Episode 12 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 12 Perjodohan Membawa Bahagia
“Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian tanpa harus menggosib, bukan?”
Satu kata itu mampu
membungkam semua mulut yang sedang berbisik-bisik di sana. Dengan cepat, mereka
melanjutkan pekerjaan mereka karena teguran pelan dari wanita paruh baya yang
bernama Ninik itu. Sekarang, Kania bisa menyimpulkan kalau pangkat wanita yang
bernama Ninik ini lebih tinggi dari para pekerja yang lainnya.
“Maaf nona, bisakah
saya tahu siapa nama nona?” tanya bu Ninik ramah setelah ia mengusir para
pembantu yang bermulut ember barusan.
“Saya … nama saya
Kania, Bu.”
“Nona Kania. Nama yang
bagus.”
“Saya Ninik, Non. Nona bisa panggil saya dengan panggilan bu Ninik. Sama
seperti yang lainnya memanggil saya.”
“Oh … oh iy–iya.”
Entah kenapa, Kania
semakin gugup saja sekarang. Entah karena keramahan dari bu Nini ini, atau …
entah karena ia sedang memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.
Karena hati Kania
mendadak takut saat ini. Ia takut kalau dirinya di tolak oleh Brian. Apakah
mungkin, dua orang yang sudah baik padanya akan berubah menjadi seperti
orang-orang yang telah bertemu dengannya sebelum ini?
‘Ya Allah, kuatkan
hatiku yang sedang berada di tengah gejolak ketakutan ini. Tolong aku,’ kata
Kania dalam hati.
Sementara itu, pak
Hadi telah sampai ke kamar Brian. Ia langung mengetuk pintu kamar tersebut.
“Siapa?” tanya
seseorang dari dalam kamar itu.
“Saya pak Hadi tuan
muda. Bisakah saya masuk sekarang?”
“Oh, silahkan. Pintu
tidak saya kunci.”
“Baik tuan muda,” ucap
pak Hadi sambil membuka pintu kamar tersebut.
Saat pintu terbuka, si
pemilik kamar pun terlihat. Brian Aditama sedang duduk di sofa sambil sibuk
dengan laptop di pangkuannya. Sedangkan di samping Brian, ada seorang laki-laki
yang juga sedang fokus dengan laptop di pangkuannya. Dia tak lain adalah teman
sekaligus asisten pribadi Brian yang selama ini selalu berada di belakang
Brian.
Johan Adipati. Tangan
kanan yang paling Brian percaya. Sahabat masa kecil yang sangat memahami
bagaimana sifat Brian selama ini. Bagaimana tidak? Mereka itu besar secara
bersama-sama. Karena papa Johan dan papa Brian juga berteman baik.
Tapi sayangnya,
derajat mereka tidak sama. Johan terlahir dari keluarga yang sangat sederhana.
Sedangkan Brian, terlahir dari keluarga kaya raya. Entah bagaimana papa mereka
bisa berteman, tapi perbedaan itu tidak menjadi masalah buat pertemanan yang
mereka jalin hingga berpindah generasi.
Untuk sesaat, pak Hadi
terdiam karena tidak tahu harus bicara seperti apa untuk menyampaikan informasi
yang tentunya akan merusak mood seorang Brian. Apalagi saat ia sedang fokus
seperti saat ini. Itu akan lebih bahaya lagi jika diganggu dengan hal-hal yang
menurutnya tidaklah penting.
“Ada apa, pak Hadi?
Kenapa bapak malah diam saja setelah masuk ke dalam?” tanya Brian tanpa
mengalihkan pandangan dari apa yang ia lihat sebelumnya.
"Itu … anu …
" Pak Hadi terlihat sangat bingung sambil garuk-garuk kepala untung
mencari kata-kata yang bagus agar Brian tidak kesal.
“Katakan saja, pak
Hadi!”
“Apa … apa tuan muda
sedang sibuk sekarang?”
“Lumayan. Kenapa? Ada
yang ingin pak Hadi sampaikan padaku? Sampaikan saja! Aku bisa mendengarkan
dengan baik walaupun aku sedang sibuk.”
“Itu … tuan muda. Ada
tamu di bawah. Tamu yang tuan David sediakan untuk tuan muda lihat.”
