Episode 26 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 26 Perjodohan Membawa Bahagia
Kania pun beranjak meninggalkan bu Ninik dan pak Hadi yang masih diam di tempat mereka sebelumnya. Tujuan Kania pertama-tama adalah, bertemu dengan pak satpam yang telah menjadi sasaran amarah Brian tadi.
Ia berjalan pelan
menuju gerbang, di mana pos satpam berada. Sampai di sana, ia langsung menyapa
pak satpam yang kebetulan sedang duduk di kursi.
“Pak satpam.”
“Iya, ada apa?” tanya
satpam itu dengan nada sedikit kesal.
“Gak ada, Pak. Cuma
mau bilang, makasih aja, udah buat kejutan untuk menyambut kami pulang barusan.
Juga ucapan maaf atas kata-kata yang tuan muda ucapkan pada pak satpam tadi,
yang mungkin melukai hati pak satpam.”
“Tidak perlu minta
maaf. Aku hanya seorang satpam yang mungkin pantas kalian kata-katai. Lagipula,
kelihatannya, kalian semua menikmati suasana barusan. Meskipun aku merasa
sangat menyesal ambil andil di dalamnya. Tapi, tidak apa-apa, aku bisa melihat
kebahagiaan kalian itu sudah cukup.”
“Nona Kania bisa pergi
sekarang. Karena aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Apalagi dengan
nona seperti kamu ini, nona yang tidak jelas asal usul kedatangannya.”
“Mas Rian!” Ikhsan
berteriak dari arah halaman samping vila. Lalu, ia berjalan semakin mendekat ke
arah pos satpam.
“Jaga bicara mas Rian.
Di mana sopan santun mas Rian pada nona Kania. Apa mas Rian lupa, kalau dia ini
adalah istri tuan muda? Tentunya, dia juga harus mas hormati layaknya mas
menghormati tuan muda sebagai majikan.”
“Wuah, anak kecil
berani menasehati aku. Sudah berani kamu sekarang sama aku, hah?” Satpam itu
terlihat sangat kesal pada Ikhsan.
“Aku tidak akan
menasehati mas Rian jika mas Rian tidak keterlaluan. Aku tidak berniat lancang,
hanya saja, tidak ingin mas Rian dapat masalah. Tuan muda pasti akan
mempermasalahkan perlakuan mas Rian barusan jika ia tahu.”
“Sudah-sudah. Kenapa
kalian berdua malah bertengkar?” tanya Kania menjadi penengah untuk melerai
perdebatan itu. Karena Kania tidak ingin perdebatan itu terus berlanjut.
“Mas Rian memang suka
keterlaluan jika bicara, nona. Aku harap, nona Kania tidak akan memperbesar
masalah ini. Dan, tidak akan melaporkan mas Rian pada tuan muda.”
“Heh, kamu jangan
sok-sokan peduli sama aku. Lagian, apa yang aku katakan itu benar kok.”
“Benar apanya, hah?”
Ikhsan semakin emosi
saja kelihatannya. Tidak ingin terjadi keributan lagi, Kania segera menahan Ikhsan
lagi.
“Mas Ikhsan, udah.
Jangan berdebat lagi. Apa yang pak satpam katakan itu ada benarnya. Jadi, tidak
perlu mempermasalahkan perkataan pak satpam lagi. Lagipula, aku gak keberatan
dan tidak sedikitpun merasa tersinggung dengan apa yang ia ucapkan.”
“Noh, lihat dan
dengarkan apa yang nona mu katakan. Dia aja gak keberatan, masa kamu yang
berisik sih.” Rian berucap dengan nada kesal.
“Bicara dengan mas
Rian gak akan ada ujungnya.”
“Nona Kania, sebaiknya tinggalkan saja tempat ini. Ayo ikut saya ke suatu
tempat!”
Kania mengikuti
langkah Ikhsan tanpa banyak bicara. Ia tidak ingin menjadi penyebab
permasalahan dan kegaduhan di tempat ini. Karena ia hanyalah penghuni baru yang
harus menjaga hubungan baik dengan penghuni lama vila ini.
“Pergi sana! Pergi! Jangan
kembali ke sini lagi,” ucap Rian sedikit berteriak saat melihat Kania mengikuti
langkah Ikhsan.
