Episode 19 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 19 Perjodohan Membawa Bahagia
“Ya, ini tamanku. Aku yang merawatnya sejak pertama di tanami hingga saat ini.”
“Maaf, aku pikir ini
taman Brian. Maafkan aku yang sudah salah berjalan.” Kania berucap dengan nada
penuh sesal.
“Tunggu! Kamu bilang
apa barusan? Brian?”
Kania menganggukkan
kepala. Menjawab pertanyaan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Kania artikan apa
maksud dari tatapan tersebut.
“Kamu siapanya tuan
muda?” tanya laki-laki itu penuh selidik.
"Aku? Tunggu!
Sebenarnya, aku ini salah jalan atau … "
Belum sempat Kania
menyelesaikan kata-katanya, sebuah suara yang terdengar semakin mendekat,
mengalihkan perhatian kedua orang yang sedang saling menyimpan tanda tanya di
hati masing-masing. Suara itu tak lain adalah suara bu Ninik yang datang
mencari Kania.
“Nona Kania, ternyata
di sini. Ibu sudah mencari sejak lima menit yang lalu, Nona.”
“Bu Ninik mencari aku?
Untuk apa?” tanya Kania mengalihkan perhatiannya.
“Tunggu! Nona? Kamu …
nona Kania? Calon istri tuan muda?” Ada sedikit wajah tak percaya yang
laki-laki itu perlihatkan saat bicara pada Kania sekarang.
“Iya mas Ikhsan. Ini
nona Kania, calon istri tuan muda kita.”
“Ma–maafkan saya atas
kelancangan barusan nona Kania. Saya tidak tahu kalau nona ini adalah nona
Kania, calon istri tuan muda.” Laki-laki yang bernama Ikhsan itupun berucap
dengan penuh sesal pada Kania.
"Gak papa. Bukan
salah kamu kok … "
“Ikhsan nona. Nama
saya Ikhsan, tukang kebun di vila tuan muda ini.”
“Oh, Ikhsan. Salam
kenal,” ucap Kania sambil mengulurkan tangannya.
“Maaf nona Kania. Saya
tidak berani menyambut uluran tangan dari nona. Mengingat … status kita sangat
jauh berbeda.”
“Lho, kenapa harus
berkata seperti itu? Bukankah kita manusia ini sama saja. Tidak ada yang tinggi
dan tidak ada yang rendah statusnya di mata sang maha pencipta.” Kania berucap
dengan nada dan wajah serius.
“Tetap saja, saya dan
nona itu berbeda. Maaf nona.”
“Maafkan ibu yang
lancang memotong obrolan nona Kania. Tapi, ibu mencari nona atas perintah tuan
muda,” ucap bu Ninik tidak ingin berlama-lama mendengarkan Kania yang sedang
berdebat dengan Ikhsan.
“Oh iya bu, maaf. Aku
mengabaikan bu Ninik barusan. Ada apa? Apa yang tuan muda inginkan dari aku?
Maksudku … apa yang dia katakan untuk bu Ninik sampaikan padaku?”
“Tuan muda ingin nona
Kania kembali ke kamar untuk istirahat. Tuan muda juga sudah menyiapkan kamar
baru untuk nona Kania.”
“Oh, baiklah.”
“Mm … Ikhsan, aku harus kembali sekarang. Apakah … apakah aku masih boleh
datang ke taman ini lain waktu?”
“Tentu saja boleh
nona. Tidak ada larangan untuk nona jika ingin datang. Kapan saja nona mau
datang, terserah nona.”
“Baiklah. Terima kasih
banyak. Aku akan datang lagi nanti,” ucap Kania sambil tersenyum.
Ikhsan pun membalas
senyum Kania dengan senyum manis. Bu Ninik juga terlihat senang dengan sikap
manis dan lembut yang ditunjukkan oleh calon nona mudanya ini.
‘Kelihatannya, gadis
ini adalah pilihan terbaik untuk tuan muda. Dia manis, lembut, dan juga berbudi
baik. Semoga saja, perilakunya tidak berubah setelah menjadi nona muda,’ kata
bu Ninik dalam dengan penuh harap.
‘Calon nona muda yang
sangat baik dan manis,’ ucap Ikhsan ikut memuji dalam hati.
