Episode 25 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 25 Perjodohan Membawa Bahagia
Setelah beberapa saat saling tatap dengan Kania yang memandanginya dengan tatapan, Brain mengubah pandangannya dari Kania. Ia melihat satpam yang masih diam tertunduk di hadapannya.
“Jawab apa yang aku
tanyakan!” ucap Brian dengan nada tinggi.
“Ma–maaf tuan muda.
Ti–tidak … tidak ada yang memberi saya perintah untuk melarang nona Kania
masuk,” ucap pak satpam dengan suara gelagapan karena gugup.
“Lalu? Kenapa kamu
menahan dia yang berniat masuk ke dalam?”
"Itu … "
Satpam itu tidak
menjawab karena ia semakin takut saja sekarang. Ia pun mengetuk pintu dengan
ketukan beberapa kali seperti sedang memberikan isyarat pada orang yang ada di
dalam.
Seketika, pintu vila
itupun terbuka lebar. Semua pembantu yang bekerja di vila Camar, kecuali bu
Ninik dan pak Hadi, sedang berbaris tegak memanjang di kiri dan kanan pintu
tersebut.
“Ini … ada apa?” tanya
Brian tak mengerti.
“Silahkan masuk tuan
muda!” ucap pak satpam mempersilahkan.
Dengan perasaan
penasaran, merekapun menuruti apa yang satpam itu katakan. Perlahan, mereka
melangkah masuk ke dalam.
Saat kaki mereka
menginjak ke dalam rumah, semua pelayan yang berbaris pun membungkuk memberi
hormat sambil berucap," Selamat datang tuan muda. Selamat datang nona
Kania. Selama pengantin baru buat tuan muda dan nona Kania."
Setelah ucapan selamat
itu selesai mereka ucapkan. Mereka kembali berdiri tegak. Saat itu pula,
kelopak bunga turun dari atas bak hujan.
Sekali lagi, Kania
tersenyum haru dengan apa yang ia alami sekarang. Air mata tidak bisa ia tahan.
Dibalik deraian kelopak bunga, ia menyeka air mata bahagia sambil terus
menikmati guyuran kelopak bunga yang berbau harus ini.
Setelah guyuran
kelopak bunga berhenti, barulah pak Hadi dan bu Ninik terlihat. Mereka berjalan
beriringan mendekat ke arah Brian dan Kania.
“Selamat pengantin
baru tuan muda, nona Kania,” ucap keduanya serentak.
“Maafkan kami yang
hanya bisa menyambut pengantin baru dengan sambutan yang sangat sederhana, tuan
muda, nona Kania,” ucap pak Hadi.
“Ini bukan sambutan
yang sederhana, pak Hadi. Ini luar biasa,” ucap Kania penuh semangat dengan
nada sangat bahagia.
Brian yang berniat
ingin menegur para pekerjanya pun langsung membatalkan niat untuk bicara saat
mendengar nada bahagia dari ucapan Kania barusan. Niatnya, ia ingin marah
dengan sambutan para pekerja yang menurutnya sangat tidak perlu di lakukan.
Karena mengingat, ia dan Kania hanya menikah karena ingin mendapatkan status
saja. Bukan karena cinta. Tapi, semua itu ia batalkan. Ia tidak ingin membuat
kebahagiaan Kania menjadi rusak.
“Terima kasih banyak
nona Kania. Selanjutnya, nona Kania adalah tuan rumah di vila camar. Apapun
perintah nona Kania, adalah tangung jawab kami.”
Kania menoleh ke arah
Brian yang sedari tadi hanya diam saja. Ia ingin melihat ekspresi Brian saat
pekerjanya mengatakan kata-kata itu.
Merasa di lirik, Brian
tidak ingin diam.
“Kenapa melihat aku? Apa yang dia katakan itu benar,” ucap Brain santai.
Kania hanya tersenyum
melihat ekspresi datar yang Brian tunjukkan. Brian seperti laki-laki yang tidak
mau ikut campur urusan dia dihadapan para pembantu. Namun, sangat berisik jika
sedang bicara berdua saja.
“Apakah sambutannya
sudah selesai? Jika sudah, aku ingin segera ke kamar,” ucap Brian membuyarkan
perhatian semuanya.
“Sudah tuan muda.”
Semua berucap serentak.
“Jika sudah, kalian
juga bisa bubar dan kembali melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing.”
