Episode 11 Perjodohan Membawa Bahagia
Episode 11 Perjodohan Membawa Bahagia
Kania sampai di gerbang masuk vila. Ia bertemu satpam yang menjaga gerbang vila tersebut.
“Maaf mbak, cari siapa
ya?” tanya satpam itu sedikit merasa risih dengan penampilan Kania yang
terlihat sangat kumal dan kucel.
“Aku ingin bertemu
dengan … Brian.” Kania berucap agar grogi karena ia yakin, dengan penampilannya
yang lebih buruk dari pembantu ini, mana mungkin ada yang bersedia menerimanya
masuk. Jangankan Brian yang jelas-jelas tuan rumah, pak satpam saja terlihat
risih.
Ia sangat salut pada
usaha keluarga harmonis itu untuk mempermalukan dirinya sampai ke titik ini.
Semua perhiasan diambil. Alat bedak dan segala keperluan kecantikan, tidak
diberikan. Baju tidak di perbolehkan memakai baju bagus melainkan baju yang
paling lusuh yang ia miliki.
“Apa? Mbak ingin
bertemu dengan tuan muda kami? Yang benar saja mbak. Mbak tidak sedang bermimpi
kan mbak?”
Kania tidak marah
dengan pertanyaan itu. Karena memang seharusnya ia mendapatkan pertanyaan
seperti itu dari pak satpam. Ya kali bertemu dengan Brian dandan gini amat.
Lebih mirip gelandangan dari pada calon istri.
“Saya tidak sedang
bermimpi pak satpam. Saya ingin bertemu dengan tuan muda kalian.”
“Mbak jangan banyak
tingkah deh. Lebih baik mbak pergi sekarang juga, sebelum saya kehilangan
kesabaran dan mengusir mbak dari sini.”
“Pak satpam. Biarkan
saya masuk untuk bicara dengan tuan muda kalian terlebih dulu. Seterusnya, kita
lihat saja nanti apa yang akan terjadi kedepannya.”
“Eh! mbak jangan
ngeyel ya. Jangan bikin kesabaran saya yang sedikit ini habis, mbak!” Satpam
itu bicara dengan nada tinggi.
Kebetulan yang sangat
luar biasa. Saat itu, pak Hadi yang menjabat sebagai orang kepercayaan alias
tangan kanan Davidson mendengar kegaduhan yang berasal dari gerbang masuk vila.
Ia merasa tertarik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Pak satpam, ada apa
ini? Kenapa ribut-ribut?” tanya pak Hadi sambil berjalan mendekat.
“Pak Hadi. Ini … mbak
ini ingin masuk ke dalam untuk bertemu dengan tuan muda,” ucap satpam itu
menjelaskan dengan hormat.
Pak Hadi mengalihkan
pandangannya dari satpam tersebut untuk melihat Kania. Ia perhatikan Kania dari
ujung kaki sampai atas.
“Siapa kamu?” tanya
pak Hadi penasaran.
“Saya Kania. Anak dari
Burhan.” Kania menjelaskan singkat namun pak Hadi bisa paham apa maksud ke
datangan gadis yang mengaku Kania ini.
“Kamu Kania?” tanya
pak Hadi memastikan sekali lagi. Karena dia dibuat tidak percaya dengan apa
yang matanya lihat sekarang.
“Ya, pak. Saya Kania.”
“Apa kamu tidak
bohong, kamu ini Kania anak pak Burhan, Nona?” tanya pak Hadi sekali lagi untuk
meyakinkan dirinya atas apa yang Kania katakan.
“Tentu saja saya tidak
bohong, Pak. Saya Kania, anak Burhan Hermansyah. Jika bapak tidak percaya, atau
merasa curiga dengan saya, bapak tidak perlu menerima saya masuk. Cukup saja
pertemukan saya dengan tuan muda kalian di sini. Setelah itu, saya bisa pergi
jika kalian sudah mempertemukan saya dengan tuan muda kalian,” kata Kania tidak
ingin berdebat.
Ia tidak ingin
bersusah payah, membuang tenaga untuk meyakinkan mereka semua kalau dirinya
adalah Kania, anak Burhan Hermansyah yang dikirim oleh papanya untuk menikah
dengan tuan muda pewaris tunggal keluarga terkaya. Karena apa? Ia merasa tidak
ada gunanya ia bersikeras melakukan semua itu. Toh yang diuntungkan nantinya
juga bukan dia. Melainkan, keluarga harmonis yang mengirimnya dengan dandan
buruk rupa seperti ini.
