Episode 24 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 24 Perjodohan Membawa Bahagia
Mereka kembali ke vila setelah Kania kembali dari kamar mandi. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari Brian saat Kania kembali. Ia hanya diam sambil fokus dengan laptop di pangkuan seperti biasanya.
‘Laki-laki ini
benar-benar tidak bisa lepas dari laptop. Setiap waktu, setiap aku bertemu
dengannya, dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Laptop itu bagaikan dunia
yang ia punya. Apakah sebenarnya yang ia kerjakan dengan laptop ini?’ tanya
Kania dalam hati sambil memperhatikan Brian dengan seksama.
“Kenapa? Apa aku
benar-benar jelek sampai kamu menatapku seperti itu?” tanya Brian tanpa
mengubah pandangannya dari layar laptop sedikitpun.
Kata-kata itu tentu
saja membuat Kania menjadi sangat kaget dan salah tingkah. Bagaimana tidak? Ia
berani memperhatikan Brian dengan seksama barusan, karena mengira Brian tidak
akan perasan dengan apa yang ia lakukan. Tapi kenyataannya, malah berbanding
terbalik. Meskipun dia sedang sibuk, tapi ia begitu peka dengan keadaan
sekeliling.
Dengan cepat ia
memalingkan wajahnya ke arah lain. Sambil berusaha menenangkan hatinya, Kania
memikirkan alasan untuk menjawab apa yang Brian tanyakan barusan.
“Kenapa diam? Takut?”
tanya Brian lagi. Pertanyaan yang semakin menambah rasa deg-degan dalam hati
Kania.
“Ti–tidak. Tidak takut.
Siapa yang takut?” tanya Kania berusaha menahan rasa gugup.
“Lalu? Kenapa kamu
begitu gugup sekarang? Sampai-sampai, tangan kamu terlihat bergetar akibat
gugup.”
Mendengar kata-kata
itu, Kania bergegas menarik tangannya yang ia letakkan di atas pangkuan. Ia
sembunyikan tangan itu dengan melipatnya di dada.
“Aku … aku tidak
gugup. Kamu apa-apaan sih, tuan muda. Kenapa memperhatikan tanganku.” Kania
berucap sambil mengalihkan pandangannya dari melihat ke kaca mobil menjadi
melihat Brian.
Sontak, perubahan Kania
yang tiba-tiba, dan tidak menyadari kalau Brian sedang melihat ke arahnya,
membuat mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat. Hidung mereka
hampir bertemu satu sama lain dengan tatapan yang sama-sama menatap ke arah
lawan masing-masing.
Untuk beberapa detik
lamanya, mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat, sampai mobil
tiba-tiba berhenti dan suara Johan tiba-tiba merusak suasana. “Kita sudah
sampai tuan muda,” ucap Johan yang tidak tahu kalau tuan mudanya sedang
menikmati pemandangan indah di belakang.
Setelah menoleh, ia
baru tahu kalo dia seharusnya tidak berbicara barusan. “Ya Tuhan,” ucap Johan
dengan perasaan bersalah.
Sementara itu, Brian
dan Kania segera membuang pandangan mereka masing-masing secepat mungkin ke dua
sisi yang berbeda. Dengan perasaan gugup, Kania segera turun dari mobil itu,
lalu bergegas meninggalkan mobil dengan membawa jantung yang berdebar dua kali
lebih cepat dari yang biasanya.
“Tu–tuan muda.” Johan
memanggil Brian dengan perasaan berat saat melihat Kania yang sudah turun
duluan dari mobil.
“Kamu mau aku turun
sendiri?” tanya Brian dengan nada kesal. “Bantu aku turun!” katanya lagi.
“Ba–baik tuan muda,”
ucap Johan segera beranjak dari duduknya.
Sementara Brian di
bantu Johan dan pak sopir untuk turun dari mobil, Kania di hadang pak satpam
saat ingin masuk ke dalam rumah.
“Maaf nona Kania,
tidak diizinkan masuk ke dalam sekarang.”