Ikhsan ingin berhenti
dan kembali memperingati Rian. Tapi, Kania dengan cepat melarang niat Ikhsan
dengan menggelengkan kepala sebagai isyarat jangan. Ikhsan yang sangat
menghormati Kania sebagai majikan barunya, mendengarkan apa yang Kania
inginkan. Merekapun kembali melanjutkan langkah menuju samping vila, di mana
taman berada.
“Kita ini mau ke mana
sih sebenarnya, Mas Ikhsan?” tanya Kania saat mereka melewati taman. Ia merasa
penasaran karena awalnya, ia berpikir kalau Ikhsan akan mengajaknya ke taman.
Tapi, mereka malah melewati taman tersebut.
“Kita akan pergi ke
suatu tempat yang menurut saya sangat indah, nona Kania. Semoga saja, tempat
ini mampu mengembalikan perasaan baik dalam hati nona.”
“Tempat indah? Tempat
apa itu? Apakah masih jauh?”
“Tidak, sebentar lagi
kita akan sampai.”
Mereka pun berjalan
beberapa langkah lagi sampai ke sisi belakang vila Camar tersebut. Sampai di
taman belakang yang ternyata memang sangat indah, langkah kaki Ikhsan terhenti.
“Kita sudah sampai?”
tanya Kania sambil melihat sekeliling.
“Iya. Kita sudah
sampai nona Kania. Bagaimana? Apa ini indah?”
“Indah. Sangat amat
indah.”
“Benarkah? Apakah ini
sudah sangat cukup indah bagi nona Kania?”
“Mmm … maksudnya apa
nih? Apa ada yang lebih indah lagi?” tanya Kania penasaran.
“Tentu saja.”
Ikhsan pun
menyingkapkan tumbuhan merambat yang ada di sampingnya. Saat tumbuhan rambat
itu tersingkap, pemandangan yang sangat luar biasa pun terlihat.
Kania takjub sampai
tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menutup mulutnya yang terbuka lebar
akibat takjub dengan apa yang matanya lihat.
Di hadapan Kania saat
ini ada sebuah kolam yang airnya sangat bening. Kolam alami dengan tumbuhan
liar yang sangat asri untuk di nikmati. Beberapa pohon kayu liar menambah kesal
ke asrian tempat tersebut.
“Silahkan nona! Jika
ingin menikmati suasana yang lebih indah dan segar, nona bisa berada di
pinggiran kolam.”
Kata-kata Ikhsan
barusan menyadarkan Kania akan kekagumannya sejak tadi. Ia melihat Ikhsan
dengan tatapan minta penjelasan atas ucapan Ikhsan barusan.
Ikhsan yang memahami
tatapan itu, langsung tersenyum dan bicara. “Tenang saja, Nona. Tidak perlu
takut jatuh. Kolam ini gak dalam kok. Kolam ini kolam dangkal yang ke
********** hanya sampai dada orang dewasa. Jadi, gak perlu takut tenggelam.”
“Be–benarkah?”
“Tentu saja. Ayo
silahkan!”
Kania berjalan
melewati tumbuhan merambat yang lebat. Ia pun tersenyum saat matanya
benar-benar melihat sekeliling kolam tersebut.
Kania menarik napas panjang, lalu melepas napas tersebut perlahan.
“Indah sekali tempat
ini mas Ikhsan. Vila Camar ini ternyata, vila yang sangat indah. Oh ya, apakah
kolam ini tercipta secara alami?” Kania tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak
bertanya, karena hatinya merasa sangat penasaran dengan semua pemandangan yang
berada di vila ini.
“Mmm … tidak, nona
Kania. Kolam ini tercipta atas permintaan tuan muda.”
“Tuan muda sangat suka dengan suasana yang astri dan alami. Ia membeli vila
camar yang sangat luar hanya untuk tinggal di tempat yang menurutnya alami dan
tenang.”
“Oh, aku pikir, kolam
ini memang terjadi sendiri. Alias, susah ada kapan tahun sebelum vila ini di
beli oleh tuan muda.”
“Enggak.” Ikhsan
berucap sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Vila ini tuan muda beli sejak umurnya baru menginjak dua belas tahun. Awalnya,
hanya lahan kosong yang tidak terurus saja. Tuan muda beli, lalu dirikan vila
di atas lahan kosong ini.”
Komentar
Posting Komentar