
“A–apa yang kamu
katakan? Si–siapa yang bicara dalam hati?” tanya Kania dengan gelagapan.
Komentar
Posting Komentar