“Lho, kenapa pak
satpam? Kenapa saya tidak boleh masuk? Apa ada masalah?” tanya Kania merasa
penasaran dengan tingkah pak satpam itu.
“Tidak ada masalah.
Hanya saja, nona Kania tidak diizinkan masuk duluan.”
“Lalu? Saya harus
apa?” Kania semakin kebingungan dengan ulah satpam penjaga vila Brian ini.
“Tunggu tuan muda
terlebih dahulu.”
“Ya Allah, kok nunggu
Brian? Maksudku, tuan muda. Kenapa aku harus nungguin dia?”
Brian dan Johan pun
datang. Ia juga merasa bingung dengan sikap satpamnya. Setahu dia, dirinya
tidak ada mengatakan apapun pada satpam sebelumnya. Apalagi, melarang Kania
masuk ke dalam. Benaknya pun di penuhi tanda tanya sekarang. Siapa yang berani
memerintah satpam tersebut, sehingga satpam berani melarang orangnya masuk ke
dalam.
“Ada apa ini?” tanya
Brian dengan nada tinggi karena kesal sekaligus penasaran.
“Tuan muda, maaf.”
Satpam itu bicara sambil menundukkan tubuhnya memberi hormat sekaligus takut
dengan nada bicara Brian barusan.
“Siapa yang menyuruh
kamu melarang dia yang ingin masuk ke dalam? Apa kamu lupa? Hari ini dia adalah
istriku. Istri tuan muda kalian,” kata Brian dengan penuh penekanan.
“Lagipula, tanpa
perintah langsung dari aku, tidak ada yang berani melakukan apapun terhadap
orang-orang ku. Apa kamu sudah bosan kerja di sini?” tanya Brian lagi.
Untuk pertama kalinya
sejak dua tahun terakhir, Kania merasakan dirinya ada yang membela. Selama ini,
ia selalu berjuang membela dirinya sendiri setelah orang-orang yang
menyayanginya pergi. Saat itulah, perasaan haru tidak bisa ia tahan lagi. Air
mata mengalir perlahan tanpa bisa ia bendung.
Johan yang melihat
Kania menangis, segera menegur Kania dengan perasaan bersalah dan prihatin.
“Nona Kania kenapa? Kenapa nona menangis?” tanya Johan dengan penuh perasaan.
Sontak, Brian langsung
melihat Kania yang berada di sampingnya saat ini. Sedangkan Kania, dengan cepat
menyeka air mata yang mengalir tanpa bisa ia tahan, dan tanpa ia sadari air
mata itu mengalir.
“Hah, siapa yang
menangis? Aku tidak menangis. Kamu bisa aja, Jo. Siapa coba yang nangis?”
“Lalu? Barusan itu
apa?” tanya Brian terdengar cuek namun perhatian.
“Iya nona, barusan itu
air apa kalo bukan air mata? Katakan nona, kenapa nona menangis?” Johan berucap
tak kalah perhatian dari Brian.
“Oh itu … itu air …
itu air mata tapi bukan karena aku nangis.”
“Lalu?” Brian bertanya
singkat.
“Itu … itu air mata
karena aku kelilipan. Ya, aku kelilipan. Barusan anginnya terasa sangat
kencang, entah dari mana datangnya abuk sehingga mata ini terasa perih,” ucap
Kania sebisa mungkin memberikan alasan, yang terdengar sangat dibuat-buat dan
terasa sangat kaku.
“Oh, angin yang sangat
kuat sehingga aku hampir saja terbang,” ucap Brain dengan nada mengejek Kania.
Sedangkan Johan, ia memegang perut untuk menahan tawa agar tidak meledak.
Kania tidak bisa
menjawab kata-kata ejekan itu. Ia hanya mampu memandang Brian dengan kesal
sambil memelototkan matanya.
‘Baru saja bikin aku terharu. Eh, kini sakitnya kambuh lagi. Bikin kesel aja,’
ucap Kania dalam hati.
Komentar
Posting Komentar