Lagipula, Kania tahu
kalau Brian memang tidak ingin menikah. Hanya terpaksa saja menerima permintaan
papanya untuk menikah. Sama halnya dengan dia. Menerima semua ini dengan
terpaksa.
Jika ia sudah bertemu
dengan Brian walau hanya sekejap, maka ia bisa bicara dengan Brian dan mengajak
Brian berkerja sama. Yah, itupun kalau Brian setuju untuk bekerja sama
dengannya.
Kania juga tidak ingin
ambil pusing soal itu. Ia tidak ingin memikirkan apa hasilnya nanti setelah
bicara. Yang penting, usaha saja dulu.
Setelah lama terdiam
sambil memperhatikan Kania, pak Hadi pun tersadar dari apa yang ia pikirkan.
“Baiklah nona. Ayo ikut saya!” kata pak Hadi sambil beranjak dari tempatnya.
Kania kaget dengan apa
yang pak Hadi katakan. Ia seakan tidak bisa mempercayai kata-kata yang ia
dengar barusan. Orang kanan itu meminta ia masuk ke dalam? Yang benar saja.
“Maaf pak Hadi,
bagaimana jika dia bohong?” tanya pak satpam yang kelihatannya keberatan dengan
keputusan yang pak Hadi buat.
“Tidak masalah. Lalu,
bagaimana jika dia benar-benar putri pak Burhan yang diutus ke sini? Apa pak
satpam mau tangung jawab?” tanya pak Hadi balik.
Pertanyaan itu membuat
nyali satpam penjaga gerbang vila menciut. Pak satpam itu menggelengkan
kepalanya sambil tertunduk.
“Ya sudah. Ayo nona,
ikut saya!”
Kania pun mengikuti
pak Hadi dari belakang. Mereka melewati jalan yang lumayan panjang bagi Kania,
barulah sampai ke depan pintu masuk vila tersebut.
Pak Hadi membuka pintu
besar yang terlihat kokoh dan megah. Kania sedikit takjub melihat bagian dalam
vila tersebut. Ada beberapa pembantu yang memakai seragam sedang berkeliaran.
“Silahkan masuk nona.”
Pak Hadi mempersilahkan Kania masuk setelah ia membuka pintu.
"Te–terima kasih
banyak, Pak … "
“Panggil saya pak
Hadi. Semua yang tinggal di sini memanggil saya dengan sebutan itu.”
“Baik, pak Hadi.
Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Nona
jangan sungkan sama saya. Karena saya adalah orang kepercayaan tuan David, papa
tuan muda Brian.”
“Oh ya, nona bisa tunggu di sini sebentar, saya akan sampaikan prihal
kedatangan nona pada tuan muda.”
“Ba–baik, pak Hadi.”
Kania sedikit gugup karena ia diperhatikan oleh para pelayan yang sedang berada
di ruangan tamu vila tersebut.
Saat pak Hadi baru saja
berjalan beberapa langkah menuju tangga, seorang perempuan yang umurnya sekitar
lima puluh tahun menghentikan langkah pak Hadi dengan kata-katanya. “Siapa dia,
pak Hadi?” tanya perempuan paruh baya dengan pakaian yang sama persis dengan
pembantu yang lainnya.
“Bu Ninik. Dia adalah
tamu tuan muda. Tolong temani dia sebentar selama saya pergi bertemu tuan muda
ke atas ya.”
“Oh, dia tamu tuan
muda. Saya pikir dia bagian dari kami yang baru di datangkan.”
“Tidak. Dia tamu tuan
muda. Saya ke atas dulu. Tolong temani dia sampai saya datang.”
“Iya. Baiklah,” kata
perempuan paruh baya yang bernama Ninik tersebut.
Setelah pak Hadi
beranjak melanjutkan langkahnya, bu Ninik pun ikut beranjak menuju Kania yang
sedang duduk dengan perasaan campur aduk. Karena sejak pertama menginjakkan
kaki masuk ke vila ini, ia terus saja mendapat tatapan aneh dari semua orang
yang melihatnya.
Di tambah
bisikan-bisikan yang terdengar sangat jelas di telinganya dari para pekerja
yang berada di dalam ruangan ini. Hal itu menambah perasaan tidak enak di hati
Kania. Ya walaupun ia sudah sering mendapatkan sesuatu yang lebih menyakitkan
di rumahnya. Tapi itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda.
Komentar
Posting Komentar