Episode 28 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 28 Perjodohan Membawa Bahagia
Usai makan malam, Brian meminta Kania menemuinya di kamar. Entah apa yang ingin ia bicarakan dengan Kania, yang jelas, wajah Brian terlihat serius.
“Baik tuan muda. Saya
akan ke kamar tuan muda selesai makan nanti,” ucap Kania masih melanjutkan
makan malamnya. Sedangkan Brian, beranjak meninggalkan meja makan dengan
bantuan pak Hadi.
Tiga menit kemudian,
Kania pun selesai makan. Ia berniat membantu bu Ninik membereskan piring-piring
bekas dia dan Brian makan. Tapi, bu Ninik tidak membiarkan Kania melakukan hal
itu. Alasannya sangat jelas, karena dia adalah istri dari tuan muda, itu saja.
Kania tidak bisa
memaksa, karena bu Ninik bersikeras tidak membiarkannya membantu. Lagipula, ia
ingat dengan perkataan Brian yang memintanya datang ke kamar karena ada yang ia
bicarakan. Kania langsung pamit pada bu Ninik untuk ke kamar Brian.
Sampai di depan kamar,
Kania langsung mengetuk pintu kamar tersebut.
“Masuk!” Terdengar
suara Brian lantang dari dalam kamar.
Kania melakukan apa
yang Brian katakan. Ia pun langsung membuka pintu, lalu masuk ke dalam.
“Duduk!” ucap Brian
pada Kania saat Kania berada di hadapannya yang sedang duduk di sofa.
“Duduk?” tanya Kania
agak bingung.
“Iya, duduk. Apa kata
ku kurang jelas barusan?”
“Tidak-tidak.
Kata-kata tuan muda sudah jelas, bahkan sangat jelas.”
“Jadi, kenapa kamu
harus menanyakannya lagi, jika apa yang aku katakan sudah jelas, hmm?”
Kania terdiam. Ia
mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghilangkan rasa kesal yang ada
dalam hatinya.
‘Ya Allah, apakah
tidak ada saat-saat menyenangkan saat berhadapan dengan laki-laki ini? Apakah
hanya ada kata-kata yang membuat hati ini kesal jika aku bicara dengannya?’
tanya Kania dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke sembarang tempat.
“Apa kamu bicara dalam
hati lagi?” tanya Brian yang membuat Kania kaget dan tersadar dari pikirannya
sendiri.
“Ti … dak.” Kania
berucap dengan nada panjang sambil berusaha tersenyum untuk menutupi
kebohongannya.
“Lalu kenapa kamu
masih diam di sana dan tidak mendengarkan apa yang aku katakan?”
“Itu … ya Allah, salah
lagi salah lagi,” ucap Kania sambil beranjak dari tempatnya, lalu duduk di sofa
samping Brian.
Brian melihat wajah
kesal Kania dengan tatapan suka. Ia merasa, wajah kesal itu terlihat sangat
lucu dan membuatnya merasa senang.
Tanpa Brian sadari, sebuah senyum terukir dengan sendirinya tanpa bisa ia
tahan.
“Kenapa tuan muda
tersenyum?” tanya Kania merasa aneh dan sedikit grogi.
“Se–senyum? Tidak ada.
Siapa yang senyum?”
tanya Brian agak gugup karena dia telah ketahuan oleh Kania.
“Barusan itu lho, tuan
muda senyum.”
“Tidak ada yang senyum
dan tidak perlu dibahas. Aku meminta kamu datang ke kamar ini bukan untuk
membahas soal yang tidak penting seperti yang kamu bahas barusa. Aku meminta
kamu datang, karena aku ingin bicara hal penting padamu.” Brian berusaha
terlihat tenang dengan mengalihkan pokok pembicaraan mereka ke yang lain.
“Hal penting? Hal
penting apa tuan muda?”
“Pertama, karena kita
susah menikah, aku tidak ingin mendengar kamu memanggil aku dengan panggilan
tuan muda. Karena walau bagaimanapun, kamu tetap istri aku. Apa kata orang luar
nanti jika mendengar kamu memanggil suamimu dengan panggilan tuan muda, mereka
akan salah paham nanti padaku. Bisa-bisa, mereka mengatakan, kamu itu
pembantuku, bukan istri.”