Seketika, Brian
menghentikan apa yang ia kerjakan. Ia mengangkat kepala, lalu menatap tajam pak
Hadi yang sedang tertunduk takut.
“Katakan saja kalau
itu adalah perempuan yang papa sediakan untuk aku nikahi. Orang tua itu tidak
pernah bosan mencarikan aku gadis cantik untuk ia jadikan menantu.”
“Apa tuan muda akan
melakukan cara yang sama untuk mengusir perempuan yang datang kali ini?” tanya
Johan ikut menghentikan pekerjaannya.
“Sepertinya begitu.
Atau, aku mungkin akan melakukan cara yang lebih menarik lagi untuk mengusir
perempuan itu dari vila ini.”
“Aku heran, mengapa
para wanita itu masih bersedia datang walaupun mereka sudah tahu kalau orang
yang akan menikahi mereka itu laki-laki cacat. Lumpuh total. Tidak akan bisa
sembuh, tidak bisa memberikan mereka keturunan dan kebahagiaan. Apa itu tidak
cukup sebagai bahan pertimbangan bagi para wanita itu untuk memikirkan apa yang
papa tawarkan?” tanya Brian lagi dengan nada kesal.
“Alasan mereka cuma
satu tuan muda. Yaitu, kekayaan. Tuan muda adalah pewaris perusahaan ternama di
kota ini. Tentunya, itu sudah cukup untuk membuat mereka gelap mata. Tidak
memikirkan hal lain selain harta yang tuan muda miliki. Tidak perlu bahagia
bersama tuan muda menjalin rumah tangga. Namun, cukup saja menikah dengan tuan
muda dan menikmati kekayaan yang tuan muda miliki. Rasa, tidak ayal jika mereka
begitu bersemangat menerima tawaran papa tuan muda, walau sudah tahu, apa kekurangan
tuan muda,” kata Johan bicara panjang lebar kali tinggi menguraikan apa yang
ada dalam pikirannya.
“Kamu benar sekali,
Jo. Hal itulah yang membuat aku muak dan tidak ingin menikah dengan semua
perempuan yang papa carikan untukku. Mereka hanya datang karena harta, bukan
karena niat tulus dari hati untuk menjadi pendamping selamanya.”
“Mereka akan
menggunakan kecantikan mereka untuk memikat aku. Berdandan dengan dandanan yang
luar biasa noraknya agar aku terpesona. Tapi, mata mereka tidak bisa berbohong,
kalau sebenarnya mereka begitu risih saat melihat aku yang sedang duduk di
kursi roda,” kata Brian lagi dengan tatapan lurus ke depan.
“Maaf sebelumnya tuan
muda, saya memotong perkataan tuan muda dengan mas Johan. Saya cuma mau bilang,
untuk perempuan yang datang kali ini sangat jauh berbeda dari yang biasanya.
Dia sama sekali tidak mirip dengan perempuan lain yang sebelumnya pernah datang
ke vila ini untuk menikah dengan tuan muda,” kata pak Hadi menjelaskan dengan
hati-hati.
“Berbeda? Apa maksud
pak Hadi?” tanya Brian penasaran.
“Sangat sulit untuk
saya jelaskan pada tuan muda. Yang jelas, perempuan kali ini berbeda dari yang
telah sudah.”
“Johan, berikan aku
laptop untuk melihat rekaman cctv ruang tamu!”
“Baik tuan muda,” ucap
Johan sambil bangun dari duduknya. Lalu berjalan menuju meja samping jendela
untuk mengambil laptop yang di mana terdapat layar yang memperlihatkan seluruh
isi vila Camar dengan jelas.
“Ini tuan muda,” kata
Johan sambil menyerahkan laptop tersebut pada Brian.
Brian menerima laptop tersebut,
di mana layar laptop itu hanya menampilkan rekaman cctv yang berada di ruang
tamu vila Camar miliknya.
Mata Brian fokus pada apa yang ditampilkan di layar laptop tersebut. Ia seakan
tak percaya dengan apa yang matanya lihat.
“Pak Hadi, ke sini sebentar!”
“Baik tuan muda,” ucap
pak Hadi langsung mengikuti apa yang Brian katakan.
Komentar
Posting Komentar