Episode 27 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 27 Perjodohan Membawa Bahagia
Kania memikirkan setiap kata yang diterima oleh kupingnya. Mencoba mencerna dengan baik setiap kata yang tukang kebun itu ucapkan.
‘Sepertinya, tukang
kebun ini tahu semua tentang Brian. Mungkin, aku bisa mencari tahu tentang
kehidupan Brian lewat dia,’ ucap Kania dalam hati.
‘Lho, aku kok jadi
berniat memanfaatkan dia sih. Aduh … Kania-Kania. Kamu ini kok bisa jadi licik
sekali seperti ini sih,’ ucap Kania lagi sambil mengetok pelan kepalanya.
Tanpa sadar, apa yang
ia lakukan itu diperhatikan oleh Ikhsan, dan menimbulkan tanda tanya di hati
Ikhsan.
“Ada apa nona Kania? Apa nona Kania sakit kepala?” tanya Ikhsan agak cemas.
“Oh, eh nggak. Nggak
sakit kepala kok.” Kania berucap agak gugup.
“Lalu, kenapa nona
Kania memukul diri sendiri?”
“Kepala ku agak gatal.
Makanya aku pukul. Mau digaruk malu. Eh, tapi malahan ketahuan,” ucap Kania
dengan senyum tidak enak.
“Oh, aku pikir apa.”
“Tidak ada. Jangan
cemas. Aku baik-baim saja.
Oh ya, aku hampir lupa mengucapkan terima kasih atas apa yang mas Ikhsan
lakukan tadi.”
“Makasih banyak ya mas Ikhsan, udah mau belain aku padahal, apa yang pak Rian
katakan itu benar adanya. Aku ini nona yang datang dengan status yang kurang
jelas.”
“Jangan bicara seperti
itu nona Kania. Walau apapun alasan kedatangan nona, tapi satu hal yang paling
jelas dan sudah sangat pasti, nona Kania adalah istri tuan muda kami. Tuan muda
Brian yang telah menjadi taun muda kami selama ini. Kami wajib menghormati nona
layaknya kami menghormati tuan muda.”
“Tapi, lain kali, mas
Ikhsan tidak perlu melakukan hal itu pada pekerja yang lain. Aku jadi tidak
enak hati menerima bembelaan yang menurutku sangat berlebihan seperti tadi.
Karena aku datang, bukan bermaksud untuk merusak hubungan kalian semua.”
“Nona Kania tenang
saja. Hubungan antara aku dan mas Rian memang susah rusak sejak awal. Jadi,
tidak akan ada hubungannya dengan aku yang membela nona Kania tadi.”
“Maksud mas Ikhsan
apa? Rusak bagaimana? Apa kalian saling kenal sebelumnya?”
“Bukan hanya saling
kenal nona Kania. Aku dan mas Rian itu malahan bisa di katakan besar sama-sama.
Karena kami adalah saudara. Ya walaupun, aku terlahir dari ibu yang berbeda.
Tapi tetap saja, kami di besarkan di satu atap yang sama dengan ayah yang sama
pula.”
“Jadi … pak satpam itu
sebenarnya kakak mas Ikhsan?” tanya Kania memastikan.
“Iya. Dia kakak ku.
Kakak yang tidak pernah menganggap aku ada tepatnya.” Terdengar nada sedih di
setiap kata yang Iksan ucapkan barusan. Nada sedih itu bisa Kania rasakan
dengan jelas, karena dia juga mengalami hal. yang sama.
“Ah, apa yang aku
katakan.” Ikhsan tiba-tiba sadar dengan perkataannya barusan.
“Ya Tuhan. Maafkan saya nona Kania, saya tidak seharusnya bicara soal itu pada
nona Kania. Bukankah, kita datang ke sini untuk menghibur hati nona Kania.”
Ikhsan berusaha mengubah suasana sedih yang tanpa sengaja ia ciptakan.
“Tidak masalah, mas
Ikhsan. Aku tidak keberatan mendengarkan cerita dari mas Ikhsan. Tentunya, jika
mas ikhsan bersedia menceritakan cerita itu padaku. Karena sebenarnya, kita
punya nasib dan jalan cerita yang hampir sama.”
“Maksud nona Kania?