“Lalu, aku harus
panggil tuan muda apa?”
“Kamu bisa panggil aku
dengan nama. Dengan begitu, tidak terlalu lebai di dengar dan papaku juga bisa
memakluminya.”
“Baiklah, terserah
tuan muda saja. Aku ikut saja apa yang tuan muda katakan. Selagi itu masih
dalam batas wajar dan tidak merugikan aku tentunya. Dan jangan melupakan apa
yang telah kita sepakati sebelumnya.”
“Tenang saja, aku
ingat janji dan kesepakatan yang telah sama-sama kita buat. Dan, jangan cemas
soal merugikan. Karena aku tidak akan merugikan dan tidak akan melewati batas
ku. Jangan khawatir.”
“Tapi sebaiknya, kamu
mulai mengubah panggilan mu padaku mulai detik ini. Jangan panggil aku tuan
muda lagi.”
“Baiklah. Aku tidak
akan memanggil kamu dengan panggilan tuan muda lagi. Yang tadi, anggap saja
sebagai khilaf.”
“Lalu, ada apa lagi yang ingin kamu bicarakan dengan aku?” tanya Kania berharap
bisa segera meninggalkan kamar Brian.
“Yang kedua, aku ingin
kamu tinggal di kamarku mulai dari malam ini.”
“Apa? Apa kamu sedang
bermimpi?” tanya Kania kaget bukan kepalang, sampai-sampai, ia bangun dari
duduknya.
“Kenapa? Apa segitu
mengagetkannya apa yang aku katakan barusan, sampai kamu harus bertingkah
seperti itu? Apa yang aku katakan itu salah?” tanya Brian santai.
“Tunggu! Apa kamu
merasa jijik padaku? Sehingga kamu tidak sudi untuk tinggal satu kamar denganku,
Kania?” tanya Brian lagi.
“Bu–bukan. Bukan itu
maksudku. Kamu jangan salah paham dengan apa yang aku katakan. Aku tidak merasa
jijik sedikitpun padamu. Jangan salah sangka dengan sikap dan kata-kata yang
aku ucapkan.” Kania berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Ia
tidak ingin Brian salah mengartikan sikapnya barusan.
“Lalu? Kenapa kamu
tidak ingin tinggal satu kamar denganku sedangkan kita susah sah sebagai suami
istri, hmm?”
“Itu karena … bukankah
kita menikah hanya untuk status saja? Apakah pernikahan hanya sebatas status
juga harus tinggal di kamar yang sama?”
“Tentu saja, harus.
Kita memang harus tinggal di kamar yang sama agar yang lain tidak curiga dengan
hubungan kita. Pernikahan sebatas status ini harus terlihat seperti pernikahan sesungguhnya,
agar yang lain tidak ada yang curiga dan melaporkan hal ini pada papaku.”
Kania terdiam. Ia
memikirkan perkataan yang Brian ucapkan. Hatinya membenarkan setiap kata
tersebut. Namun, benaknya menolak untuk setuju karena ia masih belum siap untuk
tinggal di kamar yang sama dengan laki-laki yang baru ia kenal walau sudah
berstatus suami. Karena status itu hanya sebatas status saja. Bukan murni
kenyataan yang sesungguhnya.
“Aku tidak akan
memaksa kamu untuk tinggal satu kamar denganku, Kania. Karena aku cukup tahu
diri, bagaimana aku dan bagaimana ka …”
“Cukup-cukup. Jangan
bilang soal fisik atau soal kekurangan pada diri masing-masing. Karena fisik
tidak pantas untuk di bicarakan atau dibanding-bandingkan satu dengan yang
lain,” ucap Kania tegas memotong perkataan Brian yang terdengar sedih.
“Maksud kamu, kamu
tidak peduli dengan fisik seseorang?” tanya Brian memastikan.
“Untuk apa peduli
dengan fisik? Karena fisik itu adalah hal yang baharu. Sesuatu yang baharu dan
bisa berubah-ubah, untuk apa kita bandingkan. Lagipula, setiap orang itu punya
kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing. Jadi … untuk apa kita pikirkan
soal itu.” Kania bicara sambil tersenyum manis pada Brian.
Komentar
Posting Komentar