Kelihatannya, tidak
sulit untuk Kania mencuri perhatian dan memberikan kesan baik pada semua orang
yang tinggal di vila ini. Karena sikap baik dan lembutnya itu membuat ia mudah
bergaul dan disukai oleh semua orang.
Bu Ninik membawa Kania
ke kamar lain di lantai dua. Kamar yang lumayan besar dan sangat indah dengan
dekor serba pink. Sayangnya, Kania tidak terlalu suka dengan warna itu,
sehingga dia merasa sedikit tidak nyaman saat berada di kamar yang menurut bu
Ninik sangat indah. Karena biasanya, para gadis itu sangat menyukai warna pink
dengan karakter hello kitty yang imut dan lucu.
Melihat gerak-gerik
yang Kania tunjukkan. Bu Ninik segera merasa ada yang tidak beres dengan Kania
saat ini. Ia adalah wanita yang peka akan perasaan wanita lain.
Bu Ninik pun berinisiatif
untuk langsung bertanya pada Kania tentang apa yang Kania rasakan saat ini.
“Nona Kania kenapa? Apa nona tidak suka dengan suasana kamar ini?”
“Eh … ti–tidak bu. Aku
… su–ka kok. Ya, aku suka,” ucap Kania berusaha memperlihatkan
senyum tidak enak yang pastinya terlihat sangat kaku di mata bu Ninik yang
sangat peka.
“Nona Kania tidak
perlu memaksakan apa yang nona rasa. Jika memang merasa tidak suka dengan
suasana kamar ini, maka katakan saja. Ibu akan minta pelayan untuk
menggantikannya lagi.”
“Gak papa bu Ninik.
Aku suka kok dengan suasana kamar ini. Hanya saja … aku kurang suka dengan
warna pink dan karakter hello kitty ini. Aku lebih suka dengan warna hijau dan
karakter frog.” Setelah berucap, Kania nyengir kuda sambil memperlihatkan gigi
putihnya yang indah.
“Oh. Nona Kania
ternyata gadis yang unik. Baiklah, nanti akan ibu usahakan merubah suasana
kamar ini dengan warna dan karakter kesukaan nona.”
“Tidak perlu, bu
Ninik. Jangan merepotkan bu Ninik dengan apa yang aku suka. Kamar ini sudah
bagus, jadi … tidak perlu di ubah hanya karena aku tidak suka dengan warna dan
karakternya saja.”
Bu Ninik hanya senyum
manis menangapi apa yang Kania katakan. Dalam hati, bu Ninik terus memuji sifat
Kania yang menurutnya sangat lembut dan baik ini.
“Baiklah kalau begitu,
nona Kania silahkan istirahat! Ibu pamit dulu.”
“Iya bu Ninik. Terima
kasih banyak.”
“Sama-sama, nona
Kania.”
“Jika butuh sesuatu, nona bisa panggilkan ibu atau pelayan yang lainnya. Mereka
semua sudah tahu siapa nona Kania sekarang.”
“Iya, Bu.”
Sepeninggalan bu
Ninik, Kania langsung berbaring di atas kasur lebar yang ada di kamar ini.
Rasanya, sungguh empuk kasur itu saat ia baringkan tubuhnya di atas kasur
tersebut.
Namun, tiba-tiba, ia
teringat dengan koper yang ia bawa bersamanya datang ke sini. Kania langsung
bangun dari baringnya, lalu melihat sekeliling kamar tersebut.
Rasa hati ingin
bertanya, tapi ia tidak enak untuk melakukan hal itu. Kania pun berinisiatif
untuk mencari sendiri di mana keberadaan koper tersebut.
“Jika aku dipindahkan
ke kamar ini, aku yakin, bu Ninik juga pasti memindahkan barang yang aku bawa
ke sini.” Kania berkata pada dirinya sendiri.
“Aku yakin koper itu
ada di kamar ini. Tapi … di mana koper itu ya? Mana aku belum membuka koper itu
sama sekali. Aku tidak tahu apa isi dari koper yang mama berikan.”
“Aduh … bagaimana jika
isi dari koper itu membuat masalah bagi aku? Aduh gawat lah.”
Komentar
Posting Komentar