“Ba–baik tuan muda.”
Semua menjawab serentak, kemudian pamit pada Brian sebagai tanda hormat bawahan
kepada atasan.
Setelah para
pekerjanya bubar, hanya menyisakan bu Ninik dan pak Hadi yang masih berdiri
tegak bersama mereka. Brian pun bicara pada Kania. “Kamu juga bisa kembali ke
kamarmu.”
“Maaf tuan muda,
apakah aku boleh berjalan-jalan dulu?”
“Jalan-jalan ke mana?”
“Sekitar vila ini
saja. Aku sangat ingin menikmati suasana taman yang indah di vila Camar ini.
Bolehkah?” tanya Kania penuh harap.
“Terserah padamu saja.
Jika kamu ingin mengelilingi vila Camar ini puluhan kali juga, tidak ada yang
melarang. Asalkan kamu sanggup, kamu bisa lakukan itu sesuka hatimu.”
“Terima kasih banyak
tuan muda.” Kania berusaha bicara sambil tersenyum yang kelihatan sekali
terpaksa nya dari senyuman yang ia perlihatkan itu.
‘Ngizin sih ngizin.
Tapi, kata-katanya itu lho bikin kesal dan bikin naik tensi. Dasar laki-laki
yang susah di tebak dan sedikit gak jelas. Pingin banget aku jitak biar tuh
otak jadi bener. Barangkali gak dosa, karena pernikahan ini cuma sandiwara
saja,’ kata Kania dalam hati sambil menahan rasa kesal pada Brian.
“Kalo gak ikhlas gak
perlu ngucapin terima kasih,” kata Brian yang tahu apa yang Kania rasakan
sebenarnya.
"Eh … "
Kania merasa kaget dan tidak enak hati.
‘Semakin bikin kesal
aja nih tuan muda,’ kata Kania dalam hati sambil melotot.
“Jalan, Jo! Antar aku
ke kamar!” ucap Brian sambil menahan senyum melihat tingkah Kania.
“Baik tuan muda.”
Johan langsung
melakukan apa yang Brian katakan. Mendorong kursi roda milik Brian menjauh lift
untuk naik ke lantai dua.
"Uh … "
Kania terlihat kesal sambil terus menatap Brian dan Johan yang semakin lama
semakin bergerak meninggalkan mereka.
“Sabar nona Kania,
tuan muda memang seperti itu. Memang sedikit keras dan menyebalkan jika bicara.
Namun, tuan muda itu sebenarnya adalah laki-laki yang sangat baik dan lembut.”
Bu Ninik bicara setelah memastikan Brian masuk ke lift.
“Betul. Tuan muda juga
laki-laki yang sangat penyayang, nona Kania. Hanya saja, tuan muda sangat sulit
untuk menunjukkan sikapnya pada orang yang baru ia kenal.” Pak Hadi juga ikut
membela.
“Semoga saja, nona
Kania sabar dalam menghadapi sikap tuan muda. Dan tidak menyimpan dalam hati
apa yang tuan muda katakan pada nona,” kata Bu Ninik penuh harap.
“Tentu saja, bu Ninik.
Aku akan berusaha sabar.” Kania bicara sambil berusaha menarik senyum terindah
yang ia miliki.
“Oh ya, terima kasih
banyak atas sambutan dan ucapan tadi. Aku sangat bahagia,” kata Kania lagi.
“Sama-sama nona Kania.
Kami juga bahagia saat melihat nona Kania senang dengan apa yang kami lakukan.”
Pak Hadi dan bu Ninik bicara serentak.
“Wuah, kompak sekali.
Sepertinya, pak Hadi dan bu Ninik sehati.”
“Nona Kania bisa aja,”
kata pak Hadi senyum-senyum malu. Sedangkan bu Ninik, tersenyum merona dengan
kata-kata yang Kania ucapkan.
“Oh ya, sepertinya aku
ingin jalan-jalan sekarang, bu Ninik, pak Hadi.”
“Apakah nona perlu ibu
temani?”
“Tidak bu Ninik. Aku
jalan sendiri saja. Gak papa. Aku yakin gak akan tersesat.”
“Permisi,” ucap Kania sambil beranjak.
“Iya, nona Kania. Jika
butuh apa-apa, panggil pelayan saja.”
“Baik bu Ninik.”
Komentar
Posting Komentar