Nona juga punya kakak tiri, iya?” Ikhsan terlihat antusias bertanya.
Kania mengangguk.
“Aku punya adik tiri tepatnya. Tapi, jalan cerita kita emang hampir sama. Tidak
dianggap ada dan malahan, di siksa dengan cara licik oleh …”
“Ah … kenapa kita
malah jadi saling curhat seperti ini?” tanya Kania menyadari, hal itu tidak
bisa ia ceritakan dengan teman baru seperti Ikhsan.
“Gak papa nona Kania.
Jika nona Kania ingin bercerita, maka saya akan mendengarkan cerita nona dengan
seksama. Tentunya, jika nona ingin mendengarkan.”
“Itu kata-kata ku.
Kenapa kamu mengkopinya?” tanya Kania sambil tersenyum.
Mereka berdua pun
akhirnya sama-sama tersenyum lepas. Tersenyum pada nasib yang mereka miliki,
yang berusaha mereka nikmati dengan sepenuh hati.
Brian yang berada di
kamarnya, memperhatikan dengan seksama apa yang Kania dan Ikhsan lakukan dari
jendela kaca kamar tersebut. Pemandangan dari jendela kaca kamar itu memang
langsung menghadap belakang vila. Sehingga, Brian dengan mudah menikmati
pemandangan jika ia inginkan.
Ia yang menyukai
pemandangan, sangat senang melihat taman belakang yang baginya sangat
menenangkan. Hampir setiap ada waktu luang, semuanya ia habiskan untuk
menikmati pemandangan taman belakang tersebut. Bukan hanya itu, jika pikirannya
sedang kalut atau banyak masalah, ia pasti memilih menikmati pemandangan taman
belakang yang tidak pernah membuat hatinya merasa bosan untuk menikmati
pemandangan tersebut.
Sejak awal Kania dan
Ikhsan berjalan ke taman belakang vila, Brian tertarik untuk memperhatikan
setiap gerak-gerik kedua mahkluk tersebut. Entah kenapa, ia sedikit merasa
sakit hati dan kesal. Apalagi ketika melihat, Kania tersenyum pada Ikhsan.
Karyawan yang ia pekerjakan sebagai tukang kebun karena beberapa alasan.
“Johan. Awasi
gerak-gerik Ikhsan. Jangan sampai ia kelewatan batas,” kata Brian tanpa
mengalihkan pandangannya dari jendela.
Johan yang sedari tadi
sibuk dengan laptop di pangkuannya, kini menghentikan apa yang ia lakukan.
Lalu, mengangkat kepala untuk melihat Brian. Sejujurnya, ia bingung dengan
kata-kata yang Brian ucapkan barusan.
“Apa maksud tuan
muda?” tanya Johan sambil menatap Brian dengan tatapan meminta penjelasan.
“Apa kata yang aku
ucapkan kurang jelas, Johan? Aku ingin kamu mengawasi tukang kebun yang bernama
Ikhsan. Apa kamu tidak memahami apa yang aku katakan?”
“Bukan, tuan muda.
Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
"Aku merasa tidak
mengerti dengan maksud dari kata-kata yang tuan muda ucapkan barusan. Kenapa
aku harus mengawasi tukang kebun? Apakah ada yang mencurigakan dari seorang
tukang kebun? Apa dia … "
“Bisakah kamu langsung
mengerjakan apa yang aku katakan tanpa harus banyak bicara dan menghujani aku
dengan banyak pertanyaan? Atau, kamu bosan bekerja denganku.”
“Ya Tuhan … haruskah
kamu terlihat kesal seperti itu padaku, tuan muda? Bukankah aku hanya bertanya
saja.”
Brian merasa semakin
kesal dengan sikap dan kata-kata yang Johan ucapkan. Ia pun memalingkan
wajahnya ke arah Johan yang masih duduk manis dengan laptop di pangkuan.
Tatapan tajam ia
berikan pada Johan. Membuat Johan merasa ngeri dengan tatapan tajam itu.
“Baiklah. Aku tidak
akan bertanya lagi. Aku akan laksanakan apa yang tuan muda katakan,” ucap Johan
sambil kembali menatap laptop untuk menghindari tatapan tajam Brian.
Komentar
Posting Komentar